Kata Intelijen AS: putra mahkota Arab Saudi setuju tangkap atau bunuh Khashoggi

Penilaian intelijen AS (Amerika Serikat) akhirnya dirilis pada hari Jumat (26.02.2021) untuk mengungkap peran Putra Mahkota Arab Saudi MBS (Mohammed bin Salman), dalam pembunuhan Saudi Jamal Khashoggi pada tahun 2018 lalu.

Menurut laporan yang dibuka untuk umum tersebut, MBS disebut menyetujui operasi untuk menangkap atau membunuh jurnalis bernama Saudi Jamal Khashoggi. Sedangkan dirilisnya laporan intelijen tersebut merupakan salah satu langkah AS untuk menangkal kerusakan hubungan antara AS dan Arab Saudi.

Khashoggi merupakan penduduk AS yang biasa menulis di kolom opini untuk Washington Post. Saat itu, ia kerap mengkritik kebijakan putra mahkota Arab Saudi. Dia dibunuh dan tubuhnya dimutilasi oleh tim operasi yang terkait dengan sang putra mahkota, di konsulat kerajaan Saudi, di Istanbul, Turki. Ia berusia 59 tahun, tinggal di pengasingan di Virginia.

Riyadh, alias ibu kota Arab Saudi, sempat membantah keterlibatan MBS yang kini berumur 35 tahun. Namun begitu, Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat melaporkan di situs web resminya bahwa mereka menilai putra mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, menyetujui operasi di Istanbul, Turki, untuk menangkap dan membunuh jurnalis Jamal Khashoggi.

β–Έ “Kami mendasarkan penilaian in kepada putra mahkota dalam pengambilan keputusan di Kerajaan, keterlibatan langsung penasihat utama, dan anggota dari detail pelindung Muhammad bin Salman dalam operasi tersebut, serta dukungan putra mahkota untuk menggunakan tindakan kekerasan untuk membungkam pada pembangkang di luar negeri, termasuk Khashoggi,” papar laporan tersebut.

Dalam mendeklasifikasi laporan tersebut, Presiden AS Joe Biden, mencabut penolakan pendahulunya, Donald Trump, untuk merilis laporan tersebut secara resmi, sebagai tindakan yang tidak lagi bertentangan dengan Undang-undang tahun 2019 yang mencerminkan kesediaan AS yang baru untuk menantang kerajaan terkait masalah HAM (hak asasi manusia) hingga perang di Yaman.

Namun begitu, Biden mengambil langkah tipis untuk mempertahankan hubungan dengan Saudi saat dia berusaha menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 dengan saingan regionalnya, Iran, dan untuk mengatasi tantangan lain, termasuk memerangi ekstremisme dan memajukan hubungan antara Arab dan Israel.

Washington membuat koreografi berbagai acara untuk melunakkan pukulan bagi pihak Saudi, salah satunya dengan Biden berbicara dengan ayah dari putra mahkota yang berusia 85 tahun tersebut, Raja Salman, pada hari Kamis (25.02.2021) lalu. Dalam panggilan telepon antara Biden dan Raja Salman, kedua pihak mengatakan bahwa mereka saling menegaskan kembali aliansi mereka yang telah berusia puluhan tahun, dan berjanji untuk bekerja sama.

Namun begitu, berbagai sumber yang cakap dalam pemikiran pemerintah Amerika memaparkan bahwa pemerintahan Biden sedang mempertimbangkan pembatalan kesepakatan senjata dengan Arab Saudi dengan banyak alasan termasuk masalah HAM, sambil membatasi penjualan militer di masa depan yang biasanya diperoleh untuk senjata defensif kedua pihak.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa meski pun AS tetap memastikan Arab Saudi memiliki semua yang dibutuhkan untuk mempertahankan wilayahnya, fokus utama AS adalah mengakhiri konflik di Yaman. Laporan intelijen yang tidak dirahasiakan dari publik tersebut disiapkan oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, menggemakan versi rahasia dari laporan tentang pembunuhan Khashoggi yang dibagikan oleh Trump dengan anggota Kongres pada akhir tahun 2018.

Penolakan Trump atas tuntutan anggota parlemen dan kelompok hak asasi manusia agar merilis versi yang tidak dirahasiakan pada saat itu mencerminkan keinginan menjaga kerja sama dengan Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, dan untuk mempromosikan penjualan senjata AS ke kerajaan.

Direktur baru intelijen nasional Biden, Avril Haines, telah berkomitmen untuk mematuhi Undang-undang pertahanan tahun 2019 yang mewajibkan kantornya merilis dalam waktu 30 hari laporan yang tidak dirahasiakan tentang pembunuhan Khashoggi.

Khashoggi dibujuk pada tanggal 2 Oktober 2018 untuk mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul dengan janji akan diberikan dokumen yang ia butuhkah untuk menikahi tunangannya yang berasal dari Turki. Satu tim operasi yang terkait MBS membunuh Khashoggi di sana, dan bahkan memutilasi tubuhnya. Hingga saat ini, jenazahnya belum ditemukan.

Pihak Riyadh awalnya mengeluarkan pernyataan resmi yang saling bertentangan tentang hilangnya Khashoggi, namun akhirnya mengakui bahwa Khashoggi terbunuh dalam apa yang disebut operasi ekstradisi ‘nakal’ yang tidak beres.

Dua puluh satu pria ditangkap dalam proses pembunuhan tersebut; dan lima pejabat senior termasuk wakil kepala intelijen, Ahmad Asiri, dan pembantu senior MBS, Saud al-Qahtani dipecat.

Pada Januari 2019 lalu, 11 orang diadili secara tertutup. Lima orang dijatuhi hukuman mati, yang diubah menjadi 20 tahun penjara setelah mereka diampuni oleh keluarga Khashoggi, sementara tiga orang lainnya dijatuhi hukuman penjara.

β–Έ “Asiri diadili, tetapi kembali dibebaskan karena tidak cukup bukti,” ungkap jaksa penuntut. “Sementara al-Qahtani diselidiki, namun tidak dituntut.”

Gedung Putih menyatakan bahwa sebagai bagian dari penyeimbangan kembali hubungan Bidan dengan Arab Saudi, dia hanya akan berkomunikasi dengan Raja Salman. Hal tersebut juga dibutuhkan aga Washington memungkinkan untuk memberikan jarak antara Biden dan Putra Mahkota MBS.

Langkah ini akan memulihkan protokol yang dilanggar Trump dan menantu sekaligus pembantu utamanya, Jared Kushner, yang mempertahankan saluran langsung ke MBS.

MBS telah mengkonsolidasikan kekuasaan sejak menggulingkan pamannya sebagai pewaris takhta dalam kudeta istana tahun 2017. Dia berusaha memenangkan dukungan publik dengan mengawasi reformasi ekonomi dan sosial yang populer. Tetapi dia juga telah menahan para lawan dan aktivis hak perempuan, serta mengejar berbagai kebijakan asing yang berisiko β€”beberapa di antaranya menjadi bumerang, seperti keterlibatannya di Yaman.

Saat ini, perang Yaman telah menjadi pertarungan antara proxy Arab Saudi dan Iran, hingga menciptakan krisis kemanusiaan yang menggema di seluruh dunia.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i