ikhtisar dari juz ke-21 al-Quran

Di sesi hari ini, kita akan membahas juz ke-21 yang terdiri atas surah al-‘Ankabut ayat ke-46 hingga akhir, dan dilanjutkan dengan surah ar-Rum, surah Luqman, surah as-Sajdah, serta surah al-Ahzab.

Bismillahirrahmanirrahim~

Ayat-ayat yang terdapat di bagian pertama dari juz ini, yaitu surah al-‘Ankabut dan surah ar-Rum, diturunkan di sekitar waktu ketika pengikut Nabi Muhammad (sallallahu Ê¿alayhi wasallam) terpaksa mengungsi ke wilayah Abisinia untuk menghindar dari penindasan kaum Quraisy di kota Mekah. Ayat-ayat di dua surah selanjutnya diturunkan ketika umat Islam masih berada di Mekah, namun sebelum di masa ketika mereka menjadi bahan penindasan yang terlampau tragis.

surah al-‘Ankabut.

Kebanyakan ayat di dalam surah ini ditunjukkan untuk para sahabat dan pengikut Nabi Muhammad (SAW), agar mereka tetap kuat dalam menjaga iman mereka, dan tidak melepaskan agama Islam walaupun hidup mereka dipenuhi dengan kesulitan dan tekanan dari kerabat dan keluarga. Beberapa nama nabi pun disebutkan untuk menunjukkan bahwa jalan kebenaran sering kali bukanlah jalan yang mudah dilalui, di sana terdapat ujian dan kesulitan yang harus dilampaui oleh kesabaran. Nama-nama nabi yang disebut di surah ini di antaranya adalah Nabi Nuh, Lut, Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Syuaib, dan Musa (AS).

Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.

— Quran surah al-‘Ankabut, ayat keenam.

Di balik turunnya ayat-ayat di surah al-‘Ankabut, terdapat kota Mekah yang tidak lagi mampu menampung umat Islam yang terus-menerus menjadi objek penganiayaan. Waktu itu masyarakat dan pemerintahan Mekah pada umumnya, dan kaum Quraisy khususnya, telah memberikan kesengsaraan yang bertubi-tubi terhadap umat Islam, sehingga ayat-ayat di surah ini menginstruksikan Nabi Muhammad (SAW) dan para pengikutnya untuk mencari tempat yang tinggal yang damai di wilayah lain selain Mekah.

Hijrah ke Abisinia juga dikenal dengan sebutan Hijrah Pertama. Hal ini merupakan keputusan yang terpaksa diambil oleh Nabi Muhammad (SAW) agar para pengikutnya dapat menghindari penindasan yang terus dilemparkan oleh kaum Quraisy di kota Mekah. Sebagian sahabat nabi kembali lagi ke Mekah bersama Nabi Muhammad demi menjalankan tugasnya menyebarkan Islam, sedangkan sebagian lainnya memutuskan untuk menetap di Abisinia hingga akhirnya mereka turut hijrah ke kota Madinah bersama Nabi Muhammad sekitar empat tahun setelahnya.

surah ar-Rum.

Surah ini merupakan surah ke-30 menurut susunan al-Quran, terdiri atas 60 ayat, dan termasuk ke dalam golongan surah-surah Makkiyah. Ayat-ayat di dalam surah ar-Rum diturunkan tidak lama setelah lengkapnya surah al-Insyiqaq, yaitu surah ke-84 di dalam kitab al-Quran. Nama dari surah ini memiliki arti “Bangsa Romawi”, diambil dari ramalan yang terdapat di ayat kedua hingga keempat tentang kekalahan dan kemenangan bangsa Yunani kuno tersebut.

Surah ini mengingatkan setiap pembacanya bahwa Allah SWT merupakan satu-satunya zat yang Maha Mengendalikan segala sesuatu di alam semesta. Selain itu, umat Islam juga diajarkan agar tidak berpandangan pendek dan hanya melihat apa yang tampak, melainkan harus mulai menyadari bahwa di sana ada Pencipta yang Maha Tahu, dan hanya Dialah yang mengatur segala sesuatunya; keputusan akhir hanya terdapat di tangan Allah; dan semuanya akan terungkap di hari akhirat nanti, bahwa janji-janji Allah selalu benar adanya.

