ikhtisar dari juz ke-13 al-Quran

Alhamdulillah, kita telah menginjak tanggal ke-13, menjelang Hari Raya Iduladha di akhir bulan Juli. Insya-Allah, hari ini farras kan memberikan ikhtisar dari juz ke-13 al-Quran yang mencakup surah Yusuf, surah Ar-Ra’d, dan surah Ibrahim.

Bismillahirrahmanirrahim~

surah Yusuf.

Kisah Nabi Yusuf bukan Allah ceritakan hanya agar kita mengetahui kisahnya, melainkan seperti biasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kisahnya untuk mengajarkan kita tentang mana yang baik dan mana yang buruk di mata Allah. Karena tidak hanya di surah Yusuf, di sepanjang al-Quran bahkan Allah telah menjelaskan bahwa keyakinan yang diajarkan oleh para nabi seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Yakub, dan Nabi Yusuf (Ê¿alayhissalam), merupakan ajaran Islam yang sama seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad (sallallahu Ê¿alayhi wasallam).

Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

— Quran surah Yusuf, ayat 38.

Kisah Nabi Yusuf (AS) dimulai dengan sebuah mimpi di mana matahari muncul di cakrawala, memandikan Bumi di sebuah pagi hari. Yusuf, putra dari Nabi Yakub, terbangun dari tidurnya sambil gembira akan mimpi indahnya di malam hari. Dipenuhi dengan keceriaan, ia berlari ke ayahnya dan melaporkan apa yang telah dimimpikannya.

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

— Quran surah Yusuf, ayat keempat.

Tidak hanya menceritakan tentang rahmat yang ia berikan kepada Nabi Yusuf (AS), namun Allah SWT juga memberikan gambaran tentang orang-orang yang bertentangan dengan Nabi Yusuf, seperti halnya karakter-karakter buruk yang ditunjukkan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf, anggota kafilah dagang, para pejabat di Istana Mesir pada waktu itu, dan bahkan calon istri dari Nabi Yusuf sebelum ia memeluk ajaran Islam.

Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis.

Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”

Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

— Quran surah Yusuf, ayat 15-18.

Namun kemudian, setelah Nabi Yusuf yang masih muda dan lemah pada waktu itu dilemparkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri, terungkap bahwa ternyata Allah SWT tetap berada di sisinya, dan tidak menanggalkan perlindungan-Nya terhadap Nabi Yusuf (AS).

Karena memang sejak awal dari al-Quran, kitab Allah telah menggunakan kisah-kisah tragis para nabi untuk mengemukakan suatu jenis kebenaran, yaitu tidak ada yang dapat menghalangi sebuah takdir yang Allah kehendaki, dan tidak ada satu pun manusia yang mampu mencegah rencana Allah dari terjadi. Bahkan, sering kali manusia berniat jahat dalam melakukan sesuatu, dan berakhir dengan kekecewaan karena ia malah menjadi jalan atas terpenuhinya rencana Ilahi.

Seperti halnya saudara-saudara Nabi Yusuf yang termakan oleh penyakit iri hati, yang membuat mereka melemparkan adik kandungnya sendiri ke dalam sebuah sumur yang dalam. Namun meskipun mereka sangat yakin bahwa mereka telah berhasil meraih tujuan mereka, di lain hari mereka akan dihujani oleh kekecewaan karena ternyata melempar Nabi Yusuf ke dalam sumur malah merupakan proses Allah dalam mengembangkan Nabi Yusuf (AS) yang nantinya akan menjadi seorang raja di Mesir.

Kejadian yang sudah bersejarah di atas bukanlah satu-satunya contoh yang membuktikan bahwa walaupun seluruh dunia bersatu untuk menjatuhkan seseorang yang tidak Allah kehendaki, maka rencana mereka tidak akan pernah berhasil. Begitu pula sebaliknya, apabila Allah menghendaki kejatuhan dari seseorang, maka tidak ada satu pun jenis sokongan yang mampu menahan kejatuhan orang tersebut.

