ikhtisar dari juz ke-11 al-Quran

Semoga kedamaian, belas kasihan, dan berkah Allah menyertai Sobat-sobat semuanya~

Anyways, bagi Sobat yang baru pertama kali kunjung ke website kecil kita, farras ucapkan selamat datang! Di program yang satu ini, kita membahas satu juz al-Quran setiap harinya hingga kita menginjak Hari Raya Iduladha. Dan di tanggal kesebelas ini, kita akan membahas juga juz kesebelas dari al-Quran, yang terdiri dari surah at-Taubah ayat ke-93, hingga surah Hud ayat ke-5.

Ayat-ayat yang terdapat di awal juz ini, yaitu bagian akhir dari surah at-Taubah, banyak diturunkan pada saat Nabi Muhammad ṣallallahu ʿalayhi wasallam melakukan ekspedisi ke wilayah Tabuk, yaitu pada tahun kesembilan setelah hijrah umat Islam ke kota Madinah. Kemudian sebelum surah Hud, juz kesebelas ini juga terdiri dari surah Yunus. Seperti yang mungkin sudah Sobat tahu, nama dari surah Hud dan Yunus terinspirasi dari kedua nabi Allah, yaitu Nabi Hud dan Nabi Yunus (ʿalayhissalam). Ayat-ayat di dalam dua surah tersebut banyak diturunkan di Mekah, yaitu sebelum hijrahnya umat Islam ke kota Madinah.

bagian akhir dari surah at-Taubah.

Melanjutkan akhir dari juz sebelumnya, Allah memberikan kita lebih banyak pelajaran mengenai bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap di tengah-tengah kesulitan. Konteks pada waktu itu menceritakan kisah masyarakat Muslim yang berpaling dari panggilan Rasulullah untuk berperang di jalan Allah. Maka dari itu, Allah memerintahkan kita untuk menjauhi sikap pengecut, dan memegang teguh janji dan kata-kata yang kita ucapkan. Allah sangat membenci siapa saja yang memelihara sifat munafik.

Di sisi lain, Allah berjanji akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang beriman, mereka yang berjuang di jalan-Nya, dan mereka yang gigih dan sabar menghadapi kesulitan.

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.

— Quran surah at-Taubah, ayat 111.

surah Yunus.

Surah ini merupakan surah kesepuluh menurut susunan al-Qur’anul karim. Surah Yunus terdiri dari 109 ayat yang diturunkan di Mekah, kecuali ayat 40, 94, dan 95 yang diturunkan di kota Madinah. Surah Yunus merupakan surah pertama dari enam surah di dalam al-Quran yang dibuka dengan tiga huruf —alif, lam, dan ra’. Di masa modern, banyak dari para ilmu tafsir menyebut ayat-ayat pembuka dengan tiga huruf ini dengan sebutan ma’rifatil muhkam wa al-mutasyabih.

Walaupun dinamakan surah Yunus, bukan berarti surah ini hanya berisi tentang biografi dari Nabi Yunus. Bahkan dari 109 total ayat di surah ini, hanya satu ayat yaitu ayat ke-98 yang menyebutkan nama Nabi Yunus. Hal seperti ini bukanlah hal yang aneh di kitab al-Quran, karena nama-nama surah memang biasanya diambil dari sebuah kata yang menonjol dan tidak biasa dari isi surah tersebut, seperti halnya Nabi Yunus yang hanya disebut satu kali sepanjang surah Yunus.

Di sisi lain, kisah terpanjang yang Allah ajarkan di surah Yunus merupakan kisah Firaun dan Nabi Musa ʿalayhissalam, yang terdapat di ayat ke-75 hingga ayat ke-93. Di antara kedua individu tersebut, Allah juga memberikan sorotan kepada kaum Bani Israil. Walaupun begitu, banyak khalifah menyatakan bahwa ayat ke-98 yang menyebutkan tentang Nabi Yunus memang merupakan ayat terpenting dari surah ini. Wallahu a’lam bisshawab.

Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.

— Quran surah Yunus, ayat 98.

Ayat-ayat awal dari surah ini, khususnya ayat pertama hingga ayat keenam, menjelaskan tentang kepercayaan dan keyakinan umat Muslim, berbagai ideologi yang siap diperdebatkan dengan orang-orang non-Muslim. Allah kemudian melanjutkan firman-Nya dengan memberikan janji tidak sedap, yaitu untuk membalas orang-orang yang mengingkari wahyu-Nya selagi mereka hidup di dunia. Baru setelah itu, Allah kembali menunjukkan inti-inti pembelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Musa, begitu juga pembelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Nuh.

