ikhtisar dari juz ke-27 al-Quran

Alhamdulillah, kita sudah menginjak hari terakhir di bulan Juli, yang artinya esok hari insya-Allah ktia akan merayakan Hari Raya Iduladha. Dan melanjutkan program kita, insya-Allah hari ini kita akan membahas juz ke-27 hingga juz terakhir dari al-Qur’anul karim. Seperti yang telah dijelaskan di ikhtisar sebelumnya, farras akan meringkas lima juz terakhir ini sependek mungkin yang farras bisa.

Bismillahirrahmanirrahim~

surah-surah dari juz ke-27 al-Quran.

  • az-Zariyat (Angin yang Menerbangkan) ayat 31 hingga akhir

  • at-Tur (Bukit Tursina)

  • an-Najm (Bintang)

  • al-Qamar (Bulan)

  • ar-Rahman (Maha Pengasih)

  • al-Waqi’ah (Hari Kiamat)

  • al-Hadid (Besi)

Ayat-ayat yang terdapat di dalam surah-surah tersebut kebanyakannya diturunkan sebelum umat Islam hijrah ke kota Madinah. Waktu itu, pengikut Nabi Muhammad (sallallahu Ê¿alayhi wasallam) masih berjumlah sedikit, dan mereka kerap kali menjadi bahan pelecehan dan aniaya orang-orang kafir hanya karena mereka beragama Islam. Namun begitu, surah terakhir dari juz ini, yaitu surah al-Hadid, termasuk ke dalam golongan surah-surah Madaniyah.

ikhtisar.

Karena sebagian besar ayat-ayat tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) di awal periode Mekah, yaitu sebelum penganiayaan meluas dan lebih serius, tema utama yang terdapat di bagian awal juz ini sebagian besar berkisar pada hal-hal dasar dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pertama dan terutama, Allah mengajarkan seluruh manusia tentang tauhid, serta khususnya mengundang orang-orang kafir untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Orang-orang kafir di Mekah diajarkan mengenai hari akhirat, dan Allah peringatkan pula bahwa setelah kematian datang mencabut nyawa mereka, tidak akan ada kesempatan kedua untuk menerima kebenaran dari Allah. Selain itu, kebanggaan palsu dan keras kepala mereka merupakan sifat-sifat buruk yang sebelumnya merupakan alasan Allah menurunkan azab-Nya terhadap kaum-kaum terdahulu.

Sesungguhnya hari penghakiman akan datang kepada mereka setelah kematian, dan tidak akan ada yang mampu mencegah kedatangannya. Maka dari itu, Allah mengkritik orang-orang kafir di Mekah yang kian menertawakan Rasulullah (SAW) dan secara keliru menuduhnya sebagai orang gila, dan bahkan tukang sihir. Namun begitu, seperti ayat-ayat lainnya yang diturunkan di periode Mekah, Allah menyarankan Nabi Muhammad (SAW) dan para pengikutnya untuk bersabar dalam menghadapi cobaan.

Ayat-ayat selanjutnya merupakan bimbingan Allah mengenai tata cara berdakwah, baik itu secara sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan. Ajaran-ajaran di dalam surah an-Najm merupakan bagian pertama yang Nabi Muhammad (SAW) khotbahkan secara terbuka. Beliau biasanya berdiri dan mengadakan sebuah lingkaran pertemuan di dekat Kabah, yaitu tempat di mana orang-orang kafir sering berkumpul.

Melalui penyampaian Nabi Muhammad (SAW), Allah mengkritik masyarakat Mekah yang waktu itu masih menyembah para dewa dan dewi palsu mereka; mereka juga dinasihati karena tidak mampu melepaskan tradisi dan agama palsu yang diturunkan oleh nenek moyang mereka; dan Allah juga menyarankan orang-orang kafir tersebut untuk mempertanyakan kebenaran dari kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala buatan mereka sendiri. Sesungguhnya hanya Allah yang mampu menciptakan dan memelihara segalanya, dan Dia tidak membutuhkan bantuan dari para dewa dan dewi palsu mereka.

