ikhtisar dari juz ketujuh al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim..,..

Alhamdulillah, kita sudah menginjak hari ketujuh di bulan Juli, yang berarti setelah hari ini, kita akan mulai mendambakan tiga minggu menjelang Hari Raya Iduladha! Dan melanjutkan program kita, di hari ketujuh ini kita akan membahas pula juz ketujuh dari kitab al-Qur’anul karim. Juz ketujuh dimulai dari surah al-Ma’idah ayat ke-82, hingga surah al-An’am ayat ke-110.

Tapi sebelum kita lompat ke konten utama, pesan farras bagi sobat yang baru menemukan situs kita, ada baiknya agar sobat bookmark the Islamweb.site; dan apabila ingin mengecek sesi-sesi sebelumnya dari pembahasan juz al-Quran ini, silakan kunjungi arsip 30 juz menjelang Iduladha. Baiklah, mari kita intip intisari dari juz ketujuh al-Quran!

bagian akhir dari surah al-Ma’idah.

Seperti bagian awal dari surah al-Ma’idah, bagian akhirnya juga merupakan ayat-ayat yang banyaknya turun di Madinah, ketika Nabi Muhammad ṣallallahu ʿalayhi wasallam berusaha membangun persatuan dan perdamaian di tengah-tengah golongan masyarakat non-Muslim seperti masyarakat Yahudi, Kristen, dan suku-suku tradisional dari berbagai etnis.

Beberapa ayat di bagian akhir surah al-Ma’idah menceritakan kehidupan Nabi Isa (ʿalayhissalam), yang mana ia dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berdialog bersama. Di bagian lain dari surah al-Ma’idah, Allah juga menjelaskan bagaimana seharusnya umat Muslim menanggapi ideologi trinitas yang dipercayai oleh orang-orang Kristen. Dan pada bagian akhir, tepatnya di ayat ke-117, kita dapat belajar dari proses Nabi Isa saat ia menyerahkan dirinya dan umatnya kepada Allah sebelum ia menerima akhir kayatnya.

Bagian lain dari surah al-Ma’idah diisi dengan ajaran-ajaran Allah yang memerintahkan kita untuk tidak melanggar sumpah, tidak bermabuk-mabukan, tidak berjudi, menjauhi sihir, dan tidak berburu binatang di kota Mekah dan tempat-tempat berhaji lainnya. Allah juga memerintahkan kita untuk menulis surat wasiat, dan harus disaksikan oleh orang-orang yang jujur. Kemudian Allah memerintahkan kita untuk menghindari hal-hal yang berlebihan. Dan di atas segalanya, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menaati Allah dan rasul-Nya.


surah al-An’am.

Surah al-An’am, atau “Binatang Ternak” apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, merupakan surah keenam dari al-Quran, yang terdiri dari 165 ayat. Dinamakan al-An’am karena di dalamnya terdapat ayat-ayat yang membahas adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak dapat dipergunakan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.

Sebelum membahas mengenai surah ini, ada satu hal yang mungkin patut dicatat. Bahwa tidak seperti ayat-ayat yang terdapat di surah-surah sebelumnya, kebanyakan ayat yang terdapat di surah al-An’am merupakan wahyu-wahyu Allah yang dimasukkan ke dalam golongan Makkiyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan di Mekah sebelum Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah ke Madinah.

Secara umum, surah al-An’am ini merupakan larangan Allah dalam penyembahan terhadap benda dan makhluk-makhluk ciptaan. Bagian awal dari surah ini langsung mengambil topik bagaimana Allah menciptakan langit dan Bumi, serta apa-apa yang ada di antara nya, untuk membuktikan bahwa hanya Allah yang dapat menciptakan keadaan dari ketiadaan.

Surah al-An’am juga mengisahkan Nabi Ibrahim (AS) dan umatnya, yang mana waktu itu menyembah dewa-dewa palsu ciptaan mereka sendiri. Diceritakan kisah ketika Nabi Ibrahim berusaha keras mengajak umatnya di Mesir untuk menyembah Allah dan hanya Allah SAW. Dan dikarenakan ayat-ayat tersebut, orang-orang non-Islam pada masa Nabi Muhammad malah menganggap kalau kitab al-Quran tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.

Dan di antara mereka ada yang mendengarkan bacaanmu (Muhammad), dan Kami telah menjadikan hati mereka tertutup (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan telinganya tersumbat. Dan kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “Ini (al-Quran) tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.”

— Quran surah al-An’am, ayat 25.

Sejak masa Ibrahim, sudah banyak orang yang percaya kalau berhala-berhala buatan tangan mereka sendiri adalah tuhan yang berhak disembah. Maka dari itulah al-Quran diturunkan, yaitu untuk memberi mereka berkah dan kesempatan kedua untuk beriman kepada Allah, dan akan adanya hari akhirat. al-Quran mengancam bahwa ketika hari kiamat tiba, orang-orang musyrik akan meminta kesempatan kedua, namun permintaan mereka tidak akan Allah kabulkan.

Selain Nabi Ibrahim, lebih dari delapan belas nabi dari masa lalu juga disebutkan namanya di surah al-An’am ini. Dan hampir seluruh ayat di juz ketujuh ini telah memberikan inspirasi, manfaat, dan pembelajaran untuk Nabi Muhammad dan para sahabat yang waktu itu sedang berjuang menyebarkan Islam. Namun sebagai umat Nabi Muhammad, begitu banyak pula hal positif yang dapat kita ambil dari semua ini, dan dapat diterapkan ke kehidupan kita sehari-hari, bahkan di masa modern saat ini.


beberapa ayat pilihan dari juz ketujuh al-Quran.

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ – مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?”

(Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

— Quran surah al-Ma’idah, ayat 116-117.

©   t h e   I s l a m   W e b s i t e
e d i t o r :   f a r r a s   f i l ‘ a z i s

2 responses to “ikhtisar dari juz ketujuh al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s