perjuangan untuk palestina masih berlanjut

Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani, menghadiri pertemuan dengan pimpinan Hamas untuk membahas isu mengenai rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel. Dalam pertemuan tersebut, Hamas dan Qatar sepakat dalam menolak rencana kontroversial Israel.

Sejumlah petinggi Hamas yang menghadiri pertemuan tersebut di antaranya adalah Ismael Haniyeh, Musa Abu Marzuq, Izzat al-Rashak, dan Maher Obied. Bersama dengan Mohammed, semua petinggi Hamas yang hadir sepakat untuk memberikan dukungan bagi rakyat Palestina dan menolak rencana aneksasi Israel, termasuk pendirian pemukiman Yahudi di wilayah tersebut.

Dilansir dari Anadolu Agency, Mohammed menyatakan bahwa Qatar akan melanjutkan pendekatan demi menolak rencana Israel, dan mendukung upaya untuk mewujudkan persatuan nasional di Palestina. Hamas dan Gerakan Nasional Pembebasan Palestina, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Fatah, sepakat untuk menolak rencana aneksasi Tepi Barat. Padahal, Fatah dan Hamas telah lama berselisih sejak tahun 2007, dan penyebab utama Perang Saudara di Palestina.

Di belahan dunia lain, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, memuji keputusan Hamas dan Fatah yang bersatu untuk membela kepentingan Palestina di platform PLO (Palestine Liberation Organization, atau Organisasi Pembebasan Palestina).

β–Έ “Kami percaya bahwa hari ini, lebih dari sebelumnya, upaya masyarakat internasional diperlukan untuk menciptakan kondisi bagi dimulainya kembali segera dan memulai kembali perundingan langsung Palestina-Israel di bawah naungan Kuartet Timur Tengah dengan partisipasi aktif negara-negara Arab,” kata Lavrov seperti dikutip dari Anadolu Agency, hari Sabtu (04.07.2020).

Hal itu diungkapkan oleh Lavrov saat ia bersua dengan Aguila Saleh, yaitu Ketua Dewan Perwakilan pro-Haftar di kota Tobruk bagian timur. Lavrov memperingatkan bahwa pelanggaran berat terhadap Undang-undang internasional di dalam konflik antara Israel dan Palestina, akan mengakhiri prospek solusi perdamaian kedua negara, dan akan dipenuhi dengan konsekuensi yang paling tidak terduga, khususnya di belahan Timur Tengah dan di Afrika Utara.

baca juga: rencana aneksasi israel terhadap palestina melanggar hukum internasional |Β israel tidak mau berhenti, adakan rapat merencanakan aneksasi | israel bom dan tembak nelayan palestina

Maka dari itu, selain menimbulkan kecaman dunia internasional, teror Israel berhasil membuat dua faksi di Palestina yang selama ini bertentangan, yaitu Fatah dan Hamas, bersatu untuk melawan oponen yang sama. Janji bersatu disampaikan oleh kedua pihak dalam sebuah konferensi pers bersama yang langka terjadi, pada hari Kamis (02.07.2020)

β–Έ “Kami akan memberlakukan semua langkah yang diperlukan untuk memastikan persatuan nasional dalam upaya menentang aneksasi,” kata pejabat senior Fatah Jibril Rajub di Ramallah pada konferensi pers virtual dengan pejabat Hamas Saleh al-Arouri yang berada di Beirut, Lebanon.

Penolakan aneksasi Israel kali ini bukan pertama kali terjadi. Sebagian komunitas internasional juga menentang langkah tersebut, termasuk Cina dan Inggris, dua negara besar di dua benua berbeda.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor informasi berita Palestina, Wafa, Dubes Cina untuk Palestina, Guo Wei, menegaskan bahwa negaranya menolak rencana Israel untuk ‘menduduki’ wilayah Tepi Barat milik Palestina. Guo menyoroti empat poin yang diusulkan oleh Presiden Xi Jinping, yaitu menyelesaikan masalah dengan solusi yang sesuai bagi kedua negara.

Cina juga mendukung pembentukan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuai dengan garis perbatasan yang disepakati di tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Guo juga menyatakan bahwa Cina menggaris bawahi hak-hak rakyat Palestina yang kini sedang diganggu gugat, walaupun hak Israel untuk hidup harus sepenuhnya dihormati di saat yang sama.

Senada dengan itu, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, juga menyatakan keberatannya atas rencana aneksasi Palestina, dan menurutnya rencana tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional. UE (Uni Eropa) juga telah melakukan kampanye diplomatik dalam menentang proyek aneksasi Israel sejak Amerika Serikat menerbitkan proposal untuk mengikis hak rakyat Palestina di bulan Januari lalu.

Di sisi yang sama, Jerman pun menolak rencana aneksasi Israel atas Tepi Barat milik Israel, dengan alasan bahwa hal tersebut bertentangan dengan hukum internasional. Seruan atas aneksasi Israel diajukan di Parlemen Jerman, Bundestag, oleh tiga partai dalam koalisi Kanselir Angela Merkel, dan disepakati tanpa ada satu pun pihak yang menentang. Semua kelompok parlemen selain partai sayap kanan AfD (Alternative for Germany), memperingatkan bahwa rencana Israel tersebut akan membahayakan keamanan Israel dan perundingan solusi dengan Palestina.

β–Έ “Perdamaian tidak bisa dicapai dengan langkah sepihak,” ujar Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, dalam penjelasannya mengenai rencana aneksasi Israel yang menurutnya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sedangkan menurut Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, aneksasi Israel akan menjadi pelanggaran hukum internasional dan akan memiliki konsekuensi berkepanjangan.

β–Έ “Aneksasi wilayah Palestina, apa pun batasannya, akan dengan serius dipertanyakan parameternya dalam penyelesaian konflik,” ujar Le Drian di sidang parlemen. “Keputusan aneksasi tidak dapat dibiarkan tanpa konsekuensi dan kami sedang memeriksa berbagai opsi di tingkat nasional dan juga berkoordinasi dengan mitra utama Eropa kami.”

protes di gaza.

Pada hari Rabu (01.07.2020) lalu, ribuan orang di Gaza mengajukan aksi protes atas rencana aneksasi Israel. Beberapa orang mengibarkan Palestina dan plakat yang mengutuk Donald Trump.

“Perlawanan harus dihidupkan kembali,” kata pengunjuk rasa di Gaza, Rafeeq Inaiah, kepada kantor berita AFP.com. “Israel takut akan kekuatan.”

Demonstrasi kecil-kecilan juga diadakan di kota Ramallah dan kota Jericho, yaitu kota yang terdapat di wilayah Tepi Barat yang kini sedang diperebutkan. Beberapa politisi Israel sayap kiri pun ikut mendukung penolakan atas rencana aneksasi negaranya sendiri, dengan ikut menghadiri aksi protes tersebut.

Subhanallah, masya-Allah, Allahu Akbar.

©  t h e  I s l a m  W e b s i t e
e d i t o r :Β  f a r r a s

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i

komentar dan diskusi πŸ‘‹πŸΌ

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s