ikhtisar dari juz ke-26 al-Quran

Selamat datang di the Islamweb.site, para Sobat yang insya-Alllah hatinya dipenuhi oleh kedamaian dan belas kasihan, serta diberkati oleh Allah Subhanahu wa Tal’ala! Bagi kamu, Sobat yang baru pertama mengunjungi situs kita, selamat datang juga di seri 30 juz menjelang Iduladha, kesempatan farras untuk mengikhtisarkan setiap juz dari al-Quran sebelum Hari Raya Iduladha datang!

Alhamdulillah, kita sudah berada di lima sesi terakhir sebelum kita menuntaskan seluruh kitab al-Quran, insya-Allah. Melanjutkan akhir dari surah al-Jasiyah, hari ini kita akan memulai ringkasan juz ke-26 dari surah al-Ahqaf. Namun, struktur postingan kali ini akan sedikit berbeda dari 25 ikhtisar sebelumnya, karena lima juz terakhir tersusun atas 68 surah, dan itu artinya lebih dari setengah total surah di dalam kitab al-Quran.

Maka dari itu, mulai dari sesi kali ini hingga juz terakhir nanti, kita akan meringkas setiap surah terlebih dahulu dengan lebih ringkas- jauh lebih ringkas, dan baru kemudian mengambil ikhtisar dari keseluruhan juz tersebut secara keseluruhan, dan tidak per bagian.

surah-surah dari juz ke-26 al-Quran.

  • al-Ahqaf (Bukit-bukit Pasir)

  • Muhammad

  • al-Fath (Kemenangan)

  • al-Hujurat (Kamar-kamar)

  • Qaf

  • az-Zariyat (Angin yang Menerbangkan) ayat 1-30

Juz yang satu ini merupakan campuran dari berbagai surah yang diturunkan di tahun-tahun awal Islam, namun juga ayat-ayat yang diturunkan di tahun-tahun kemudian setelah Islam berjaya; sebagian dari ayat-ayatnya diturunkan di saat periode Mekah, dan sebagian lainnya diturunkan ketika kota Madinah telah menjadi pusat politik dan sosial dari pemerintahan Nabi Muhammad (sallallahu Ê¿alayhi wasallam), setelah umat Islam berdaulat di seluruh penjuru Arab.

Lebih tepatnya, surah al-Ahqaf, surah Qaf, dan surah az-Zariyat diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) ketika umat Islam masih berada di bawah penganiayaan kaum Quraisy di Mekah. Para ahli tafsir dan sejarah mengatakan bahwa ayat-ayat di dalam surah Qaf dan surah az-Zariyat merupakan beberapa wahyu Allah yang diturunkan paling awal, yaitu sekitar di tahun ketiga hingga tahun kelima sejak Muhammad diangkat menjadi seorang nabi. Waktu itu, walaupun belum sepenuhnya berada di bawah penganiayaan yang bertubi-tubi oleh kaum Quraisy dan para pemimpin Mekah, para pengikut Nabi Muhammad (SAW) sudah mulai diperlakukan dengan tidak baik, ditolak di berbagai tempat layaknya sekelompok orang yang tidak memiliki kehormatan sama sekali, dan kian dilempari ejekan dan hinaan secara terang-terangan.

Setelah umat Islam berhijrah ke kota Madinah, ayat-ayat di dalam surah Muhammad pun diturunkan. Masa tersebut adalah periode ketika para pengikut Nabi Muhammad (SAW) sudah terhindar dari bahaya penganiayaan masyarakat kafir di Mekah, walaupun begitu, kaum Quraisy masih belum rela melepaskan penganiayaan mereka terhadap Nabi Muhammad (SAW) dan para pengikutnya. Maka dari itu, wahyu Allah pun turun yang memerintahkan umat Islam untuk membela hak mereka. Namun begitu, aktivitas perjuangan di medan perang belum dimulai di masa ini.

Beberapa tahun kemudian ayat-ayat di dalam surah al-Fath pun diturunkan, yaitu tepat setelah gencatan senjata dan kedamaian dapat tercapai, ketetapan yang diputuskan bersama dengan kaum Quraisy. Ketetapan tersebut dikenal dengan sebutan Perjanjian Hudaibiyyah, dan ketetapan tersebut merupakan sebuah kemenangan dan prestasi besar bagi seluruh umat Islam, karena dengan itu penganiayaan umat Islam di kota Mekah pun dapat berakhir.

