kebencian dan islamofobia di italia

Berikut ini adalah lanjutan/pembahasan yang terkait langsung dengan kisah Silvia Romano, seorang korban penculikan yang menjadi Mualaf.

Pada tanggal 9 Mei kemarin, ketika Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte, mengumumkan di Twitter bahwa Romano akhirnya dibebaskan, banyak sekali masyarakat Italia yang bergembira. Namun tidak lama setelah itu, terungkap bahwa sang relawan tersebut telah memilih untuk menjadi seorang Muslimah walaupun status terakhirnya selama 18 bulan terakhir adalah sebagai seorang tahanan al-Shabab. Pengumuman mengenai namanya yang kini telah berubah menjadi Aisha, kemudian memedamkan suasana perayaan dan membuat banyak orang di Italia mempertanyakan motivasi Romano untuk pergi ke Kenya.

Setelah Romano mendarat di Roma sambil mengenakan jilbab berwarna hijau muda, berukuran longgar dan menutupi seluruh tubuhnya seperti halnya hijab yang biasa dipakai oleh para wanita Somalia, topik mengenai pindah agamanya dengan cepat menjadi satu-satunya fokus outlet media di Italia. Menyiratkan kesan negatif, banyak berita dan postingan di sosial media yang menerbitkan foto-foto antara ‘sebelum dan sesudah’ yang memperlihatkan ‘transformasi’ Romano, seakan-akan pilihannya memasuki Islam merupakan hal yang melanggar hukum. Bahkan, ada di antara mereka yang membuat-buat rumor buruk seperti, Romano sebenarnya masuk Islam secara terpaksa, ia dicuci otak, dan bahkan diusung-usung sebagai korban sindrom Stockholm.

Judul-judul artikel yang termasuk “Kini Islami dan berbahagia. Silvia Romano yang tidak tahu berterima kasih” yang di dalamnya ia dicemooh karena dianggap menggunakan ‘seragam’ jihadis para teroris. Alessandro Sallusti, yaitu editor yang menulis artikel ini, juga menyamakan Romano sebagai sorang Yahudi yang kembali dari kamp konsntrasi namun sebagai mata-mata Nazi.

Walaupun agama Kristen merupakan mayoritas di negeri Italia, namun perlakuan seperti ini tetaplah tidak adil, dan sangat jauh dari kemanusiaan. Sudah sepatutnya setiap warga negara Italia layak dilindungi oleh pemerintah negaranya yang mereka sebut rumah, namun penyesalan para petinggi Italia seakan-akan sumber daya yang mereka gunakan dalam proses pembebasan Silvia Romano adalah kesia-siaan belaka, merupakan pukulan yang berat sebelah bagi umat Islam di seluruh dunia.

Selain media berita, beberapa politisi di sana juga menggunakan proses tobat Romano sebagai kesempatan untuk mempromosikan pandangan Islamofobia. Pemimpin partai Liga sayap kanan, Matteo Salvini, misalnya, yang mengusung-usung terori bahwa penculikan dan masuk Islamnya Romano merupakan jebakan yang dibuat-dibuat, dan mengklaim bahwa ‘teroris Islam’ telah memenangkan pertempuran budaya. Bahkan, wakil Salvini dalam masa parlemen pada waktu itu, Alessandro Pagano, terus-menerus merujuk Romano sebagai ‘teroris baru’ sejak waktu itu hingga kini.

Banyak sekali liputan media dan berita yang anggresif dan menuduh pihak Islami mengenai penculikan dan pembebasan Romano hanya dikarenakan ia kini beragama Islam, tidak lupa juga komentar-komentar yang berbau kebencian dan diskriminatif yang bahkan berani dilemparkan oleh politisi-politisi negara. Semua ini merupakan bukti bahwa islamofobia telah mengakar di negeri Italia.

Bahkan tidak hanya kaum lelaki saja yang melemparkan cobaan terhadap masyarakat Islam di Italia, khususnya Romano. Seorang sejarawan feminis terkemuka bernama Nadia Riva misalnya, yang dalam postingannya di Facebook menyebut Romano sebagai seorang wanita hasil daur ulang, mengklaim jilbab Romano sebagai simbol penindasan pria; bingun dan tidak bisa percaya seorang wanita mampu memilih untuk berpakaian seperti dengan sukarela.

Memang banyak feminis lainnya yang tidak begitu buta oleh keegoisan, dan tidak berpihak pada pendapat mayoritas hanya dikarenakan pendapat tersebut diteriakan oleh kebanyakan orang; banyak dari mereka yang membela Romano dan bahkan memaksa Riva menutup kolom komentarnya yang kontroversial tersebut. Namun, fakta bahwa seorang tokoh terkemuka seperti Riva merasa pantas untuk menyerang sesama wanita hanya dikarenakan apa yang ia pilih untuk percayai, dan cara ia memilih berpakaian, menunjukan betapa melekatnya gagasan superioritas moral di beberapa bagian Italia, dan negara-negara Barat pada umumnya.

Wallahu alam. Semoga Allah perbaiki status agama Islam di mata dunia, dan semoga kehidupan Silvia Romano (yang kini bernama Aisha) diperbaiki oleh Allah. Sekian postingan kita hari ini. Masya-Allah, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari pengalaman Aisha. Sampai ketemu lagi esok hari. Wa sallam!

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s