Ada tiga tema utama yang mendasari ayat-ayat di dalam surah ar-Rum. Yang pertama adalah yaqin, atau “kepastian” dan iman atas setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. Yang kedua adalah siklus perubahan yang mana mengajarkan kita untuk bersabar, seperti halnya roda kehidupan yang kadang membawa kita terpuruk di paling bawah, namun selalu ada saat di mana kita kembali ke atas. Dan yang ketiga, adalah pembelajaran tentang sunan, atau “cara-cara” dan bimbingan Allah tentang bagaimana kita harus berurusan dengan bangsa-bangsa, serta bagaimana seharusnya menghadapi konflik sebagai seorang Muslim.

+ fitrah alam semesta.

Topik mengenai hal tersebut dimulai ketika bangsa Arab mulai melihat runtuhnya kekaisaran Romawi, namun al-Quran kemudian menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun ke depan kekaisaran tersebut akan bangkit kembali dan menjadi penguasa di tengah-tengah masa peperangan waktu itu. Al-Quran kemudian menunjukkan sifat buruk manusia yang terbiasa hanya melihat apa yang tampak, dan sering kali kebiasaan tersebut malah menyebabkan kesalahpahaman dan salah perhitungan. Maka dari itu, firman-firman Allah di dalam surah ini mengajarkan kita untuk bertanggung jawab, serta menempatkan kepercayaan kepada Allah terlebih dahulu daripada kepada apa yang terlihat dan tampak di dunia ini.

Kekaisaran Romawi yang waktu itu sedang ramai dibicarakan adalah Byzantium, dan mereka sedang melanda konflik dengan pihak Persia. Dari sana, al-Quran mengalihkan wacana kepada tema tentang hari akhirat. Hingga ayat yang ke-27, Allah SWT menjelaskan bahwa daripada mengurusi urusan dunia, lebih baik kita mengalihkan perhatian kita kepada urusan akhirat. Karena dengan mendasari semuanya dengan keyakinan tentang adanya akhirat, seluruh umat manusia di bumi akan memiliki sistem kehidupan yang lebih stabil dan seimbang; namun sebaliknya, kita akan terus melakukan kesalahan yang menyebabkan kerugian bagi banyak pihak apabila kepercayaan kita hanya didasari oleh apa yang tampak di dunia ini.

Oleh karena itu, tema tauhid kembali diangkat ke permukaan dengan menyajikan tanda-tanda keesaan Allah yang terdapat di banyak sisi alam semesta; sesungguhnya Allah merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan; maka dari itu seluruh umat manusia pun diajak untuk percaya pula akan adanya hari akhir.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.

(Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.

Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

— Quran surah ar-Rum, ayat 30-32.

Dari sana, ayat-ayat selanjutnya di surah ini menegaskan kembali hukum tentang berbuat syirik, dan menekankan kembali bahwa kedamaian seluruh umat manusia hanya akan terwujud apabila kita semua hidup untuk melayani Tuhan yang satu, yaitu tidak lain selain Allah; menjelaskan bahwa kepercayaan kepada lebih dari satu tuhan menentang sifat alam semesta, dan sifat politeisme tersebut merugikan sifat bawaan manusia. Salah satu contoh yang diberikan di surah ini adalah setiap kalinya sifat politeisme diadopsi oleh suatu kaum, maka di saat yang sama sifat korupsi pun akan muncul di tengah-tengah kaum tersebut.

Allah kemudian memberikan perumpamaan tentang kehidupan dan kematian, seperti halnya tanah yang mati kembali hidup dengan air hujan yang diturunkan oleh hukum Allah … bahwa ketika Nabi Muhammad (SAW) datang dengan menyebarkan ajaran-ajaran dari tuhannya, saat itu juga Allah memberikan kita kehidupan yang baru bagi umat manusia, dan dari sana pula kita akan tumbuh dan terus berkembang.

surah Luqman.

Surah ini merupakan surah ke-31 menurut susunan al-Quran, terdiri atas 34 ayat, dan termasuk ke dalam golongan surah-surah Makkiyah. Ayat-ayat di dalam surah Luqman diturunkan tidak lama setelah lengkapnya surah as-Saffat, yaitu surah ke-37 di dalam kitab al-Quran. Nama dari surah ini diambil dari kisah tentang Luqman, yaitu seseorang yang dikenal tentang kebijaksanaannya walaupun al-Quran itu sendiri tidak menyatakan bahwa orang tersebut merupakan seorang nabi.

Surah ini melanjutkan pembahasan secara kritis mengenai tauhid dan syirik. Allah SWT menjelaskan bahwa tidak semua ajaran yang diajarkan oleh nenek moyang kita itu benar adanya, seperti halnya syirik. Allah menggambarkan siapa saja yang tetap memelihara sifat syirik merupakan orang-orang yang bertingkah laku seperti babi yang buta.

