Kecaman terhadap pernyataan dan hinaan Uskup Agung terhadap Islam

Uskup Agung Ieronymos II, otoritas agama tertinggi Yunani, telah memicu kontroversi setelah mengklaim bahwa Islam bukanlah agama, melainkan partai politik. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Sabtu, 16 Januari, Uskup Agung juga menghina umat Islam dengan menggambarkan kita sebagai orang-orang yang gemar ‘berperang’.

Berbagai pernyataan yang menghina tersebut memicu kontroversi dan reaksi keras di antara Muslim di seluruh dunia. Umat Islam di Yunani mengutuk pernyataan tersebut, dan berharap bahwa Muslim di seluruh dunia dapat dideskripsikan menggunakan bahasa dan kata-kata yang lebih damai daripada apa yang digunakan oleh Uskup Agung Ieronymos II, khususnya di masa-masa sulit seperti pandemi ini.

β–Έ “Penghinaan terhadap Islam dan para pemeluknya ini merupakan ujaran-ujaran kebencian, serta serangan khas yang dilontarkan oleh Islamofobia. Dan karena pernyataan ini berasal dari gereja nomor satu di Yunani, menunjukkan keseriusan dan kepentingan isu ini,” jelas Persatuan Turki di Xanthi, salah satu organisasi yang diresmikan oleh Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia.

Pernyataan Uskup Agung tersebut juga menyerukan pernyataan maaf secepat-cepatnya kepada seluruh umat Islam. Pihak Turki berpendapat mengenai pernyataan tersebut sebagai mentalitas sakit orang Kristen dalam menantang dunia.

Anadolu AgencyΒ mengutip kepala Direktorat Urusan Agama di Turki, Ali Erbas, yang mengatakan bahwa wacana seperti ini sudah biasa terjadi, dengan tujuan untuk meminggirkan umat Islam dan mencetuskan berbagai ide dan perspektif yang rasis terhadap umat Islam di seluruh dunia. Di sisi lain, Erbas menekankan bahwa komentar yang menghina pemimpin agama Yunani dapat memicu kebencian terhadap Islam dan menyebabkan serangan terhadap Muslim dan tempat-tempat ibadah mereka.

β–Έ “Islam adalah agama yang damai, dan peradaban Islam selalu memungkinkan masyarakat untuk hidup bersama selama berabad-abad, terlepas dari agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing mereka,” jelas Erbas.

Sebuah laporan dari tahun 2019 menunjukkan bahwa Islamofobia merupakan tantangan yang tumbuh semakin parah dan begitu cepat di berbagai bagian Yunani. Laporan tersebut juga menerangkan bagaimana Islamofobia semakin hari semakin terintegrasi menjadi norma dalam politik mereka, di tengah-tengah media mereka, dan khususnya melekat di berbagai tokoh gereja ortodoks. Namun sayangnya, laporan tersebut juga menjelaskan tentang kurangnya ketentuan hukum dan tindakan apa yang umat Islam di Yunani dapat lakukan dalam melawan serangan-serangan Islamofobia.

“Dengan pengecualian dari beberapa inisiatif negara bagian dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), hampir tidak ada kemajuan yang telah dicapai dalam memerangi tindakan Islamofobia secara efektif di seluruh Yunani,” jelas laporan tersebut.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i