Surah ini juga menceritakan tentang orang-orang non-Muslim di Mekah yang pada waktu itu keberatan untuk masuk Islam. Namun tidak hanya sampai di situ, mereka malah berani memaki-maki Nabi Muhammad (SAW) dengan menyebutnya sebagai tukang sihir, dan bahkan memfitnah kitab al-Quran sebagai karya karangan Nabi Muhammad. Mereka bahkan berani menantang Allah untuk menurunkan azab-Nya, dan menuntut Nabi Muhammad untuk menghapus bimbingan-bimbingan Allah mengenai haramnya menyembah berhala-berhala yang waktu itu masih mereka sembah.

Menanggapi celaan-celaan tersebut, Allah pun menurunkan bimbingan-Nya yang isinya merupakan argumen berupa bukti ciptaan Allah, yang kemudian Rasulullah (SAW) ajukan ke wajah orang-orang musyrik. Bersamaan dengan itu, Allah juga berfirman mengenai ancaman bagi mereka yang tidak mau beriman, serta bimbingan mengenai hukum atas akhlak buruk —fitnah dan celaan— yang orang-orang musyrik tersebut lakukan.

Allah kemudian menyatakan bahwa al-Quran bukanlah karangan Muhammad, dan tidak satu pun manusia termasuk Nabi Muhammad (SAW) yang mampu mengubah isi dari al-Quran. Adapun untuk menanggapi kebodohan mereka yang menantang azab Allah, kisah mengenai orang-orang kafir di masa lalu pun diceritakan agar mereka dapat mengambil pelajaran darinya. Kisah-kisah tersebut menjelaskan bahwa orang-orang kafir, termasuk Firaun, yang menantang akan turunnya azab Allah, pada akhirnya akan terpaksa bertobat dan memohon untuk belas kasihan; namun mereka terlampau terlambat karena azab Allah telah datang, dan pintu taubat telah Allah tutup.

Namun bedanya kita —umat Nabi Muhammad— dengan umat Nabi Nuh, kaum Bani Israil, atau pun Firaun, adalah kebanyakan dari kita insya-Allah termasuk ke dalam orang-orang yang beriman. Seperti halnya umat Nabi Yunus yang awalnya menolak firman-firman Allah, tetapi kemudian mereka beriman dan bertobat pada akhirnya. Maka dari itu, Allah masih memberikan kesempatan bagi para non-Muslim di Mekah pada waktu itu, dan Allah hindarkan azab-Nya atas mereka.

Insya-Allah.

surah Hud.

Surah ini merupakan surah kesebelas menurut susunan al-Quran, terdiri dari 123 ayat, dan dinamakan surah Hud karena banyaknya inti pembelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Hud dan umatnya. Surah ini dibuka dengan sebuah diskusi tentang sifat manusia, dan seperti apa hukuman yang telah Allah siapkan di neraka bagi mereka yang menentang Allah. Isi utama dari surah ini adalah serangkaian kisah para nabi Allah, mengenai bagaimana perjuangan mereka menyebarkan ajaran-ajaran Allah, bagaimana orang-orang kafir menentang Allah, dan bagaimana Allah menghukum dan menimpakan azab-Nya terhadap mereka.

Pembelajaran-pembelajaran di dalam surah ini antara lain dapat diambil dari kisah-kisah Nabi Nuh, Nabi Saleh, Nabi Ibrahim, Nabi Lut, Nabi Syuaib, dan tentu saja, Nabi Musa (AS). Namun, sebelum kita memasuki pembahasan mengenai kisah-kisah para nabi di atas, juz kesebelas pun berakhir. Jadi, kita akan lanjutkan pembahasan ini di postingan kita selanjutnya yang akan membahas juz ke-12.

Sebagai penutup ikhtisar hari ini, mari kita renungkan salah satu ayat pilihan dari juz kesebelas al-Quran.

ayat pilihan dari juz kesebelas al-Quran.

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir.

— Quran surah Yunus, ayat 24.

Sadaqallahul ‘adzim. Sampai ketemu lagi besok, wassalam~

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

One response to “ikhtisar dari juz ke-11 al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s