Ironis, debu Sahara mengembalikan radiasi dari uji coba nuklir Prancis 60 tahun lalu

Debu dari Gurun Sahara yang tertiup ke utara oleh angin musiman yang kuat mencapai wilayah Prancis, tidak hanya membawa cahaya dan matahari terbenam yang indah dan menakjubkan, namun juga membawa tingkat radiasi yang tidak normal.

Ironinya, 60 tahun lalu, negara Prancis melakukan uji coba nuklir di Gurun Sahara. Uji coba tersebut menyebabkan lebih dari 40.000 warga Aljazair tewas, karena Prancis mengklaim daerah tersebut tidak berpenghuni, dan tidak memperingatkan masyarakat di sana. Walau pun fakta ini sudah tersebar di seluruh dunia, pihak Prancis tidak pernah meminta maaf sekali pun. Dan sekarang, 60 tahun kemudian, debu dari Sahara mengembalikan radiasi akibat uji coba nuklir tersebut ke wilayah Prancis.

Menurut French NGO Acro (Asosiasi Pengendalian Radioaktivitas di Bagian Barat) yang selalu memantau radiasi di wilayah Prancis bagian barat, radiasi tersebut tidak dianggap berbahaya bagi kesehatan manusia. Namun begitu, bahkan pihak mereka pun menganggap kejadian ini sebagai ironi yang tidak sedap.

Acro menyatakan bahwa radiasi tersebut berasal dari uji coba nuklir yang dilakukan oleh Prancis di gurun Aljazair pada awal 1960-an, ketika Prancis mengklaim wilayah tersebut sebagai bagian dari wilayah seberang laut Prancis, meski pun padahal negara tersebut masih bagian dari Afrika Utara. Acro kemudian mengklaim ‘efek bumerang’ telah membawa kembali cesium-137, yaitu produk fisi nuklir yang dibuat dalam ledakan nuklir.

Acro mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan tes terhadap debu Sahara baru-baru ini, setelah debu-debu tersebut dikumpulkan dari daerah Jura, dekat perbatasan antara Prancis dan Swiss.

β–Έ “Mempertimbangkan endapan homogen di area yang luas, berdasarkan hasil analisis ini, Acro memperkirakan ada 80.000 bq per km2 cesium-137,” katanya dalam sebuah pernyataan. “Kontaminasi radioaktif ini, yang datang dari jauh β€”60 tahun setelah ledakan nuklirβ€” mengingatkan kita pada kontaminasi radioaktif abadi di Sahara, yang merupakan tanggung jawab Prancis.”

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis
β€” copyright source: Euronews

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i