langkah politik presiden turki dalam menyatukan Islam dan menyelamatkan palestina

Belakangan ini, negara Turki tengah mendapatkan prejudice yang kurang sedap di beberapa forum dan artikel dunia maya, bahkan postingan yang dirilis di situs-situs besar seperti Republika Online. Beberapa pembaca dengan cepat menunjukkan bagian mana dari artikel-artikel penuh kebencian tersebut yang sebenarnya tidak valid, dan malah berkemungkinan membuat umat Islam semakin resah dan terpecah belah.

Berbagai ‘serangan’ bersifat opini ini dilontarkan khususnya kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, yang mana akhir minggu lalu baru saja memberikan laporan mengenai hasil dari rapat Konferensi Internasional ke-12 tentang ekonomi dan keuangan, serta menyatakan beberapa tujuannya dalam memimpin negara Turki ke depan, baik itu jangka pendek dan jangka panjang.

Maka dari itu, postingan ini akan mendaftar berbagai ‘tuduhan’ yang telah ditujukan kepada Erdoğan, namun juga melaporkan hasil apa yang sebenarnya telah diperoleh dari Konferensi Internasional minggu kemarin. Berikut laporannya..,..

bagian pertama.

Artikel-artikel tersebut diawali dengan membimbing para pembaca awam untuk tidak berpihak pada Turki dengan menyebarkan opini tentang bagaimana Presiden Erdoğan menelantarkan rakyatnya demi memajukan angkatan militernya di kancah dunia. Kemudian, penulis sering kali mengutarakan sudut pandangnya dengan menjelaskan bagaimana politik di Turki selalu diwarnai dengan banyak isu, garis keras, dan peperangan.

Kemudian di paragraf selanjutnya, artikel tersebut menggiring pembacanya untuk bertanya seakan-akan negara Turki yang telah dipimpin oleh Erdoğan selama 17 tahun adalah buah politik dari kecurangan yang terencana, proyek ekspansionis, dan ambisi narsis seorang presiden.

Artikel tersebut mengangkat poin tentang hilangnya sebagian besar angkatan bersenjata Turki di wilayah Suriah setelah upaya mereka melawan Rusia, Amerika, dan pasukan rezim Bashar Assad. Walaupun memang, kekalahan tersebut merupakan kemunduran dari angkatan militer Turki dalam melindungi umat Islam di Suriah, bahkan nyatanya wilayah yang sebelumnya dikuasai Turki sebagai ‘ekspansi perbatasan’ di wilayah Suriah pun menyusut.

Memang selama tahun-tahun awal perang di Suriah, Presiden Erdoğan enggan menyeberangi perbatasan militer. Maka dari itu, mungkin sedikit mengejutkan bagi mereka saat awal minggu ini, angkatan bersenjata Turki kembali memberikan perlawanan terhadap rezim Bashar Assad.

Dan menghadapi kemunduran di wilayah Suriah, selain melaporkan apa adanya, Erdoğan juga menyiarkan berita kemenangan pasukannya di Libya kepada masyarakat Turki yang tertekan oleh kondisi hidup mereka yang dikenal buruk dan miskin. Erdoğan menyiarkan berita yang menjanjikan keuntungan bagi rakyat Turki, terutama penandatanganan perjanjian minyak dengan Libya, dan niatnya untuk menjelajahi daerah-daerah perbatasan maritim di Mediterania terlepas dari keberatan para Yunani.

Namun, semua hal positif yang diberitakan oleh Presiden Erdoğan malah menjadi sorotan —dianggap sebagai tidak lebih dari upayanya untuk meningkatkan moral masyarakat Turki, yang penulis artikel ini nilai ‘buruk dan miskin’ dengan ‘pukulan ekonomi yang berturut-turut menimpa’. Bahkan, penulis artikel tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa upaya Turki dalam melindungi umat Islam di Suriah dari rezim Bashar Assad malah memercik kerusakan yang tidak bisa diremehkan, dan semata-mata hanya sebagai pembangunan kekuatan regional.

Dan apa yang Sobat baru saja baca hanyalah beberapa poin yang ditulis di bagian awal dari ‘serangan’ berjenis artikel opini. Dan tentu saja, artikel-artikel tersebut umumnya cukup panjang, cukup untuk mendaftar kekurangan-kekurangan Turki pada umumnya, dan Presiden Erdoğan khususnya, sehingga membangun kebencian banyak pembaca awam atas kepemimpinannya di Turki.

