ikhtisar dari juz kesembilan al-Quran

Bismillahirrahmanirrahim~

Di banyak waktu luang, di tengah-tengah pembatasan sosial berskala besar yang masih berlanjut, ada baiknya kita semua mengisi waktu kosong kita dengan banyak beribadah dan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nah, program ikhtisar ini merupakan ajakan bagi kita semua untuk memahami apa yang Allah firmankan di dalam kitab-Nya, al-Quran.

Setelah membahas delapan juz dalam rentang waktu satu minggu ke belakang, di hari kesembilan ini kita akan membahas juga juz kesembilan dari al-Quran, yang dimulai dari surah al-A’raf ayat ke-88, hingga surah al-Anfal ayat ke-40. Bagian pertama dari juz ini, yaitu surah al-A’raf, diturunkan tidak lama sebelum migrasi Nabi Muhammad dan para sahabat ke Madinah; sedangkan bagian kedua dari juz ini, yaitu bagian awal dari surah al-Anfal, merupakan ayat-ayat yang diturunkan langsung setelah pertempuran di Perang Badar.

bagian akhir dari surah al-A’raf.

Allah melanjutkan cerita-Nya yang mengisahkan para nabi terkemuka seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Lut, Nabi Syuaib, Nabi Musa, dan Nabi Harun (ʿalayhissalam). Allah senantiasa memerintahkan kita agar tidak meragukan adanya mereka di masa lampau, serta belajar dari banyak peristiwa yang mereka alami.

Kemudian, terdapat referensi mengenai perjanjian umat Muslim dengan golongan Israel, di mana kita diperintahkan untuk memegang dan menghormati perjanjian yang telah dibuat. Di hukum yang sama, begitu pula janji semua manusia sejak Nabi Adam terhadap Tuhannya, yaitu untuk beriman kepada Allah dan menaati apa-apa yang disampaikan oleh Rasulullah; Allah memerintahkan kita untuk tidak mengingkari janji tersebut.

Allah telah menjatuhkan hukuman kepada orang-orang kafir dalam bentuk gempa bumi, kekeringan, gagal panen, banjir, dan lain sebagainya; namun herannya, peringatan-Nya hanya mampu melunakkan kesombongan dari sebagian orang, sedangkan sebagian lainnya tetap ingkar dari ajaran Islam. Seperti halnya banyak orang Islam hari ini: sebagian dari kita beribadah dan berdoa kepada Allah di saat-saat terburuk kita, berjanji untuk beriman dan beramal saleh, dan menjauhi seluruh larangan-Nya … namun kemudian ketika Allah mengangkat kesulitan-kesulitan kita, kita kembali lupa dan meninggalkan Allah.

Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami; mereka menzalimi diri sendiri.

— Quran surah al-A’raf, ayat ke-177.

Masya-Allah, naudzubillah min dzalik.

Segala hal yang dicontohkan dari ayat-ayat tersebut adalah bimbingan Allah agar kita bersikap bijaksana, dan belajar dari masa lalu. Kita harus memuliakan dan mengedepankan Allah daripada segala hal yang duniawi, karena apabila tidak, hukuman yang menimpa orang-orang kafir dulu akan juga menimpa kita.

Pembelajaran dari Allah berlanjut dengan contoh-contoh lainnya; Seperti sepasang suami istri yang sedang mengantisipasi kedatangan bayi mereka, begitu rajin menjunjung tinggi nama Allah dengan rasa terima kasih, namun kemudian langsung meninggalkan iman mereka tepat setelah kelahiran bayi tersebut; Atau orang-orang yang berulang kali bertanya kepada nabi Allah tentang hari akhirat, seolah-olah mereka yakin akan dimasukkan ke dalam surga, padahal sesungguhnya niat mereka adalah menentang Tuhannya.

Maka dari itu, Allah SWT memerintahkan kita untuk saling memaafkan, dan dengan alasan yang sama juga menjauhi sifat sombong dan keras kepala.

surah al-Anfal.

Surah al-Anfal, atau “Harta Rampasan Perang” apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, merupakan surah kedelapan pada kitab al-Quran. Surah ini terdiri dari 75 ayat dan termasuk ke dalam golongan surah-surah Madaniyah. Di dalam surah ini, banyak sekali bimbingan Allah yang mengambil tema peperangan, seperti halnya hukum mengenai harta rampasan perang.

