Kata Wewenag: Pendidikan Agama Islam harus jadi instrumen diseminasi beragama

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi ingin PAI (Pelajaran Agama Islam) dapat menjadi instrumen kegiatan yang dapat mengurangi kekerasan. Dia tidak ingin ada soal-soal dalam PAI yang bertentangan dengan moderasi beragama.

Pernyataan tersebut disampaikan Zainut setelah menutup rakor penyelenggaraan ujian PAI di kota Bekasi, hari Jumat (26.02.2021) malam. Hadir dalam rakor tersebut, Dirjen Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani, Direktur PAI Rohmat Mulyana, serta para kepala seksi PAI dan tim penyusun soal ujian.

β–Έ “Gunakanlah mata Pelajaran Agama Islam ini menjadi instrumen untuk mendiseminasi moderasi beragama,” kata Zainut melalui keterangan tertulis yang diterima, hari Sabtu (27.02.2021). “Pastikan jangan sampai ada soal-sial ujian yang justru kontraproduktif dengan moderasi beragama.”

Zainut menyampaikan setidaknya ada empat indikator tentang moderasi beragama yang bisa dijabarkan dalam soal ujian PAI. Pertama, komitmen kebangsaan yang diwujudkan dengan penerimaan dan komitmen terhadap prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Konstitusi UUD 1945, serta berbagai regulasi turunannya.

β–Έ “Komitmen kebangsaan juga dapat diterjemahkan sebagai cinta Tanah Air,” ujarnya.

Zainut kemudian menjelaskan tentang toleransi. Siswa diharapkan memiliki sikap menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, menyampaikan pendapat, serta menghargai kesetaraan, dan sedia bekerja sama. Sikap toleransi yang dimaksud bukan menyamakan semua agama atau pun mencampur adukkan semua agama.

β–Έ “Toleransi adalah kita meyakini akan agama dan keyakinan kita sebagai sebuah kebenaran, dan pada saat yang sama kita menghargai atau menghormati atas keyakinan atau agama orang lain yang berbeda,” terangnya. “Kita memiliki sebuah pendapat sebagai sebuah kebenaran, dan pada saat yang sama kita juga menghormati jika ada pendapat orang lain yang berbeda.”

Zainut mengatakan indikator moderasi beragama yang ketiga adalah anti-kekerasan, yakni menolak tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Lebih lanjut, Zainut juga memberi pesan kepada Rohmat, selaku Direktur PAI, agai jangan sampai timbul kegaduhan; dia berhadap soal-soal dalam ujian PAI bisa menggali pemahaman dan karakter siswa berdasarkan empat indikator moderasi beragama tersebut.

β–Έ “Dan, (indikator keempat adalah) adanya penerimaan dan ramah terhadap tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama,” tuturnya. “Direktur PAI harus memastikan soal-soal ujian Pendidikan Agama Islam pada sekolah disusun dengan baik dan benar. Jangan sampai ada kegaduhan yang tidak perlu.”

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i