Nah, apa sih yang sebenarnya terjadi belakangan ini? Mengapa Turki sekarang sedang ramai dibicarakan? Well..,..

bagian kedua.

Dalam sebuah laporan Jerusalem Post, kepala badan keagamaan utama Turki yang didukung oleh menteri luar negeri negara tersebut, menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri penjajahan terhadap Yerusalem. Disebutkan dalam laporan tersebut, bahwa Israel bertanggung jawab atas perang dalam upaya memecah belah negara-negara Islam.

Dan mengutip Ahval, hari Senin (15.06.2020), bahwa pernyataan tersebut selaras dengan komentar dari beberapa tokoh yang salah satunya adalah kepala Direktorat Urusan Agama Turki, Eli Erbaş. Di dalam sebuah forum, ia menyatakan kepada sekelompok intelektual di Palestina, bahwa perjuangan akan terus dilanjutkan sampai Yerusalem benar-benar bebas dari teror.

▸ “Peradaban Islam memiliki ingatan akan pengetahuan dan nilai-nilai historis, dan bahwa tidak pernah mungkin bagi umat Islam untuk menyerah pada kota yang diberkati,” tulis Jerusalem Post, mengutip pernyataan Erbaş.

Tidak hanya itu, pernyataan ini juga didukung oleh Presiden Erdoğan yang memang telah lama memperjuangkan kemerdekaan Palestina, yang pada suatu waktu telah secara resmi menyatakan akan melindungi Yerusalem. Menurut dia, kota yang menjadi konflik antara Israel dan Palestina tersebut telah menjadi zona merah bagi angkatan militer Turki pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya.

Lebih lanjut masih dalam laporan yang sama, tokoh-tokoh Turki tersebut menyinggung rencana dari pihak ibukota Turki yang akan menjadikan Yerusalem sebagai tujuan kepentingan Islam dan Palestina, serta untuk menggalang dukungan negara-negara Timur Tengah untuk melawan Israel. Rencana tersebut dimulai dengan menyerukan transformasi Hagia Sophia, yaitu bekas gereja yang berdiri di abad keenam di Istanbul, untuk dijadikan masjid kembali setelah sebelumnya ditinggalkan sebagai museum.

Terkait upaya mereka dalam mengubah situs warisan dunia UNESCO tersebut, Erdoğan telah berulang kali menyarankan perubahan status situs tersebut sebagai warisan dunia, sebagai permintaan dari berbagai ulama di Turki. Bahkan, masalah-masalah yang berkaitan dengan Palestina juga kini mulai diserukan untuk ditekankan ke dalam sistem pendidikan di Turki.

▸ “Umat (komunitas Islam) tidak akan pernah menyerah pada negara Palestina yang berdaulat dengan al-Quds al-Sharif sebagai ibu kotanya!” ujar Menteri Luar Negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu baru-baru ini pasca pertemuan eksekutif di OIC (Organization of Islamic Cooperation, atau Organisasi Kerja Sama Islam). “Jika kekuatan pendudukan melewati garis merah, kami (negara-negara Muslim) harus menunjukkan bahwa ini akan memiliki konsekuensi.”

Setelah Presiden Amerika Serika, Donald Trump, mengumumkan keputusannya untuk memindahkan kedutaan Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem, Turki memutuskan untuk menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara Islam di mana rencana dan koordinasi dalam upaya negosiasi dan melawan kebijakan Amerika dan Israel akan diperjuangkan.

bagian ketiga.

Di hari sebelumnya, yaitu Minggu (14.06.2020), Presiden Erdoğan menyatakan di Konferensi Internasional ke-12 tentang ekonomi dan keuangan, bahwa ekonomi Islam menawarkan ‘kunci’ untuk keluar dari kesengsaraan ekonomi yang kini dihadapi oleh dunia. Pernyataan Erdoğan berikut ini dilatarbelakangi oleh kejatuhan ekonomi akibat pandemi COVID-19 di seluruh dunia.