Menurut riwayat Ibnu Abbas, surah ini terhubung langsung dengan peristiwa Perang Badar yang terjadi di tahun dua Hijriah, yaitu salah satu dari persitiwa terpenting di sejarah Islam, mengingat perkembangan komunitas Islam pada waktu itu sangat dipengaruhi oleh hasil dari Perang Badar. Bagaimana tidak, Perang Badar adalah kali pertama umat Muslim, yang waktu itu masih berjumlah sedikit dan hanya memiliki perlengkapan yang sangat terbatas, berhasil mengalahkan kaum musyrik yang berjumlah besar dan bahkan memiliki perlengkapan berlebih.

Namun di sisi lain, timbullah perselisihan pendapat mengenai cara umat Muslim waktu itu membagi harta-harta rampasan perang yang jumlahnya tidak sedikit. Dikarenakan konflik tersebut, Allah SWT menurunkan ayat pertama dari surah al-Anfal setelah bismillah, yang isinya sebagai berikut: …

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”

— Quran surah al-Anfal, ayat pertama.

perang badar.

Satu tahun sebelum Perang Uhud yang sudah kita bahas di juz keempat, ada Perang Badar, yaitu pertempuran besar pertama umat Muslim yang tentu saja, dipimpin oleh Nabi Muhammad ṣallallahu ʿalayhi wasallam. Waktu itu, total umat Muslim yang berkewajiban untuk berperang di samping Rasulullah hanyalah berjumlah 313 orang, dan mereka siap mengorbankan hidupnya di jalan Allah, menghadapi pasukan Quraisy di Mekah yang berjumlah lebih dari 1.000 orang.

Spoiler: umat Muslim menang! Setelah bertempur habis-habisan selama dua jam, Nabi Muhammad dan tentara Allah berhasil mendobrak pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian terpaksa mundur setelah strategi perang mereka runtuh.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekah —yang banyaknya merupakan kaum Quraisy— telah terlibat dalam konflik bersenjata berskala kecil. Namun seiring waktu, konflik seperti ini pun semakin sering terjadi. Oleh karena itu, terjadilah Perang Badar. Hasil dari perang tersebut sangat mempengaruhi umat Muslim pada waktu itu, menjadi salah satu bukti kuat yang meyakinkan mereka bahwa Nabi Muhammad dan para pengikutnya sesungguhnya memiliki peluang untuk menetap dan menyebarkan Islam di kota Mekah, walaupun waktu itu Mekah adalah kota terkaya di Arab Saudi dan masih berada di bawah pemerintahan orang-orang kafir.

Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya …

— Quran surah al-Anfal, ayat ketujuh.

Kemenangan ini kemudian tersebar ke seluruh penjuru Arab, sehingga banyak suku dan golongan yang mendengar kemenangan tersebut mulai mengakui ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Kemenangan ini juga membantu otoritas Muhammad (SAW) sebagai pemimpin atas banyak golongan masyarakat di Madinah, karena waktu itu adalah masa di mana beliau dan para sahabat baru saja hijrah ke- dan menetap di- kota tersebut. Dengan demikian, pembangunan komunitas Islam yang berpusat di kota Madinah pun dimulai.

Namun, kamu Quraisy bersumpah untuk membalas dendam atas kekalahan mereka di Perang Badar, yang kemudian menyebabkan terjatuhnya umat Islam di Perang Uhud. Dan untuk sekedar pengingat, pembahasan mengenai peristiwa di Perang Uhud sudah kita bahas di juz keempat dan keenam, jadi farras sarankan Sobat untuk membaca sesi-sesi sebelumnya dari 30 juz menjelang Iduladha apabila belum.

Pada intinya, Allah menjelaskan melalui peristiwa Perang Badar bahwa kehadiran-Nya selalu dekat dengan orang-orang yang takut hanya kepada Allah, mereka yang beriman, dan mereka yang mengikuti bimbingan Rasulullah. Allah mengingatkan kita bahwa hanya Ialah yang mampu melindungi dan membantu kita di tengah-tengah kesulitan. Maka dari itu, kita diperintahkan untuk tetap memperjuangkan keadilan dan tidak berpaling dari jalan Allah.

salah satu ayat utama dari juz kesembilan al-Quran.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ – الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ – أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

— Quran surah al-Anfal, ayat 2-4.

Hikmah yang dapat diambil dari tiga ayat tersebut adalah sesungguhnya, rencana Allah adalah yang paling mulia. Jadi apabila Sobat sedang ditimpa kesulitan, jangan lupakan Allah, dan selalu ikuti bimbingan-Nya. Maka insya-Allah kesulitan itu akan diangkat oleh-Nya. Memang rasanya sulit, tapi tawakal merupakan salah satu hal prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah SAW!

Sekian saja untuk hari ini, insya-Allah esok hari kita akan membahas juz kesepuluh. Jangan sampai kelewatan!

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s