Sebelum memasuki surah al-Qamar, Allah juga menyatakan kembali bahwa Islam bukanlah agama yang baru, bahwa sesungguhnya pesan-pesan yang disebarkan oleh Nabi Muhammad (SAW) merupakan ajaran-ajaran yang telah disebarkan pula oleh Nabi Ibrahim (Ê¿alayhissalam) dan Musa (AS). Dari sana, Allah menjelaskan bahwa Islam merupakan agama pelengkap dari agama-agama terdahulu yang bahkan pada masa Rasulullah (SAW) telah tercemar. Sesungguhnya tidak ada satu pun golongan yang lebih unggul di hadapan Allah selain daripada mereka yang memeluk agama Islam.

Ayat-ayat di dalam surah ar-Rahman merupakan pesan-pesan Allah yang menguraikan dengan jelas mengenai belas kasihan Allah terhadap makhluknya. Di dalamnya, terdapat banyak ayat yang memiliki bunyi yang sama, yaitu pertanyaan retorika mengenai kasih sayang Allah yang tidak kita syukuri. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Padahal sesungguhnya petunjuk-Nya yang telah sampai kepada kita merupakan salah satu dari banyak rahmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya; sesungguhnya alam semesta yang dibangun dengan seimbang pun merupakan salah satu bentuk kasih sayang-Nya; dan sesungguhnya terpenuhinya segala kebutuhan kita untuk hidup di Bumi merupakan salah satu bentuk kasih sayang-Nya.

Namun begitu, satu-satunya yang Allah minta dari kita adalah imannya kepada Dia yang telah meniupkan kehidupan ke dalam diri kita. Karena itu, sesungguhnya hidup segala yang kita miliki pada dasarnya hanya milik Allah semata. Karena pada akhirnya, semua manusia akan dibangkitkan kembali di hari pembalasan, dan semua manusia akan dihakimi akan segala sesuatu yang telah kita kerjakan di muka Bumi. Namun Allah berjanji, bahwa siapa saja yang menaruh keimanannya di tangan Allah, maka ia akan menerima hadiah dan berkah yang tidak terhitung di akhirat nanti.

Ayat-ayat yang terdapat di bagian akhir dari juz ini diturunkan kepada Nabi Muhammad (SAW) setelah ia dan seluruh umat Islam telah berhijrah ke kota Madinah. Setelah membangun pusat politik dan sosial di sana, Allah memerintahkan seluruh umat Islam untuk terlibat dalam pertempuran melawan musuh-musuh Islam; mereka didorong untuk mendukung perjuangan, dengan dana atau pun jiwa dan raga mereka.

Setiap umat Islam diajarkan untuk rela berkorban demi tujuan yang jauh lebih besar daripada diri pribadi mereka. Ayat-ayat di bagian akhir juz ini menjelaskan bahwa kehidupan fana yang Allah berikan kepada kita tidak selalu akan diisi oleh hiburan dan kesenangan, namun sebagai penghibur, Allah juga menjanjikan berkah yang lebih dahsyat bagi siapa saja yang tidak serakah akan harta benda dan kenikmatan duniawi mereka.

Secara singkat, Allah juga memperingatkan kita agar mengambil pelajaran dari kaum-kaum yang terdahulu, yaitu orang-orang yang memalingkan punggungnya ketika nabi dan rasulnya meminta mereka untuk mengulurkan tangan. Naudzubillah min dzalik.

ayat pilihan dari juz ke-27 al-Quran.

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan, hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.

— Quran surah al-Hadid, ayat 25.

Alhamdulillah, kali ini ikhtisarnya dapat lebih ringkas daripada ikhtisar sebelumnya. Rencananya, ikhtisar dari tiga juz terakhir juga akan dibuat seringkas mungkin, insya-Allah. Anyways, terima kasih sudah membaca postingan kali ini, semoga ada hikmah yang dapat Sobat ambil dari ikhtisar kali ini.

Jangan ke mana-mana, insya-Allah ikhtisar dari juz ke-28 juga akan diposting tidak lama setelah postingan ini diterbitkan di the Islamweb.site. Tapi untuk kali ini, sadaqallahul ‘adzim, wassalam!

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s   f i l ‘ a z i s

One response to “ikhtisar dari juz ke-27 al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s