begini cara muslim di amerika mendekati Allah di bulan Ramadan

Ramadan merupakan bulan kesembilan dan sekaligus tersuci di kalender Islam, waktu di mana tingkat spiritual bagi banyak jemaah Muslim tumbuh dan bertambah. Setelah bertahun-tahun berada jauh dari keluarganya, Fadumo Osman berharap Ramadan di tahun 2020 ini akan menjadi tahun di mana ia akhirnya dapat berbuka puasa bersama keluarganya.

Anak tertua dari lima bersaudara, lulusan New York University yang baru berusia 24 tahun ini, pulang ke kampung rumahnya di Fridley dan bertemu kembali dengan keluarganya sejak bulan Januari kemarin. Namun ketika bulan suci Ramadan semakin dekat, pandemi COVID-19 mengubah keadaan yang sebelumnya normal β€”bercengkerama dengan teman, pergi ke masjid dan salat berjemaah, berbuka puasa bersamaβ€” menjadi tidak sebaliknya.

β–Έ “Ada di dalam pendidikan (Islam) kami bahwa melalui cobaan, seorang Muslim harus mengambil lebih banyak pelajaran dan berusaha lebih keras agar menjadi lebih dekat dengan Allah,” kata Fadumo.

Fadumo Osman

Dari fajar hingga matahari terbenam, umat Islam tidak diperbolehkan melakukan perbuatan yang akan membatalkan puasa mereka, seperti makan dan minum. Banyak juga bagian dari kita yang meluangkan waktu untuk beribadah, seperti membaca al-Quran dan memperdalam hubungan kita dengan Allah.

Setelah berpuasa sepanjang hari, mengingat mereka yang kurang beruntung, dan merefleksi diri sendiri, banyak keluarga dan teman-teman biasanya akan berkumpul bersama ketika matahari terbenam, berbuka puasa bersama dan berbagi kebahagiaan. Tidak lupa juga masjid-masjid yang biasanya selalu penuh di malam hari.

Hampir semua itu berubah di bulan Ramadan tahun ini dikarenakan COVID-19. Kegembiraan bulan Ramadan kini terpengaruhi oleh penderitaan banyak orang di seluruh dunia. Dikarenakan pandemi ini dapat menyebar dengan mudah pada banyak orang, pertemuan besar seperti halnya salat berjamaah tidak dianjurkan oleh pemerintah.

Namun tetap saja, masyarakat Muslim di Minnesota berharap untuk membuat bulan Ramadan ini seriang dan semeriah mungkin, dan salah satunya adalah dengan memvitalkan hubungan sosial sesama Muslim dengan metode virtual. Untungnya, Fadumo merupakan seorang programmer komputer, dan ia ingin mengambil bagian untuk beramal di tengah-tengah kesulitan ini.

Tapi sebelum itu, mari kita simak bagaimana situasi kalangan Muslim di Amerika Serikat.

Imam Makram El-Amin

laporan dari imam makram el-amin.

Di Minneapolis, Amerika Serikat, ada masjid besar yang dikenal dengan nama An-Nur, dan salah satu imam ternama di sana ialah Imam Makram El-Amin. Menurutnya, Ramadan harusnya menjadi bulan di mana komunitas Islam dapat tumbuh secara sosial dan spiritual.

β–Έ “Ini cukup menantang,” kata Imam El-Amin. “Tidak diperbolehkannya terjadi interaksi antara sesama manusia secara langsung cukup menantang.”

Di samping kemajuan yang telah islamweb.site laporkan di artikel seblumnya, Imam El-Amin tetap melihat adanya tingkat kegelisahan di sebagian anggota masyarakat yang mungkin mengalami kesulitan β€”berada jauh dari masjid selama bulan Ramadan di tahun ini. Maka dari itu, untuk dan membantu mempertahankan iman masyarakat Muslim dan menjaga tingkat spiritual mereka, Imam El-Amin telah meluncurkan beberapa inisiatif yang patut kita syukuri.

Salah satunya ia lakukan di luar masjid. Imam El-Amin memanfaatkan waktu luangnya untuk menyebarkan Islam di Departemen Kepolisian Minneapolis, di mana ia menemukan dirinya menghibur petugas dan masyarakat yang tetap bekerja menanggapi situasi COVID-19 β€”terlepas dari apa pun agama mereka. Ada petugas polisi, pekerja toko kelontong, hingga apoteker yang sudah curhat dengan sang imam, dan berbagi keprihatinan mengenai kesehatan masyarakat di lingkungan mereka.

β–Έ “Pada umumnya mereka merupakan orang-orang yang berdedikasi di profesinya masing-masing,” kata nya, “dan mereka ini adalah orang-orang yang benar-benar peduli sesama dan telah berkorban demi orang lain.”

Ustadz Asad Zaman

laporan dari ustadz asad zaman.

Ustaz Asad Zaman selain sebagai imam ternama, merupakan juga direktur eksekutif Muslim American Society of Minnesota. Beliau biasanya melakukan perjalanan di berbagai kota untuk memberikan ceramah dan khotbah, apalagi di bulan Ramadan. Namun dikarenakan COVID-19, Ustaz Asad Zaman kini harus memberikan tausiahnya melalui online.

Namun hebatnya, Muslim American Society of Minnesota dan banyak organisasi Muslim lainnya telah bermitra untuk menyediakan pemrograman virtual islami sepanjang bulan Ramadan. Hebatnya lagi, Ustaz Zaman melaporkan bahwa peserta yang telah menghadiri tausiah onlinenya ternyata lebih banyak daripada sesi ceramahnya yang biasanya diadakan secara langsung.