Beberapa periode berlalu, hingga akhirnya ayat-ayat di dalam surah al-Hujurat pun diturunkan. Berbeda dari surah-surah yang telah disebutkan sebelumnya, ayat-ayat di dalam surah al-Hujurat tidak diturunkan secara bersamaan di periode yang sama. Namun begitu, ayat-ayat yang tersebar di berbagai masa hidup Nabi Muhammad (SAW) ini membahas mengenai tema yang sama, yaitu sistem kehidupan yang lebih baik di kota Madinah.

ikhtisar.

Juz yang satu ini dibuka oleh peringatan Allah terhadap orang-orang kafir tentang dosa-dosa mereka, khususnya tentang keyakinan mereka atas berhala-berhala yang mereka buat, serta penilaian mereka terhadap ajaran-ajaran Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad (SAW). Waktu itu, mereka kerap menyebarkan kebohongan-kebohongan tentang Nabi Muhammad (SAW) agar kehormatannya hilang di mata masyarakat Mekah, dan secara terang-terangan menodai nama baik Isam.

Ajaran yang Nabi Muhammad (SAW) sebarkan pada waktu itu adalah agar masyarakat Mekah meninggalkan berhala-berhala mereka, dan menyembah Tuhan Yang Maha Satu sebagai gantinya. Padahal waktu itu, Rasulullah (SAW) sama sekali tidak menyebarkan Islam dengan cara kekerasan, dan sama sekali tidak menggunakan sifat paksaan, melainkan sifat sabar walaupun mereka bersikeras pada tradisi nenek moyang mereka, dan bahkan memancing perdebatan dengan membuat berbagai alasan sebagai pembenaran diri sendiri yang kian menjauh dari Allah.

Tidak hanya sampai di sana, orang-orang kafir di Mekah pada waktu itu merasa mereka jauh lebih unggul daripada Nabi Muhammad (SAW), sehingga mereka tidak pernah merasa bersalah dalam menindas siapa saja yang secara terang-terangan mengaku memeluk agama Islam, termasuk Nabi Muhammad itu sendiri. Allah SWT mengutuk sifat tersebut, siapa saja yang membaca wahyu-Nya mendapatkan penjelasan bahwa Nabi Muhammad (SAW) hanyalah manusia biasa yang mengemban tugas sederhana, yaitu untuk menyebarkan kebaikan seperti halnya berperilaku baik, merawat orang tua, dan memberi makan orang miskin.

+ surah Muhammad.

Banyak ayat di dalam surah Muhammad yang menekankan pentingnya membela diri ketika kita sedang berada di bawah penganiayaan. Sebelumnya di kota Mekah, orang-orang yang beriman mengalami banyak siksaan dan penderitaan di bawah penganiayaan kaum Quraisy dan para pemimpin Mekah, sehingga setelah memindahkan pusat operasi ke kota Madinah, umat Islam untuk pertama kalinya mendapatkan kesempatan untuk membela kaum mereka, bahkan di medan perang apabila diperlukan.

Ayat-ayat di dalam surah Muhammad mungkin tampak lebih agresif dan sedikit keras apabila dibandingkan dengan wahyu-wahyu Allah yang diturunkan di surah-surah lainnya, namun ketegasan ini diperlukan karena umat Islam hingga saat itu belum pernah mendapatkan kesempatan dalam membela diri mereka sendiri, serta saudara dan saudari seiman. Seperti yang kita tahu, bahwa sebelum periode ini, wahyu-wahyu Allah lebih menekankan orang-orang yang beriman untuk berunding dan bersabar.

Selain itu, Allah juga memperingatkan orang-orang munafik yang mengaku beriman, padahal sesungguhnya mereka masih menyembah berhala, sehingga ketika agama Islam dilanda oleh kesulitan, hati mereka yang lemah malah menjauhkan diri mereka dari syariat Islam. Allah menggolongkan orang-orang tersebut sebagai golongan yang tidak dapat diandalkan untuk melindungi saudara dan saudari seiman mereka.

Selanjutnya, ayat-ayat di dalam surah Muhammad juga meyakinkan orang-orang yang beriman akan bantuan Allah dalam perjuangan dan jihad mereka. Sesungguhnya terdapat petunjuk Allah dalam setiap langkah perjuangan dan jihad setiap orang yang beriman, dan sesungguhnya terdapat imbalan yang luar biasa untuk setiap pengorbanan sekecil apa pun itu.

Hal ini berlaku sebagai tanggapan atas situasi umat Islam yang waktu itu masih berjumlah sedikit dan tidak memiliki perlengkapan yang cukup untuk pergi berperang, sedangkan musuh di medan perang terlihat jauh lebih mapan. Maka dari itu, umat Islam diperintahkan untuk menjauhi sifat-sifat lemah dan melankolis. Sebaliknya, mereka diperintahkan untuk berjuang bertahan hidup, bahkan untuk rela mengorbankan harta benda mereka demi perjuangan. Karena pada akhirnya, siapa saja akan menang apabila mereka berada di sisi Allah SWT.

