Erdogan berharap Prancis segera singkirkan Macron

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan pada hari Jumat (04.12.2020) bahwa dirinya berharap pihak Prancis segera menyingkirkan Presiden Emmanuel Macron. Erdogan menilai Macron hanya akan menjadi beban bagi Prancis yang sedang melalui masa-masa berbahaya.

Hubungan antara Turki dan Prancis masih sangat tegang dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar karena kebijakan di Suriah dan penerbitan karikatur tentang Nabi Muhammad (SAW) di Prancis menjadi salah satu sumber ketegangan berkepanjangan.

▸ “Macron membebani Prancis. Macron dan Prancis sebenarnya sedang melalui periode yang sangat berbahaya,” jelas Erdogan kepada wartawan dari Abna24 pada hari Minggu (06.12.2020), merujuk pada protes yang banyak dilakukan di kota-kota Prancis. “Harapan saya adalah (pihak) Prancis menyingkirkan masalah Macron secepat mungkin.”

Konflik ini kian memanas setelah beberapa waktu lalu, tepatnya di bulan Oktober, Macron sempat menyatakan di depan publik bahwa menurutnya, Islam merupakan agama yang sedang berada di tengah-tengah krisis secara global. Pernyataan tersebut membuat Erdogan membalasnya dengan seruan kepada Muslim di seluruh dunia untuk memboikot produk-produk yang berasal dari Prancis.

Dan sebelum bulan tersebut berakhir, Erdogan juga menyarankan presiden Prancis tersebut untuk mendapatkan ‘pemeriksaan kesehatan mental’ karena sikapnya yang tidak normal terhadap para penganut agama Islam.

Sebelumnya, pemerintah Ankara di Turki dan pemerintah Paris yang mewakili Prancis, tengah saling lempar tuduhan mengenai peran mereka dalam konflik Nagorno-Karabakh, yakni wilayah Azerbaijan yang dihuni oleh etnis Armenia yang memisahkan diri dari kendali Baku dalam perang pasca-Soviet di sekitar tahun 1990.

Pertempuran baru pecah pada bulan September, menyebabkan ribuan orang tewas, hingga pada akhirnya kesepakatan mengenai gencatan senjata pun dapat disahkan bulan lalu. Sementara Turki tetap berdiri sebagai sekutu setia Azerbaijan, presiden Macron yang negaranya dipenuhi oleh banyak komunitas Armenia, berulang kali menuduh Ankara mengirim milisi Suriah untuk berperan di Baku. Dan bulan lalu, Senat Prancis pun menyerukan pihak Prancis untuk mengakui Nagorno-Karabakh sebagai bagian dari negara mereka.

Sebelumnya, Turki dan otoritas Uni Eropa juga sedang bersengketa mengenai krisis di Libya, begitu juga konflik antara Turki dan Yunani tentang hak eksplorasi mereka masing-masing atas Mediterania Timur.

[ . . . ]

© the Islamweb.site
editor: farras fil’azis

s u m b e r   r e f e r e n s i