+ aib.

Kisah Nabi Yusuf (AS) mengajarkan umat Muslim untuk berada di dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah SWT, karena keberhasilan dan kegagalan seseorang banyak ditentukan oleh kehendak Allah. Karena itu, apabila Sobat memiliki niat yang murni dan kuat, serta menempuh jalan yang halal, namun tetap gagal dalam meraih tujuan Sobat, maka yang Sobat harus lakukan adalah bersabar dan bersyukur, sehingga setidaknya Sobat terhindar dari sifat malu dan hina.

Sedangkan di sisi lain, apabila seseorang memiliki niat yang jahat, dan bahkan menempuh jalan yang haram, maka tidak hanya ia akan digolongkan ke dalam orang-orang yang hina dan penuh malu, namun ia juga akan menanggung risiko yang berat di akhirat nanti. Naudzubillah min dzalik.

+ takwa.

Kisah Nabi Yusuf (AS) juga mengajarkan kita agar berada di sisi yang benar menurut hukum Islam, dan mempercayakan semua urusan kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya orang-orang yang menyerahkan dirinya dan urusan-urusannya kepada Tuhannya, mereka adalah orang-orang yang diliputi oleh penghiburan dan kenyamanan di dalam hidupnya.

Di dalam kisahnya, Nabi Yusuf (AS) memanfaatkan kepuasan yang diberikan oleh Allah SWT untuk melawan orang-orang kafir dengan keberanian, tanpa rasa takut sedikit pun walaupun musuh-musuh di hadapannya merupakan penguasa-penguasa tertinggi di dunia pada masa itu. Nabi Yusuf tetap berdiri teguh tanpa rasa takut, dan percaya akan hasil yang telah disiapkan oleh Tuhannya di akhir riwayatnya.

+ karakter.

Terakhir, mungkin pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Yusuf (AS) adalah karakter dari seorang Yusuf itu sendiri. Beliau merupakan seorang manusia yang memiliki karakter-karakter keislaman yang sejati, seorang manusia yang berhasil memperoleh kesabaran dan kebijaksanaan, sehingga ia mampu menaklukkan setiap negara di sepanjang gurun Sahara. Nabi Yusuf merupakan seorang teladan yang luar biasa, yang dari kisahnya kita dapat belajar mengenai bagaimana seseorang dapat sukses dan berjaya walaupun berawal dari kehidupan yang sangat terpuruk.

Ketika Nabi Yusuf (AS) dibawa ke Mesir sebagai budak, ia hanyalah seorang remaja berusia 17 tahun, seseorang yang asing akan lingkungan di sekelilingnya, seseorang yang sendirian dan tidak memiliki siapa pun, seorang remaja yang tidak memiliki harta benda apa pun … dan diperjual-belikan sebagai budak. Dan mungkin patut disebutkan pula, bahwa sejarah mencatat masalah perbudakan di masa itu dinilai sangat tragis.

Tidak sampai di situ, beliau bahkan didakwa dengan sebuah fitnah, yaitu kejahatan moral yang apabila dakwa tersebut diturunkan kepada seseorang di masa sekarang, orang tersebut akan dihujani oleh kehinaan dan rasa malu yang bertubi-tubi. Nabi Yusuf (AS) kemudian didakwa dan dimasukkan ke dalam penjara untuk seumur hidupnya. Namun begitu, selama periode penderitaan ini ia malah mencerminkan kualitas moral yang sangat tinggi dari seorang manusia, dan tidak hanya membuatnya terbebas dari penjara, kesabarannya malah mengangkatnya ke dudukan tertinggi di seluruh Mesir.

lebih lanjut mengenai surah Yusuf.

Subjek dari surah ini diturunkan ketika Rasulullah (SAW) masih berdiam di kota Mekah, ketika orang-orang Quraisy tengah mempertimbangkan untuk memenjarakan, mengasingkan, dan bahkan membunuh Nabi Muhammad (SAW).