Karena itu, sebagian besar dari surah ini secara khusus menceritakan tentang seorang lelaki tua bernama Luqman, atau lebih tepatnya, tentang nasihat-nasihat yang Luqman berikan kepada putranya tentang iman dan tauhid. Salah satu tema yang ditekankan kembali adalah bahwa ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Islam bukanlah hal-hal yang baru, melainkan pelengkap dan penguat ajaran-ajaran milik para nabi sebelumnya.

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

— Quran surah Luqman, ayat 13.

Ada dua tema utama yang mendasari surah Luqman. Tema pertama di dalam surah ini menyangkut tentang tarbiyah alias moral, pengajaran, dan pendidikan yang harus kita turunkan ke setiap keturunan kita. Sedangkan tema yang kedua menyangkut tentang apa-apa yang harus kita siapkan dalam menghadapi hari akhirat.

Ketika ayat-ayat di dalam surah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW), kebanyakan orang telah dibuat meyakini sifat syirik sebagai dasar kehidupan mereka, padahal ketuhanan yang tidak satu merupakan salah satu dosa paling besar di hadapan Allah SWT. Maka dari itu, Nabi Muhammad mengajak mereka melepaskan sifat syirik yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, dan sebagai gantinya, mempertimbangkan sifat tauhid dengan adil, serta mengimani keesaan Allah sebagai Tuhan dari seluruh alam semesta.

surah as-Sajdah.

Surah ini merupakan surah ke-32 menurut susunan al-Quran, terdiri atas 30 ayat, dan termasuk ke dalam golongan surah-surah Makkiyah. Ayat-ayat di dalam surah as-Sajdah diturunkan tidak lama setelah lengkapnya surah al-Mu’minun. Nama dari surah ini diambil dari kata “sujud” yang terdapat di ayatnya yang ke-15.

Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.

— Quran surah as-Sajdah, ayat 15.

Surah ini membahas tentang keraguan dan beberapa argumen yang dilemparkan orang-orang non-Muslim tentang prinsip-prinsip Tauhid, berbagai ilmu yang terdapat di dalam al-Quran, serta hari akhirat. Padahal sebelumnya, banyak wahyu Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) tentang ajakan terhadap seluruh manusia untuk berpikir dan bercermin pada diri mereka sendiri, serta tentang sifat-sifat ketuhanan yang terdapat di sekeliling mereka.

Turunnya al-Quran itu tidak ada keraguan padanya, (yaitu) dari Tuhan seluruh alam.

— Quran surah as-Sajdah, ayat kedua.

Di surah ini, Allah kembali menjelaskan bahwa di balik setiap hal di Bumi ini terdapat Pencipta yang Bijaksana, dan bahwa Allah tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Ayat-ayat yang terdapat di surah as-Sajdah merupakan bimbingan-Nya untuk menghilangkan keraguan atas sifat tauhid, hari akhirat, dan kenabian Nabi Muhammad (SAW).

surah al-Ahzab.

Surah ini merupakan surah ke-33 menurut susunan al-Quran, terdiri atas 73 ayat, dan termasuk ke dalam golongan surah-surah Madaniyah. Ayat-ayat di dalam surah al-Ahjzab diturunkan setelah lengkapnya surah Ali Imran. Nama dari surah ini memiliki arti “sekutu/kelompok-kelompok” karena di dalamnya terdapat beberapa ayat yang membahas tentang konflik peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi yang waktu itu bersekutu dengan suatu golongan orang munafik dan orang-orang musyrik, terhadap orang-orang beragama Islam di kota Madinah.

Namun begitu, selengkapnya dari surah ini akan dibahas di ikhtisar selanjutnya, karena tidak banyak ayat dari surah al-Ahzab yang termasuk ke dalam juz ke-21.

Sadaqallahul ‘adzim~

ayat pilihan dari juz ke-21 al-Quran.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah.

— Quran surah Luqman, ayat 33.

Terima kasih sudah membaca tulisan farras hari ini! Semoga Sobat-sobat semuanya dapat mengambil hikmah dari ikhtisar hari ini. Apabila Sobat mendapatkan sesuatu yang bermanfaat, jangan lupa like dan share postingan kali ini. Dan seperti biasa, jangan sampai putus zikirnya kepada Allah, dan sampai jumpa esok hari di postingan kita selanjutnya!

Wassalam~

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s   f i l ‘ a z i s

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s