Frasa agama tidak disebut di peta jalan pendidikan nasional 2020-2035, begini reaksi asosiasi guru agama Islam

Ketua Umum AGPAII (Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia), Mahnan Marbawi, menanggapi hilangnya frasa agama dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang dirumuskan oleh Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Mahnan mengatakan bahwa peta jalan pendidikan tanpa frasa agama tidak akan melahirkan manusia yang mampu melakukan apresiasi diri, yakni mengintegrasikan pengetahuan bagi perkembangan sosial. Padahal, tantangan pada masa depan, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan sosial dan budaya, hingga perubahan iklim akan sedikit demi sedikit menghapus budaya dan agama, serta mengubah interaksi sosial antar masyarakat.

Ia kemudian menjelaskan bahwa di tengah tantangan saat ini, orientasi masyarakat akan lebih banyak diinvestasikan kepada pemenuhan indriawi dan materialistis. Karena itu, pendidikan seharusnya bertujuan lebih dari hanya sekedar melahirkan manusia yang mampu beradaptasi dan berkolaborasi dalam memenuhi berbagai capaian kesuksesan. Menurutnya, pendidikan seharunya lebih dari hanya sebagai pemenuhan dahaga penyakit diploma.

▸ “Pendidikan seharunya melahirkan manusia yang mampu bertindak secara benar, agar dapat belajar ethical self-appropriation,” jelas Mahnan dalam keterangan tertulisnya, hari Minggu (07.03.2021). “Karena itu, pendidikan harus dibangun di atas fondasi agama dan kemanusiaan. Bukan untuk mengejar hedonisme, individualistis, dan materialistis.”

Sebab menurutnya, pendidikan yang seperti itu akan melahirkan manusia yang mampu bertanggungjawab sebagaimana hakikat martabat manusia. Ia menjelaskan bahwa tanggung jawab tersebut ditujukan tidak saja pada egoisme pribadi untuk mencapai kesuksesan materi dan mengejar hedonisme, melainkan sekaligus tanggung jawab kepada sesama, lingkungan, dan alam semesta.

Ia pun mendasarkan peta jalan dengan filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantoro; kontinuitas alias dasar dan menjaga warisan kebudayaan, ‘konvergenisitas’ alias kemampuan berdialog dengan budaya dari luar dan baru, serta ‘konsentrisitas’ alias pendidikan yang melahirkan kreativitas dan inovasi. ‘Teori trikon’ tersebut didasari oleh lima asa dasar pendidikan atau yang dikenal dengan sebutan Panca Dharma, yakni asas kodrat alam, kemerdekaan, budaya, kebangsaan, dan kemanusiaan.

▸ “Peta jalan pendidikan yang hanya melihat tantangan yang bersifat materialistis, padahal pendidikan harus didasarkan kepada nilai agama,” jelasnya.

Ia menekankan, bahwa tujuan pendidikan dalam Undang-undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) juga menekankan output manusia Indonesia yang bertakwa dan berakhlak mulia dengan tetap mampu menjawab tantangan global. Menurutnya, visi pendidikan yang bertumpu pada teori trikon akan melahirkan model pendidikan yang mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara rasional. Sebab, pendidikan seharusnya juga melahirkan manusia yang mampu memahami pengalaman sebagai sebuah konteks menyeluruh dalam memahami kehidupan.

▸ “Pendidikan seharusnya mendorong siswa memahami pengalaman agar bisa belajar tentang kehidupan. Selain itu, dasar pendidikan juga harus menyiapkan siswa mampu melakukan pengamatan, melihat dari dekat dalam mengembangkan perhatian terhadap realitas kehidupan,” tutupnya.

baca juga: tidak ada frasa agama di draf peta jalan pendidikan, begini reaksi mui dan muhammadiyah | penjelasan kemdikbud atas hilangnya frasa agama dalam peta jalan pendidikan Indonesia 2035

[ . . . ]

© the Islamweb.site
— editor: farras fil’azis

s u m b e r   r e f e r e n s i