Di sisi yang lebih ramah, waktu itu beberapa orang Yahudi mengajukan pertanyaan kepada Nabi Muhammad (SAW) untuk menguji kebenaran klaimnya sebagai seorang nabi: “Mengapa orang Israel pergi ke Mesir?” Golongan tersebut tahu bahwa sejarah Bani Israil tidak pernah diajarkan kepada orang-orang Arab, karena tidak ada tradisi yang menyebutkan mereka harus mengenal kaum Israel. Karena itu, golongan tersebut berencana untuk mengekspos Nabi Muhammad sebagai seorang penipu.

Namun, bertolak belakang dengan harapan mereka, Allah SWT menurunkan wahyu-wahyunya yang berisikan tentang kisah lengkap tentang seorang nabi, yaitu Nabi Yusuf (AS), yang mana ketika ia menjadi penjabat tinggi di kerajaan Mesir, ia kerap kali berinteraksi dengan golongan-golongan yang berasal dari Palestina. Nabi Muhammad (SAW) pun membacakan firman-firman Allah di hadapan wajah-wajah orang kafir tersebut.

Hal ini membuat kaum Quraisy sangat bingung dan canggung, ke titik di mana kisah fenomenal tersebut memaksa mereka untuk menanggalkan skema dalam meruntuhkan ajaran Nabi Muhammad (SAW). Golongan Yahudi dari kaum Quraisy tersebut malah mempertimbangkan perilaku mereka, mencerminkannya dengan sifat-sifat buruk yang telah dilakukan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf (AS) kepada saudara kandungnya sendiri.

+ kepastian Allah.

Seperti yang sudah farras beritahukan di ikhtisar dari juz sebelum ini, bahwa surah Yusuf berperan sebagai penghibur di tengah-tengah kesulitan dalam menjalankan tugas Nabi Muhammad (SAW) dalam menyebarkan Islam di tengah-tengah kaum Quraisy di kota Mekah. Dan Rasulullah pun menerima seluruh wahyu-Nya dengan lapang dada, dengan bersabar, dan terus berdiri tegar di sisi yang benar menurut Tuhannya.

Sepuluh tahun kemudian, perjuangan Nabi Muhammad (SAW) dalam mengimani surah Yusuf yang difirmankan oleh Allah SWT membuahkan hasil yang nyata. Hasil tersebut mulai terlihat sekiranya dua tahun setelah golongan kaum Quraisy tersebut berniat membunuh Nabi Muhammad. Seperti halnya Nabi Yusuf yang harus berimigrasi ke tempat yang lain, Nabi Muhammad pun berhijrah dari kota Mekah ke kota Madinah, di mana ia kemudian memperoleh kuasa atas pemerintahannya seperti halnya Nabi Yusuf berkuasa di Mesir.

Lagi-lagi pada akhirnya, orang-orang Quraisy harus merendahkan diri mereka di hadapan firman-firman Allah SWT yang benar adanya, seperti halnya saudara-saudara Nabi Yusuf (AS) yang merendahkan diri di hadapan Nabi Yusuf (AS) yang waktu itu telah menjadi penguasa tinggi di kerajaan Mesir. Nabi Muhammad (SAW) pun memaafkan orang-orang Quraisy yang kemudian memutuskan untuk memeluk Islam, seperti halnya Nabi Yusuf yang dengan murah hati memaafkan saudara-saudaranya, walaupun ia sebenarnya memiliki kemampuan untuk membalas dendam.

Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

— Quran surah Yusuf, ayat 92.

Kisah Nabi Yusuf (AS) diceritakan secara lengkap di surah Yusuf, dan sejak itu kisahnya tidak diulang kembali hingga akhir dari kitab al-Quran. Allah SWT menyebutkan bahwa kisah Nabi Yusuf (AS) merupakan ahsan al-qasas, atau “yang terbaik dari kisah-kisah” karena berisi berbagai pelajaran yang bermanfaat baik dalam urusan duniawi dan agama, untuk para penguasa, cendekiawan, dan setiap orang yang sedang mengalami ujian di kehidupannya.

