ikhtisar dari juz keempat al-Quran

Subhanallah dan alhamdulillah, kita masih diberikan umur untuk terus beribadah, berzikir dan mengingat Allah setiap harinya. Melanjutkan program kita 30 juz menjelang Iduladha, di bagian keempat ini kita akan membahas mengenai juz keempat dari kitab Allah, al-Qur’annul karim.

Juz keempat tersusun dari ayat ke-93 dari surah Ali ‘Imran hingga akhir surahnya, yang kemudian dilanjut dengan ayat pertama An Nisa’ hingga ayatnya yang ke-23. Ayat-ayat yang terdapat di juz keempat ini adalah wahyu Allah yang banyak diturunkan kepada Nabi Muhammad (ṣallallahu ʿalayhi wasallam) di tahun-tahun awal setelah umatnya pindah ke Madinah, di mana mereka kemudian mendirikan pusat sosial dan politik pertama bagi umat Islam. Nah, sebagian besar dari ayat-ayat tersebut membahas langsung mengenai kekalahan tentara Islam di Perang Uhud.

bagian tengah dan akhir dari surah Ali ‘Imran.

Sebelum loncat membahas mengenai Perang Uhud, Allah terlebih dahulu melanjutkan apa yang dibahas di juz sebelumnya, yaitu mengenai hubungan antara para Muslim dengan para Ahli Kitab, alias orang-orang Kristen dan Yahudi. Al-Quran menerangkan bahwa walaupun ada berbagai ilmu dari kitab Kristen dan Yahudi yang sama seperti yang diajarkan Islam, sebagian banyak dari ilmu mereka yaitu apa saja yang menentang ajaran Islam, tetaplah dinilai salah menurut Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian mengajarkan kita untuk menentang kesesatan, untuk berdiri bersama apabila kita membela kebenaran, dan bersatu dalam kesulitan. Setelah semua itu, barulah kita memasuki bagian yang menceritakan kisah Perang Uhud, yaitu suatu perang di mana militer Islam mengalami kekalahan, dan menimbulkan banyak kerugian serta kesedihan di antara Muslim pada waktu itu.


+ perang uhud.

Perang Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum Muslimin dan kaum kafir Suku Quraisy pada tanggal 22 Maret’ 625 tahun Masehi, atau lebih tepatnya 7 Syawal’ tahun ketiga Hijriyah. Sejarah menjelaskan bahwa tentara Islam berjumlah 700 orang, dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad (SAW); melawan tentara kafir yang berjumlah lebih dari 3.000 orang, dipimpin oleh Shakhr bin Harb atau yang lebih dikenal dengan nama panggilannya, Abu Sufyan.

Pertempuran ini disebut dengan Perang Uhud karena perjuangan umat Islam kali itu terjadi di dekat sebuah bukit bernama Uhud —yang terletak kira-kira sejauh 6.5 kilometer dari Masjid Nabawi, yaitu masjid ketiga yang dibangun dalam sejarah Islam, dan kini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia. Dan mengutip ayat ke-140 hingga 179 di surah Ali ‘Imran, Rasulullah (SAW) menjelaskan bahwa kekalahan umat Islam di Perang Uhud waktu itu merupakan peristiwa yang kita harus ambil pelajaran darinya; khususnya mengenai pendirian, keberanian, kesabaran, dan rasa syukur.

Di masa-masa awal kebangkitan umat Islam pada waktu itu, Allah menguji umat-Nya sehingga Nabi Muhammad (SAW) dan para sahabat dapat membedakan golongan-golongan dari mereka yang sebenarnya egois dan pengecut, dan siapa di antara mereka yang benar-benar berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala —ditandai dengan sifat sabar dan disiplin. Walaupun begitu, Allah memerintahkan siapa saja yang masih beriman untuk meminta pengampunan atas kelemahan mereka, dan untuk tidak kehilangan pegangan dan tidak putus asa.


surah An Nisa’

Surah An Nisa’ atau “Wanita” apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, terdiri dari 176 ayat, dengan hanya 23 ayat pertama yang menjadi bagian dari juz keempat ini. Alasan utama mengapa surah ini dinamakan An Nisa’ adalah karena banyaknya bimbingan-bimbingan Allah yang berhubungan dengan perempuan, jauh lebih banyak daripada surah-surah lainnya.

Sebelum juz keempat ini berakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala masih sempat memberikan bimbingan mengenai cukup banyak hal; dimulai dari hukum pernikahan menurut Islam, zina, mahram, hingga hukum-hukum mengenai berkeluarga dan perceraian. Namun, dikarenakan bagian awal dari surah An Nisa’ turun tidak lama setelah kekalahan umat Islam di Perang Uhud, banyak dari ayat-ayat ini yang juga membahas masalah-masalah yang relevan dan bersangkutan dengan situasi pada masanya, seperti bagaimana harusnya kita merawat anak yatim dan janda, dan bagaimana hukum dan peraturan Islam mengenai pembagian warisan.


salah satu ayat utama dari juz keempat al-Quran.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

— Quran surah An Nisa’, ayat pertama.

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

One response to “ikhtisar dari juz keempat al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s