penjelasan Yusnar Yusuf Rangkuti dan Din Syamsuddin tentang isu radikalisme

Ketua Wantim MUI (Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia), Din Syamsuddin, menyatakan bahwa Wantim MUI kini tengah memprihatinkan pengembangan narasi radikalisme yang ditujukan kepada umat Islam. Menurutnya, tendensius tersebut sama sekali tidak proporsional, dan tuduhan bahwa Islam adalah agama radikal merupakan tuduhan sepihak yang tidak memiliki dasar berkeadilan.

▸ “[…] agar isu radikalisme tidak dikembangkan secara sepihak peyoratif tendensius ke Islam. Radikalisme sampai tingkat ekstremisme itu bisa masuk ke berbagai aspek seperti negara, keagamaan, politik, sosial dan sebagainya,” kata Din Syamsuddin dalam jumpa pers secara daring, hari Selasa (28.07.2020).

Mantan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah ini mengatakan bahwa radikalisme dapat melanda umat mana pun dan agama mana saja. Selain itu, radikalisme dan ekstremisme juga tidak selalu didasari oleh agama, melainkan juga dapat bermotif ketimpangan ekonomi yang dilakukan oleh pihak berbasis perekonomian yang kemudian menyengsarakan golongan lain yang lebih lemah.

baca juga: pesan Gus Miftah untuk sobat yang suka main media sosial

Menurut Din, benih radikalisme dan ekstremisme dapat berangkat dari kesenjangan ekonomi dan politik, bahkan di tengah-tengah pembangunan dan lembaga hukum. Maka dari itu, tuduhan yang seakan-akan menyalahkan agama Islam atas ketidakadilan tersebut sama sekali tidak proporsional.

▸ “Radikalisme dan ekstremisme terdapat di setiap lingkaran umat beragama di dunia ini,” katanya. “Cara menuduh kelompok lain radikal dan ekstrem itu bentuk radikal dan ekstrem itu sendiri.”

Sementara itu, Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama MUI, KH. (Kiai Haji) Yusnar Yusuf Rangkuti, mengatakan bahwa paham radikal terorisme adalah suatu ajaran pemikiran yang menyimpang dari paham yang sebenarnya tentang Islam itu sendiri. Dan menurutnya, terbentuknya pemikiran yang menyimpang dari agama Islam itu dikarenakan memahami ajaran Islam secara tidak sempurna dan tidak mendalam.

▸ “[…] kemudian memandang orang lain itu tidak sesuai dengan pandangan dia, inilah yang kemudian menjadi paham radikal. Padahal paham yang benar tentang Islam itu tentunya adalah ya’lu wala yu’la ‘alaihi yang artinya adalah, Islam itu adalah suatu agama yang lebih tinggi dari pada agama yang lain sehingga tidak perlu khawatir,” ujar KH. Yusnar Yusuf Rangkuti.

Tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah ini kemudian menjelaskan bahwa salah satu cara untuk membendung penyebaran paham radikalisme adalah melalui dakwah tanpa henti, sehingga pandangan-pandangan yang melancong tersebut dapat terluruskan.

▸ “Dakwah harus terus dilakukan tanpa henti untuk memberikan pandangan yang benar dan meluruskan padangan-pandangan yang melenceng terhadap Islam itu tadi. Sehingga masyarakat memiliki paham yang benar bahwa Islam itu adalah agama yang rahmatan lil alamin (rahmat semesta alam) dan tidak mengajarkan kekerasan ataupun melakukan aksi terorisme,” tutur pria tersebut.

Yusnar kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya perbedaan pendapat di agama Islam adalah kerutinan yang sudah sering terjadi sejak masa lampau. Dan salah satu contohnya di masa kini, adalah mengenai kebijakan salat Jumat di tengah-tengah masa pandemik virus corona. Hal tersebut sempat menjadi pembahasan di media sosial, dibuat terlampau rumit padahal seharusnya umat Islam dapat menemukan solusi bersama secara tertib.

Yusnar juga menambahkan mengenai perlunya moderasi beragama untuk menanamkan sikap toleransi keberagamaan di masyarakat. Menurutnya, imunitas terhadap paham radikal itu sudah ada pada diri masing-masing masyarakat Indonesia, namun demikian, imunitas itu juga perlu dibantu dengan ‘vaksin anti-radikalisme’ untuk meningkatkan kekuatannya dalam melawan virus radikalisme yang menyimpang jauh dari kebenaran.

Sementara itu, Yusnar juga mengimbau setiap Muslim di Indonesia untuk kembali memunculkan keramahtamahan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang dulu. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar sesama warga bangsa ini, dan tidak pula melupakan warga bangsa lainnya.

▸ “Kembalilah kita galakkan senyum yang ramah kepada semuanya, karena dengan senyum itu akan terlihat bahwasanya bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang ramah, bangsa yang sangat toleran,” ujarnya mengakhiri nasihatnya.

©  t h e  I s l a m  W e b s i t e
e d i t o r :  f a r r a s   f i l ‘ a z i s

s u m b e r   r e f e r e n s i

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s