▸ “Pendanaan berlebihan telah menciptakan model ekonomi yang mudah meletus, yang hanya bertindak untuk kepentingan laba yang diterima, tanpa mempertimbangkan biaya sosial dan manusia. Untuk membiayai investasi infrastruktur besar jangka panjang, penggunaan produk seperti sukuk harus diperluas. Bertentangan dengan apa yang telah dijanjikan, distribusi pendapatan dan kekayaan secara bertahap memburuk di seluruh dunia, dan kesenjangan antara negara-negara melebar. Setiap krisis yang dimulai di sektor keuangan dengan cepat menyebar ke sektor riil dan menciptakan barisan pengangguran baru.”

Awal tahun ini, lembaga pemeringkat kredit Moody mengumumkan aset perbankan syariah Turki akan berlipat ganda dalam satu dekade berkat inisiatif pemerintah yang mendorong pertumbuhan di sektor ini. Sekarang, Turki telah memosisikan dirinya sebagai pusat partisipasi perbankan dan keuangan Islam. Erdoğan sendiri menyatakan negaranya sebagai salah satu negara yang mengalami periode pandemi dengan kerusakan paling kecil.

▸ “Selain memenuhi kebutuhan orang-orang kami sendiri, kami telah memberikan bantuan medis kepada 125 negara di seluruh dunia,” katanya. “Dengan terwujudnya kalender normalisasi, sektor manufaktur, perdagangan, dan pariwisata mulai bangkit.”

Turki melaporkan pertumbuhan kuartal pertama sebesar 4,5 persen, dan Erdoğan menyatakan bahwa Turki telah membuktikan dirinya sebagai negara yang lebih positif dari kebanyakan negara pada umumnya, tidak hanya di sektor kesehatan tetapi juga dalam perekonomian.

Di hari sebelum Konferensi Internasional tersebut, Sabtu (13.06.2020), Turki mengonfirmasi lebih dari 176 ribu kasus COVID-19, namun dengan jumlah orang yang pulih melebihi 150 ribu. Virus ini telah membunuh hampir 4.800 orang di Turki. Menanggapi hal itu, Erdoğan mengatakan bahwa hilangnya hampir 440 ribu nyawa di seluruh dunia tidak dapat dikaitkan dengan hanya COVID-19, karena menurutnya, banyak negara memiliki sistem ekonomi yang hanya melindungi mereka yang kaya dan memiliki pengaruh yang kuat.

▸ “Di beberapa negara, orang tanpa asuransi kesehatan dibiarkan mati,” katanya. “Dalam beberapa hari terakhir, di balik peristiwa jalanan di beberapa negara Barat, bersama dengan rasisme, ada ketidakadilan yang terungkap oleh pandemi.”

Bahkan, negara-negara besar yang sebelum COVID-19 menyerang dikatakan sebagai negara-negara terbesar di dunia seperti halnya Amerika, kini kesulitan menyediakan layanan kesehatan di standar minimum, atau bahkan sekedar masker bagi warganya. Maka dari itu, melalui perbankan syariah, transaksi dan pinjaman tanpa bunga dan laba, Turki kini bertujuan menjadikan Istanbul sebagai pusat keuangan dan ekonomi Islam.

kesimpulan.

Dua poin resmi di atas adalah apa yang sebenarnya dihasilkan dari pertemuan Konferensi Internasional. Yang pertama, adalah tujuan dan cita-cita Direktorat Urusan Agama Turki, Eli Erbaş, yang didukung oleh Presiden Erdoğan, untuk mengakhiri penindasan Israel terhadap Palestina, dan menyatukan negara-negara Islam di saat yang sama; kedua, adalah siratnya kepada dunia bahwa sistem keuangan Islami tanpa sentuhan bunga dan laba, mungkin dapat menjadi kunci solusi dari krisis ekonomi di seluruh dunia akibat pandemi COVID-19.

Hingga kini, sulit rasanya mengaitkan dua poin utama di atas dengan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan oleh beberapa artikel yang dihiasi oleh unsur kebencian terhadap Presiden Erdoğan. Demikian laporan farras, wallahu a’lam bisshawab.

Semoga postingan hari ini bermanfaat! Jangan lupa like dan follow website kecil kita, jangan putus zikirnya dengan Allah, dan sampai ketemu lagi di postingan selanjutnya~ wa assalam!

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

s u m b e r  r e f e r e n s i

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s