Sesungguhnya sangat banyak pembelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Yusuf (AS), sehingga tidak memungkinkan semuanya kita daftarkan di ikhtisar kali ini. Ada baiknya bagi Sobat untuk membaca surah Yusuf di suatu hari atau suatu malam, khususnya apabila Sobat sedang membutuhkan pedoman, dan apabila Sobat sedang merasa sulit untuk bersabar dalam menghadapi cobaan.

Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.

— Quran surah Yusuf, ayat ketujuh.

surah Ar-Ra’d.

Surah ini merupakan surah ke-13 dalam susunan al-Qur’anul karim, terdiri dari 43 ayat, dan termasuk ke dalam golongan surah Makkiyah karena banyak ayat-ayatnya diturunkan di kota Mekah. Nama Ar-Ra’d itu sendiri memiliki arti guruh petir, karena salah satu ayatnya menjelaskan tentang salah satu sifat kesucian, kesempurnaan, dan keagungan Allah SWT; sesuai dengan suara guruh petir yang menimbulkan ancaman dan harapan di dalam hati manusia, kitab Allah pun mengandung ancaman dan harapan bagi seluruh umat manusia.

Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Maha Keras siksaan-Nya.

— Quran surah Ar-Ra’d, ayat 13.

Mungkin isi yang terpenting dari surah ini adalah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat, karena sesungguhnya Allah itu Maha Adil, dan tidak ada pilih kasih dalam penetapan hukuman ilahi. Allah SWT menjelaskan bahwa balasan dan hukuman adalah akibat dari ketaatan atau keingkaran masing-masing manusia terhadap hukum Allah.

+ harapan dan ancaman dari Allah.

Bagian awal dari surah Ar-Ra’d mengutarakan tema utama dari surah ini, yaitu setiap sabda dari Nabi Muhammad (SAW) itu benar adanya, dan menolak kebenaran merupakan tindakan yang tidak disukai oleh Allah SWT. Kalimat tersebut merupakan inti sari dari seluruh surah Ar-Ra’d, karena itu pula banyak sekali ayat-ayat yang mengajak kita untuk meyakini kebenaran tentang tauhid, hari kebangkitan, serta nabi-nabi yang terdahulu dan kitab-kitabnya.

Allah SWT kemudian mengajarkan bahwa sesungguhnya orang-orang yang kufur, yaitu orang-orang yang hanya memiliki tingkat moral dan spiritual yang rendah, merupakan orang-orang yang merugi. Dan kemudian Allah menjelaskan bahwa kebodohan dan ketidaktahuan mereka merupakan akibat dari tindakan-tindakan yang mereka perbuat.

Di surah ini, Allah SWT juga mengajarkan bahwa tidak cukup apabila hanya menggunakan akal pikiran dalam memahami al-Quran, melainkan dibutuhkan juga sebuah hati untuk menerima apa yang dinamakan dengan iman. Maka dari itu, kita tidak boleh bersandar pada logika dan argumentasi semata dalam memahami kebenaran yang ada di dalam kitab al-Quran. Sesungguhnya harapan dan ancaman yang Allah berikan melalui firman-firmannya, merupakan sentuhan Allah terhadap hati manusia, agar kita dapat merendahkan hati dan melepaskan sifat keras kepala.

+ karunia dari Allah.

Sesungguhnya wahyu-wahyu Allah SWT yang terdapat di surah Ar-Ra’d datang kepada Nabi Muhammad (SAW) pada saat umat Muslim terlampau lelah dan cemas, karena pada waktu itu kerap kali menjadi korban aniaya tanpa ampun di tangan para pemimpin kafir di kota Mekah. Maka dari itu, Allah mengingatkan umat Muslim mengenai tiga hal, yaitu keesaan Allah; kemudian bahwa hidup di dunia tidak lain hanyalah kehidupan yang fana, sedangkan kehidupan yang asli menunggu kita di akhirat sana; serta peran nabi-nabi Allah, yaitu membimbing umatnya masing-masing kepada jalan kebenaran.

