bagaimana kalangan hindu πŸ‘Ώ mempengaruhi para gadis Muslim di india

Seorang aktivis dari Reformasi Dewan Hukum Muslim Perorangan di Seluruh India, Maulana Muhammad Omar Mahfouz Rahmani, merasa khawatir atas sebuah tren yang kini kian meningkat di kalangan para wanita muda Muslim di India, yaitu tren berupa meninggalkan keislaman mereka demi menikahi seorang non-Muslim.

Di dalam artikel eksklusif yang ditulisnya, ia menjelaskan bagaimana kalangan nasionalisme Hindu di India menargetkan para gadis Muslim sebagai bagian dari apa yang tampaknya merupakan rencana jangka panjang untuk menenggelamkan agama Islam. Di dalam artikel tersebut, aktivis tersebut menyerukan kepada masyarakat Muslim di India untuk mengintrospeksi dan mereformasi diri untuk menghadapi tantangan yang semakin besar.

Di dalam lembaga sosialnya, Maulana Rahmani tiada henti mendapatkan berita tentang para gadis Muslim yang menikah dengan pria non-Muslim, hal tersebut membuatnya sedih dan tertekan. Banyak saudarinya meninggalkan hati nurani dan agama mereka, dan bahkan rela mempermalukan keluarga mereka serta berbagai komunitas Muslim pada umumnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat adanya perencanaan sistematis dalam usaha menjebak para gadis Muslim yang mudah tertipu, serta adanya peningkatan kasus kriminal, pencabulan, serta sifat-sifat sosialisasi yang menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran Islam.

Seperti pada tahun 2019 lalu, ketika Maulana Rahmani berada di kota Pune, Maharasthra, untuk menghadiri acara lembaganya, di mana seorang Muslim sempat bercerita tentang kisah sedih keponakannya yang jatuh dalam perangkap yang serupa. Dia belajar di sebuah perguruan tinggi yang mana terdapat sebuah kantin di dekat gedung kuliahnya yang dikelola oleh seorang laki-laki berkeyakinan Hindu; gadis tersebut jatuh cinta, dan kemudian lari bersamanya.

Di dalam artikel eksklusif tersebut, Maulana Rahmani juga melaporkan bahwa selama kurun satu tahun, antara bulan Oktober di tahun 2016 hingga Oktober di tahun selanjutnya, sebanyak 44 gadis Muslim telah menikah dengan para pria non-Muslim. Dan beberapa waktu lalu, beberapa Muslim datang ke kota Pune untuk membahas masalah genting ini, dan mereka memiliki tabel yang mencatat kasus jauh sejak tiga tahun yang lalu;

Mereka melaporkan bahwa pada bulan Agustus tahun 2018, terdapat 11 gadis Muslim yang mengajukan lamaran untuk menikah dengan pria non-Muslim; dan pada bulan September di tahun yang sama, terdapat 12 gadis yang mendaftarkan permintaan tersebut ke Kantor Panitera Perkawinan di kotanya masing-masing di negara bagian Maharashtra. Selain itu, aplikasi untuk menikahi para pria non-Muslim kian dikirimkan oleh berbagai gadis di berbagai kota, di antaranya di kota Mumbai, kota Thane, kota Nasik, kota Amravati, dan berbagai kota lainnya.

Namun begitu, Maulana Rahmani menekankan bahwa laporan-laporan tersebut hanya terbatas pada negara bagian Maharasthra, sehingga rasanya sulit membayang betapa banyak para wanita muda beragama Islam lainnya yang jatuh ke dalam perangkap yang sama, di bagian negara lain di seluruh India.


Maulana Rahmani sempat menceritakan pengalamannya ketika ia berkunjung ke kota Bhopal, di mana para aktivis yang terkait dengan lembaganya sempat berbagi kabar mengenai situasi di kota tersebut, dan ternyata beberapa insiden di sana jauh lebih parah dari yang ia kira. Di sana, tidak hanya para wanita muda beragama Islam yang meninggalkan keluarga dan agama mereka demi menikahi pria non-Muslim, namun bahkan terdapat kasus-kasus mengenai para wanita yang sudah menikah rela meninggalkan suami dan anak-anak mereka demi melarikan diri dengan pria non-Muslim.

Selain itu, dengan laporan yang didapatkan mengenai keadaan para wanita Muslim di kota Delhi, Maulana Rahmani kemudian mengambil kesimpulan bahwa gadis-gadis yang tinggal di daerah kumuh telah menjadi mangsa utama atas perangkap yang dibuat oleh masyarakat komunal, lebih tepatnya kalangan masyarakat Hindu yang mengatasnamakan budaya dan nasionalisme India sebagai alasan untuk menggiring kebinasaan agama Islam dari India.

Ketika ia mengunjungi kota Ahmedabad beberapa waktu lalu, Maulana Rahmani diberitahu bahwa di kota terbesar di negara bagian Gujarat tersebut, insiden serupa wanita yang meninggalkan keislamannya demi menikahi seorang pria non-Muslim bukan lagi hal yang aneh. Menurut laporan resmi yang diberikan oleh lembaga-lembaga keislaman di sana, insiden seperti ini sudah sering terjadi khususnya melalui media sosial, di mana melalui berbagai cara gadis-gadis Muslim di sana dipilih secara sistematis untuk menjadi sasaran.

Menurut mereka, salah satu bentuk perangkap yang paling populer adalah menggunakan berbagai tawaran berupa hadiah yang sifatnya berharga, seperit halnya smartphone baru, iPad, Activa skuter, kendaraan bermotor, dan berbagai jenis ‘hadiah’ lainnya. Naudzubillahi min dzalik.

Semoga artikel ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua 🀲🏽 amiin!

©   t h e   I s l a m   W e b s i t e
&
M a u l a n aΒ  Β M u h a m m a dΒ  Β O m a rΒ  Β M a h f o u zΒ  Β R a h m a n i
e d i t o r :Β  Β f a r r a sΒ  Β f i l ‘ a z i s

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i

komentar dan diskusi πŸ‘‹πŸΌ

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s