ikhtisar dari juz ke-28 al-Quran

Semoga kedamaian, rahmat, dan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala menyertai Sobat-sobat semuanya!

Lebih dari satu bulan yang lalu, tepatnya di tanggal satu Juli, farras mulai menulis sesi-sesi yang kini kita sebut dengan 30 juz menjelang Iduladha, di mana farras berupaya untuk mencatat berbagai pelajaran yang dapat farras ambil dari wahyu-wahyu Allah, al-Qur’annul karim. Kali ini, kesempatan farras untuk meringkas juz ke-28! Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, insya-Allah farras akan berusaha merumuskan lima juz terakhir ini sesingkat mungkin.

Bismillahirrahmanirrahim~

surah-surah dari juz ke-28 al-Quran.

  • al-Mujadalah (Gugatan)

  • al-Hasyr (Pengusiran)

  • al-Mumtahanah (Wanita Yang Diuji)

  • as-Saff (Barisan)

  • al-Jumu’ah (Jumat)

  • al-Munafiqun (Orang-orang Munafik)

  • at-Tagabun (Pengungkapan Kesalahan)

  • at-Talaq (Talak)

  • at-Tahrim (Pengharaman)

Sebagian besar dari ayat-ayat yang terdapat di dalam surah-surah di atas diturunkan setelah umat Islam hijrah ke kota Madinah, yaitu periode ketika umat Islam dapat hidup dengan damai di bawah komunitas Islam, serta sosial dan politik Islam yang terus berkembang di seluruh penjuru Arab. Tema-tema yang terdapat di dalam juz ke-28 ini sebagian besarnya berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari, berbagai panduan mengenai akhlak, serta solusi atas berbagai masalah yang dihadapi umat Islam pada waktu itu.

ikhtisar.

Sebagian besar dari juz ini membahas mengenai hal-hal yang praktis, berbagai contoh dan bimbingan Allah dalam menjalani gaya hidup yang Islami, seperti halnya bagaimana umat Islam berinteraksi dengan komunitas antar agama, serta berbagai aturan hukum yang hendak memastikan kedamaian di negara Islam. Di tahun-tahun awal ketika Nabi Muhammad (SAW) dan umat Islam mendirikan sebuah komunitas Islami di Madinah, mereka menghadapi banyak masalah yang tidak pernah mereka tangani sebelumnya.

Sebelumnya, hampir seluruh masyarakat di Arab selalu mengandalkan aturan dan hukum yang diturunkan oleh pagan dan nenek moyang mereka; namun setelah umat Islam mengenal Islam, mereka belajar betapa sesatnya aturan dan budaya yang selama ini mereka tahu. Maka dari itu, Allah menurunkan bimbingan-Nya sehingga umat Islam dapat mengambil keputusan dalam berbagai hal yang mereka belum miliki ilmunya.

+ Beberapa pertanyaan yang telah dijawab di juz ini di antaranya adalah: …

  1. Bagaimana seharusnya seorang Muslim menyapa pengunjung?
  2. Bisakah seorang Muslim bercerai sesuai dengan kebiasaan sebelum ia memeluk agama Islam?
  3. Bagaimana seharusnya seorang Muslim berurusan dengan kritik dan cemoohan dari orang-orang non-Muslim?
  4. Apakah seorang Muslim diperbolehkan membicarakan orang lain secara diam-diam?
  5. Bagaimana tata cara dalam agama, khususnya dalam melaksanakan salat Jumat?
  6. Bagaimana sikap seorang Muslim ketika ia melihat seseorang melanggar janji-janji yang diputuskan bersama?
  7. Apakah pernikahan antara seorang Muslim dan seorang non-Muslim sah?
  8. Dan terakhir, adalah berbagai panduan mengenai perceraian, tunjangan, dan hak asuh anak.

+


Di dalam periode ini, terdapat beberapa orang munafik yang berpura-pura menjadi bagian dari komunitas Muslim, padahal secara diam-diam ingin menghancurkan sistem Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah (SAW) dan para sahabat. Akibatnya, terdapat beberapa Muslim yang kekuatan iman mereka tergoyahkan, dan karena digerogoti oleh rasa malu dan bersalah, secara diam-diam mereka menyembunyikan keraguan mereka terhadap Allah dan rasul-Nya.

Beberapa ayat di dalam juz ini menjelaskan tentang arti dari ketulusan, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Allah; yaitu tiga poin yang dapat menilai seberapa kuat iman mereka kepada Allah SWT. Selain itu, orang-orang munafik pun diperingatkan tentang pembalasan yang menunggu mereka di neraka nanti. Dan di waktu yang sama, Allah juga mendorong masyarakat Muslim yang lemah untuk memperkuat iman mereka kepada Allah.

Di masa-masa awal dari kebangkitan Islam, banyak Muslim yang mendapatkan kerabat dan/atau anggota keluarga mereka yang digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang munafik dan/atau bahkan kafir. Hal ini merupakan salah satu komplikasi dan dilema terbesar di tengah-tengah umat Islam, karena banyak Muslim yang pada waktu itu masih mencintai kerabat dan anggota keluarga mereka walaupun orang-orang tersebut memusuhi Allah dan rasul-Nya.

Maka dari itu, melalui Rasulullah (SAW), Allah menurunkan firman-Nya atas dilema tersebut.

Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya.

Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.

— Quran surah al-Mujadalah, ayat terakhir.

Ayat tersebut merupakan bimbingan Allah terhadap setiap Muslim yang lemah imannya, memerintahkan kita untuk mencintai Allah dan rasul-Nya lebih daripada segalanya, termasuk kerabat dan keluarga. Di dalam ayat tersebut, Allah sampai berfirman bahwa tidak ada tempat di hati seorang Muslim yang sejati, selain Allah. Namun begitu, di bagian yang sama di ayat lainnya, Allah menjelaskan bahwa setiap Muslim dianjurkan untuk berurusan dengan ramah dan adil, termasuk ketika berurusan dengan orang-orang non-Muslim asalkan mereka tidak memusuhi Islam.

ayat-ayat pilihan dari juz ke-28 al-Quran.

هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ – هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ – هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ

Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

— Quran surah al-Hasyr, ayat 22 hingga terakhir.

Farras memilih tiga ayat di atas sebagai ayat-ayat pilihan dari juz ke-28 ini karena ketiganya mengandung banyak nama dan sifat-sifat milik Allah. Subhanallah! Sekian untuk ikhtisar dari juz ke-28 ini, insya-Allah kita akan membahas juz ke-29 tidak lama lagi.

Terima kasih sudah membaca artikel kali ini! Semoga ikhtisar kali ini dapat memberikan hidayah bagi Sobat-sobat yang membutuhkan. Seperti biasa, jangan sampai putus zikirnya kepada Allah, dan sampai jumpa esok hari di postingan kita selanjutnya! Sadaqallahul ‘adzim, wassalam~

©   t h e   I s l a m w e b . s i t e
e d i t o r :   f a r r a s   f i l ‘ a z i s

2 responses to “ikhtisar dari juz ke-28 al-Quran

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s