ikhtisar dari juz keenam al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim..,..

Alhamdulillah, kita sekarang sudah menginjak hari keenam di bulan Juli. Apa artinya? Artinya, satu hari lagi kita akan menginjak tiga minggu menjelang Hari Raya Iduladha! 😃 Mari kita lebih semangat lagi dalam beribadah dan memanjatkan doa-doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Hari keenam juga artinya, kita akan membahas juz keenam dari kitab al-Quran. Melanjutkan akhir dari juz sebelumnya di surah An Nisa’ ayat ke-147, hingga memasuki surah selanjutnya yang dinamakan al-Ma’idah, atau “Jamuan Hidangan” apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

bagian akhir dari surah An Nisa’

Allah SWT masih banyak memberikan bimbingan —khususnya kepada Nabi Muhammad, dan umumnya kepada seluruh umat Islam— mengenai persatuan dan perdamaian antar agama dan beragam jenis golongan masyarakat. Waktu itu, kota Madinah terdiri dari orang-orang yang memiliki agama Islam, Yahudi, Kristen, dan berbagai suku dan budaya seperti halnya kaum Quraisy.

Setelah Perang Uhud, kaum Muslimin membuat aliansi dan menandatangani perjanjian yang diratifikasi bersama dengan banyak jenis kelompok; menetapkan hak politik, begitu juga hak kebebasan dan kewajiban mereka masing-masing sebagai masyarakat negara. Namun, walaupun sebagian besar waktu perjanjian ini membawa kedamaian, terkadang konflik meletus di tengah-tengah masyarakat —bukan karena masalah agama, melainkan dikarenakan pelanggaran-pelanggaran umum yang mengarah ke ketidakadilan.

Di bagian akhir dari surah An Nisa’, Allah juga kembali memperingatkan orang-orang Muslim untuk mengambil pembelajaran dari para ‘ahli kitab’ agar kita tidak memecah belah agama Islam. Allah secara khusus melarang kita untuk menambah atau mengubah isi dari al-Quran, karena hal itulah yang membuat para ahli kitab sebelum masa Nabi Muhammad tersesat dari jalan yang Nabi mereka masing-masing telah tunjukkan.


surah al-Ma’idah.

Surah ini merupakan surah kelima menurut susunan al-Quran, terdiri atas 120 ayat, dan termasuk ke dalam golongan surah-surah Madaniyah. Nama dari surah ini memiliki arti “jamuan hidangan”, karena isi suratnya memuat kisah para pengikut setia nabi Isa (‘alayhissalam) ketika mereka meminta kepadanya agar Allah menurunkan untuk mereka hidangan makanan dari langit.

Selain al-Ma’idah, surah ini juga sering disebut dengan sebutan al-Uqud, yaitu “perjanjian”, karena kata tersebut terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah memerintahkan setiap hamba-Nya agar memenuhi janji mereka terhadap Allah. Dan selain al-Uqud, surah ini juga dinamakan al-Munqidz, yaitu “yang menyelamatkan”, sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Percaya atau tidak, surah ini dibuka dengan petunjuk Allah mengenai tata cara dalam berdiet menurut Islam, walaupun tidak lama setelah itu bimbingan Allah pun ditambah dengan pelajaran mengenai moral dan hukum dari aktivitas ziarah, pernikahan, dan hukuman pidana menurut Islam untuk kejahatan-kejahatan tertentu. Hal ini memberikan struktur spiritual yang kemudian Nabi Muhammad dan para sahabat terapkan di tahun-tahun awal pembangunan komunitas Islam di Madinah.

Kemudian, surah al-Ma’idah dilanjut dengan pembahasan mengenai apa yang dapat umat Islam pelajari dari nabi-nabi Allah yang datang sebelum Nabi Muhammad (ṣallallahu ʿalayhi wasallam). Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk mempersilahkan para ahli kitab untuk mengevaluasi pesan-pesan Islam dengan berterus terang.

Allah kemudian kembali mengajak kita untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh umat-umat lain di masa lalu; seperti menghapus sebagian dari kitab mereka, atau membuat hukum dan peraturan baru dan mengklaim bahwa itu adalah menurut agama mereka. Kemudian surah al-Ma’idah memberikan contoh dengan menceritakan kehidupan umat Nabi Musa, dan bagaimana mereka menyalahgunakan kitab Taurat.

Allah juga kemudian memberikan bimbingan bagi kita yang senantiasa menghadapi ejekan, hinaan, dan penindasan dari golongan lain, khususnya dari mereka yang beragama Yahudi dan Kristen.

Katakanlah, “Wahai Ahli Kitab! Apakah kamu memandang kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya? Sungguh, kebanyakan dari kamu adalah orang-orang yang fasik.”

— Quran surah al-Ma’idah, ayat 59.

Tidak hanya terdapat di ayat tersebut, beberapa ayat selanjutnya juga masih merupakan bimbingan Allah terhadap kita yang sedang menghadapi ujian serupa; mengenai apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana kita harus bersikap. Bahkan di dalam ayat yang lain, Allah juga mengingatkan kita bahwa sebagian dari orang Kristen dan Yahudi merupakan orang-orang baik yang dapat dipercaya, karena sebagian dari mereka belum menyimpang dari ajaran-ajaran asli Nabi Isa (AS).

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.

— Quran surah al-Ma’idah, ayat 66.

Maka dari itu, Allah mengajarkan kita untuk mendahulukan perdamaian daripada perselisihan berkelanjutan; membuat kesepakatan dan perjanjian dengan itikad yang baik, dan menjaga kedamaian di antara sesama manusia. Allah tidak mengajarkan orang Islam untuk menilai niat orang lain, dan apa yang ada di dalam hati orang lain.


ayat pilihan dari juz keenam al-Quran.

مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.

— Quran surah An Nisa’, ayat 147.

Semoga ulasan kita hari ini dapat mendorong kita lebih dekat kepada Allah, dan jalan untuk meluruskan niat berpuasa kita agar amal-amal kita diterima oleh Allah SWT. Insya-Allah kita akan membahas juz ketujuh esok hari, jadi jangan lupa bookmark dan cek lagi the Islamweb.site esok hari!

Sekian, sadaqallahul ‘adzim, wassalam!

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

2 responses to “ikhtisar dari juz keenam al-Quran

  1. Subhanallah. “God teaches us to prioritize peace over continuing disputes; make agreements and agreements in good faith, and maintain peace among fellow human beings. Allah does not teach Muslims to judge the intentions of others, and what is in other people’s hearts”.

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s