Allah SWT kemudian mengingatkan kembali akan tanda-tanda kekuasaan-Nya di sepanjang sejarah di masa lalu, yaitu ketika nabi-nabi Allah mengajarkan tentang keagungan dan karunia yang diberikan oleh Tuhan semesta alam. Namun selalu ada golongan orang yang keras kepala, yang mengedepankan akal pikiran daripada hati mereka. Bahkan setelah Allah berikan peringatan dan batas waktu untuk bertobat, sikap kufur di antara mereka pun akhirnya membawa kehancuran kepada diri mereka sendiri.

Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan yang menolong engkau dari (siksaan) Allah.

— Quran surah Ar-Ra’d, ayat 37.

surah Ibrahim.

Bagian terakhir dari juz ini merupakan surah Ibrahim. Surah ini terdiri dari 52 ayat, dan termasuk ke dalam golongan Makiyyah karena banyak ayat-ayatnya yang diturunkan di kota Mekah sebelum Nabi Muhammad (SAW) dan para sahabat hijrah ke Madinah. Dinamakan surah Ibrahim karena di dalam surah ini, tepatnya di ayat ke-35 hingga ayat ke-41, terdapat doa Nabi Ibrahim (AS) yang ia panjatkan kepada Tuhannya. Hingga kini, doa tersebut merupakan salah satu doa utama yang paling dikenal oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia.

Doanya antara lain berisi tentang permohonan agar keturunannya diberi kemudahan dalam mendirikan salat, dijauhkan dari sembahan-sembahan berhala, dan agar kota Mekah dan wilayah-wilayah di sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur sentosa. Doa tersebut Nabi Ibrahim (AS) panjatkan ke hadirat Allah SWT setelah ia membangun tempat beribadah bersama putranya, Ismail, di tanah Mekah yang waktu itu masih tandus. Dan kini, tempat ibadah hasil bangunan mereka dikenal dengan sebutan Kakbah.

Sama seperti surah sebelumnya, surah Ibrahim juga diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) sebagai ancaman Allah SWT terhadap orang-orang kafir. Karena apabila dibandingkan dengan waktu ketika wahyu-wahyu Allah lainnya diturunkan kepada Rasulullah, penganiayaan terhadap umat Muslim di kota Mekah pada waktu surah Ibrahim diturunkan merupakan yang paling keji. Namun begitu, Allah menjanjikan bahwa mereka tidak akan berhasil memadamkan semangat Rasulullah, atau pun mengubur pesan-pesannya.

Seperti surah Yusuf, banyak pula pembelajaran dan hal-hal positif yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim, khususnya mengenai iman dan kesabaran. Antara lain, selain doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim (AS), surah Ibrahim juga menjelaskan bahwa tujuan al-Quran adalah untuk mengarahkan umat manusia kepada cahaya; menjelaskan hubungan antara nabi-nabi dan umatnya; tentang kesesatan setan yang dibisikan kepada orang-orang kafir di dunia ini, khususnya orang-orang yang tidak tahu terima kasih; dan terakhir, peringatan Allah terhadap orang-orang yang zalim.

ayat pilihan dari juz ke-13 al-Quran.

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

— Quran surah Ar-Ra’d, ayat 11.

Terima kasih sudah membaca artikel kita hari ini! Semoga ikhtisar hari ini memberikan hidayah bagi mereka yang membutuhkan. Sadaqallahul ‘adzim! Jangan lupa untuk terus berzikir dan mengingat Allah, dan sampai jumpa esok hari di postingan kita selanjutnya! Wassalam~

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s

2 responses to “ikhtisar dari juz ke-13 al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s