+ surah al-Fath dan al-Hujurat.

Dikisahkan di dalam surah al-Fath ketika kemenangan telah datang bagi agama Islam. Surah itu sendiri memiliki arti “Kemenangan”, dan mengacu pada Perjanjian Hudaibiyah yang merupakan tanda berakhirnya pertempuran antara orang-orang kafir dan orang-orang Muslim di Mekah.

Di sini pula Allah membuktikan kuasa-Nya kepada orang-orang yang munafik, yaitu mereka yang sebelumnya berpura-pura beriman kepada Allah, padahal sebenarnya tidak percaya kemenangan akan digenggam oleh agama Allah. Dan sebaliknya, Allah memuji orang-orang Muslim, yaitu mereka yang membela diri serta saudara dan saudari seiman dari penindasan orang-orang kafir, tanpa nafsu balas dendam pada mereka yang sebelumnya telah menyakiti mereka.

Di surah selanjutnya, orang-orang yang beriman diingatkan kembali tentang sopan santun ketika kita saling bercengkerama satu sama lain, yaitu moral menurut ajaran Islam di mana kita dapat saling menjaga kehormatan satu sama lain. Allah membawa kembali tema akhlak ke permukaan karena tema tersebut merupakan perihal yang sangat penting demi berlanjutnya kehidupan dan perdamaian umat Islam di kota Madinah. Di surah al-Hujurat ini, banyak binaan Allah yang sifatnya lebih ke bimbingan dan masalah teknis.

+ pelajaran-pelajaran tersebut tidak lain adalah sebagai berikut: …

  • Merendahkan suara ketika berbicara;
  • Sabar;
  • Tidak mudah percaya akan gosip atau desas-desus yang menyebar di sekitar masyarakat;
  • Berdamai ketika terjadi pertengkaran;
  • Menjauhkan diri dari fitnah;
  • Menahan diri dari bergosip;
  • Melawan nafsu untuk memanggil satu sama lain dengan nama panggilan yang buruk;
  • Serta menahan diri dari keinginan untuk memata-matai sesama Muslim.

+ surah Qaf dan az-Zariyat.

Juz ke-26 ditutup oleh kedua surah yang membawa tema tentang hari akhirat, mengingatkan kembali orang-orang yang beriman akan hari akhir di mana kita akan menghabiskan kehidupan yang abadi. Allah juga kembali mengingatkan kita tentang berbagai kaum di masa lalu yang membangkang ajakan nabi dan rasul mereka, kisah-kisah yang berakhir dengan turunnya azab Allah bagi mereka yang zalim dan keras kepala. Maka dari itu, Allah menegaskan bahwa dunia ini adalah fana, dan betapa pentingnya kehidupan kita di akhirat nanti.

Khususnya di dalam surah Qaf, terdapat banyak pembelajaran dari Allah yang Nabi Muhammad (SAW) sering khotbahkan kepada para pengikutnya. Menurut banyak ahli tafsir dan sejarah, ayat-ayat tersebut sering kali Rasulullah (SAW) ceramahkan di banyak kesempatan ibadah Jumat, serta setelah salat Subuh.

Setiap Muslim yang membaca surah Qaf dan az-Zariyat diajarkan kembali mengenai tauhid, sedangkan orang-orang non-Muslim diajak untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di kedua surah ini, Allah menunjukkan banyak tanda-tanda akan keesaan-Nya yang berserakan di banyak penjuru dunia, berbagai rahmat dan karunia Allah yang menakjubkan. Selain itu, kedua surah ini juga menjelaskan bahwa iman kepada Allah merupakan satu-satunya kepastian yang dapat menjauhkan kita dari azab-Nya.

ayat pilihan dari juz ke-26 al-Quran.

نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَمَآ اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍۗ فَذَكِّرْ بِالْقُرْاٰنِ مَنْ يَّخَافُ وَعِيْدِ ࣖ

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Quran kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku.

— Quran surah Qaf, ayat terakhir.

Oof … sepertinya ikhtisar kali ini tetap berakhir dengan postingan yang terlampau panjang. Well, insya-Allah akan farras usahakan untuk meringkas ikhtisar juz selanjutnya lebih pendek dari ikhtisar kali ini.

Anyways, sadaqallahul ‘adzim, wassalam!

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s   f i l ‘ a z i s

3 responses to “ikhtisar dari juz ke-26 al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s