Untuk keenam kalinya, Israel meruntuhkan rumah milik penyandang cacat Palestina

Hanya dari beberapa puluh meter, seorang pria dengan distabilitas menyaksikan buldoser menghancurkan rumahnya sendiri. Setelah buldoser itu membenturkan dinding bangunan, lantai keduanya pun runtuh dengan sendirinya. Buldoser itu terus membenturkan batunya kepada dinding bangunan yang saat itu masih dalam pembangunan, sehingga merobohkan tembok-tembok lainnya dan menghancurkan ruangan lain di lantai atas tersebut, mengubahnya menjadi tumpukan puing-puing.

Pemilik rumah tersebut, yang telah menginvestasikan semua tabungannya demi membangun rumah tersebut, terpaksa menyaksikan mimpinya hancur dari kursi rodanya, tak bisa melakukan apa pun karena ia dikelilingi oleh pasukan Polisi Perbatasan yang tampak kejam dan mengancam seperti biasa.

Tidak hanya itu, kali itu bukanlah pertama kalinya terjadi ia mengalami secara langsung ketidakadilan pihak Israel; pengalaman pertamanya ia alami di tahun 1999. Namun kali itu bukan pula yang kedua, ketiga, keempat, atau pun yang kelima kalinya; otoritas Israel telah enam kali menghancurkan rumahnya. Mungkin inilah sebabnya atas mengapa hanya ada segelintir penduduk di desa Isawiyah, yaitu wilayah yang terdapat di Yerusalem Timur.

Khatham Abu Riala terpaksa menggunakan kursi roda sejak pembongkaran kedua rumahnya pada tanggal 4 Februari 2009. Saat memprotes, ia tersandung dan jatuh dari atap gedung. Sebelum menyentuh tanah, ia terjun dari ketinggian tujuh meter ke tanah berbatu, sehingga melukai sumsum tulang belakangnya, dan membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah.

Karena distabilitas tersebut, ia tidak mampu bekerja mencari uang secara efisien. Padahal sebelum cederanya, dia pernah menjadi pengemudi di firma Superbus; ia terbiasa mengenakan mantel perusahaan setiap hari untuk melindungi dirinya dari dinginnya Yerusalem. Ia pun pernah bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan Ashdod.

Cacatnya tubuh Abu Riala pun tidak menimbulkan rasa iba di balai kota Yerusalem. Para pejabat di sana acuh tak acuh dengan fakta bahwa tidak ada jalan bagi warga Palestina untuk membangun secara legal di desa Isawiyah. Hampir semua bangunan yang dibangun di sana sejak 1967 dinilai sebagai bangunan ilegal, tetapi Pemerintah Kota Yerusalem tampaknya memilih untuk memfokuskan usahanya dalam menghancurkan impian Abu Riala untuk memiliki rumahnya sendiri.

Otorisasi Israel telah melancarkan pertempuran tanpa henti melawan Abu Riala, yang selama 22 tahun terakhir telah mencoba membangun rumah untuk dirinya di atas tanah miliknya sendiri. Tanah tersebut berbatasan dengan rumah orang tuanya, yang selama 22 tahun otorisasi kota di sana masih juga belum meresmikan kepemilikan tanah tersebut untuk dipindahkan kepada majikannya, yaitu Abu Riala. Otorisasi Israel bersikeras melarang konstruksi baru di desa Isawiyah.

โ–ธ “Orang menikah, anak-anak lahir. Di mana kita akan tinggal? Apakah kita semua harus tinggal dalam satu ruangan?” Abu Riala bertanya. “Itu tugas pemerintah kota untuk menyiapkan rencana penduduk. Mereka malah memberitahu saya pergi ke Beit Hanina. Padahal saya punya tanah di sini. Di sinilah saya lahir. Mengapa saya harus pergi ke Beit Hanina jika saya memiliki properti di sini?”

Beit Hanina merupakan sebuah desa lain di wilayah Yerusalem Timur, yaitu tempat yang sangat jauh.

Sebelum kali ini, yaitu keenam kali rumahnya dihancurkan oleh kontraktor swasta yang bekerja atas nama otoritas Israel di Yerusalem, kali kelimanya terjadi pada bulan Desember di tahun 2019. Namun tidak menyerah, pada Mei 2020 ia mulai membangun kembali rumahnya walau pun pihak otoritas Israel kerap memperingatkannya untuk berhenti. Sejak itu, ancaman pembongkaran selalu menghantui hunian yang konstruksinya hampir rampung tersebut.

Innalillahi wa inna ilayhi rajiun.

[ . . . ]

ยฉ the Islamweb.site
โ€” editor: farras fil’azis
โ€” copyright source: Haaretz

s u m b e rย  ย r e f e r e n s i