Dan dikarenakan ‘pengajian online’ ini dilaksanakan di rumah masing-masing, membuat semua orang yang mengikutinya dapat menyediakan lebih banyak waktu bersama keluarga masing-masing, yang mana adalah salah satu bagian terpenting dari bulan Ramadan itu sendiri.

β–Έ “Dalam beberapa hari terakhir, saya telah bertemu dan berbicara dengan lebih banyak komunitas, selagi juga memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga saya sendiri … lebih banyak daripada yang saya miliki sepanjang tahun terakhir,” jelas Ustadz Zaman sambil tertawa.

Mohamud Awil Mohamed

laporan dari mohamud awil mohamed … dan fadumo osman.

Mahasiswa selalu berada di bawah tekanan luar biasa menjelang akhir semester, ditambah lagi dengan pandemi global COVID-19 dan berpuasa selama hampir 16 jam setiap harinya. Hampir semua mahasiswa harus beradaptasi dengan dunia yang diinfeksi oleh virus corona. Hal ini sebagai alasan utama, bersama dengan Fadumo Osman, Mohamud menciptakan sebuah aplikasi web yang disebut Remote Iftar.

Begini cerita lebih lengkapnya..,..

Sebelum Gubernur Minnesota memerintahkan masyarakat untuk #dirumahsaja seperti yang bagaimana diperlakukan di Indonesia, keseharian Mohamud banyak dihabiskan di kampus; banyak mahasiswa-mahasiswa yang bertemu dengannya dan bahkan mengambil bagian dalam kegiatan khusus kampus di mana Mohamed memberikan konseling bertema agama.

β–Έ “Universitas adalah tempat yang penuh stress,” kata Mohamud. “tapi kami memanfaatkan iman kami untuk menghadapi kesulitan.”

Sejak penutupan universitas dan seluruh mahasiswa diliburkan, Mohamud kini melakukan program konseling agamanya melalui portal online. Sejak hari Selasa sore β€”beberapa hari sebelum Ramadanβ€” ia berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan yang berfokus pada ajaran agama melalui aplikasi konferensi video bernama Zoom. Ia juga telah menjadwalkan hari Sabtu sebagai hari diskusi dan tanya jawab bersama anggota-anggota konferensi online tersebut.

Sebagai lulusan perguruan tinggi, Mohamud mungkin mudah dianggap sebagai tokoh yang terlampau muda apabila dibandingkan dengan para ustaz atau pun para guru dan profesor di universitas pada umumnya. Namun, ia tetap tanpa ragu-ragu menggunakan reliabilitasnya untuk membangun hubungan dengan mahasiswa dan mahasiswi lain yang memandangnya sebagai teman.

Sebelum konsep social distancing diterapkan, Mohamud bangga akan dirinya yang sudah dikenal sebagai pedoman bagi mereka yang membutuhkan. Namun sejak tidak diperbolehkannya interaksi sosial secara langsung, Mohamud pun menemukan dinding yang tinggi, menyadari keterbatasannya sedang diuji.

Tidak menyerah, ia masih berharap agar dapat memberikan bimbingan agama bagi mereka yang membutuhkan di luang lingkup sosialnya, khususnya setelah aturan untuk #dirumahsaja telah diberlakukan.

β–Έ “I have a network of people that I confide in,” kata Mohamud. β€œNiat saya adalah menumbuhkan komunitas sosial dengan menanam benih persahabatan dan kekeluargaan.”

Nah, ketika Fadumo, seorang programmer komputer, mengingat kembali hari-harinya di perguruan tinggi dengan berbuka puasa β€”kadang-kadang sendirian, terkadang dengan teman-temannya di masjid atau restoranβ€” ia berpikir, bagaimana rasanya menyatukan orang-orang selama pandemi COVID-19?

Fadumo mendapat solusinya ketika ia berbagi ide dengan teman-temannya yang bahkan bukan beragama Islam saat itu, salah satunya adalah ketika mereka (Kristen dan Yahudi) merayakan acara Paskah dengan keluarga dan teman mereka melalui aplikasi Zoom.

Maka dari itu, Fadumo dengan semangat membuat sebuah aplikasi web yang kini dikenal bernama Remote Iftar. Situsnya dapat diakses di remoteiftar.com. Fungsinya memang sangat sederhana, namun terbukti bermanfaat bagi banyak umat Muslim di Amerika Serikat. Seperti namanya itu sendiri, mereka dapat mendaftar untuk berbuka bersama orang-orang di sekitar daerah mereka, tapi secara online!

Setelah mendaftar, mereka dapat menggunakan aplikasi-aplikasi video call seperti Zoom, Google Hangouts, GoToMeeting, dan Skype.

“Banyak orang yang menjalani Ramadan dalam keadaan terisolasi untuk pertama kalinya, dan banyak juga saudara dan saudari kita yang pernah melewati bulan suci Ramadan dengan kesepian sebelumnya,” kata halaman di situs web tersebut.

Tampilan formulir untik mendaftar di halaman REMOTE IFTAR

Tergantung pada zona waktu mereka berada, aplikasi web tersebut dapat mencocokkan siapa saja yang akan menjadi peserta buka bersama. Satu orang akan menjadi tuan rumah dari sebuah video call, yang kemudian undangannya akan dikirimkan kepada para peserta berbuka lainnya.

Ketika para Muslim di suatu daerah ingin berbuka puasa atau bahkan salat berjamaah, mereka dapat mengeklik tautan untuk membuka aplikasi konferensi video, dan bergabung langsung dengan sesama Muslim lainnya sambil menikmati makanan mereka masing-masing.

β–Έ “Tujuannya adalah untuk mempertahankan komunitas dan semangat Ramadhan secara virtual.”

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :Β  Β f a r r a s