Tidak ada frasa agama di draf peta jalan pendidikan, begini reaksi MUI dan Muhammadiyah

Muhammadiyah.

PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah menyoroti draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia tahun 2020-2035. Muhammadiyah menyebut frasa agama yang hilang dari draf visi pendidikan Indonesia tersebut harus menjadi perhatian serius.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyoroti tidak ditemukannya frasa “agama” di dalam draf rumusan paling mutakhir, rilis dari tanggal 11 Desember lalu. Dia menilai kejadian ini merupakan bentuk perlawanan terhadap konstitusi, sebab menurut hierarki hukum, produk turunan kebijakan seperti halnya peta jalan pendidikan tidak boleh menyelisihi peraturan di atasnya, yaitu Peraturan Pemerintah, Undan-undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional), UUD (Undan-undang Dasar), dan puncaknya adalah Pancasila.

β–Έ “Saya bertanya, hilangnya kata agama itu kelupaan atau memang sengaja? Oke, kalau Pancasila itu dasar (negara), tapi kenapa budaya itu masuk?” tanya Haedar Nashir melalui laman resmi Muhammadiyah, dikutip hari Minggu (07.03.2021).

Haedar Nashir menilai hilangnya frasa “agama” dalam draf tersebut akan berdampak besar pada aplikasi dan ragam produk kebijakan mengenai pendidikan di lapangan. Menurutnya, pedoman wajib di Peta Jalan Pendidikan Nasional adalah ayat 5 pasal 31 UUD 1945, seperti halnya poin pertama UU nomor 20 tahun 2003 Sisdiknas yang menjelaskan secara eksplisit bahwa agama merupakan salah satu unsur integral di dalam pendidikan nasional.

Haedar kemudian dengan rinci menyoroti tim perumus peta jalan pendidikan ini. Menurutnya, tidak ditemukannya frasa “agama” di visi pendidikan merupakan masalah serius.

β–Έ “Kenapa peta jalan yang dirumuskan oleh Kemendikbud kok berani berbeda dari, atau menyalahi pasal 31 UUD 1945? Kalau orang hukum itu mengatakan ini pelanggaran konstitusional, tapi kamis sebagai organisasi dakwah itu kalimatnya adalah ‘tidak sejalan’ dengan pasal 31,” jelas Haedar Nashir.

β–Έ “Jadi, inilah yang sering mengundang tanya, ini tim perumusnya lupa, sengaja, atau memang ada pikiran lain sehingga agama menjadi hilang? Nah, problem ini adalah problem yang serius, menurut saya, yang perlu dijadikan masukan penting bagi pemerintah. Agar kita berpikir bukan dari aspek primordial, tapi berpikir secara konstitusional; karena itu sudah tertera langsung tanpa harus interpretasi di dalam pasal 31.

β–Έ “Jika aman tidak ada masalah, tapi jika ada problem berarti kita mengawetkan sampai dua puluh tahun ke depan,” tutup Haedar.

MUI.

MUI, alias Majelis Ulama Indonesia, juga menyoroti tidak adanya frasa agama dalam draf visi Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035. Ketua MUI di bidang Pendidikan dan Kaderisasi, KH Abdullah Jaidi, menyayangkan hilangnya frasa agama dalam draf peta jalan pendidikan tersebut. Karena menurutnya, agama merupakan faktor penting pendidikan di Indonesia.

β–Έ “Pada hakikatnya, MUI, menyoroti berkenaan dengan Peta Pendidikan 2020-2035, yang hanya menyebut faktor akhlak dan budaya. Artinya, faktor agama tidak disebutkan. Padahal itu hal esensial. Kenapa? Bahwa yang namanya akhlak itu adalah bagian dari tuntutan agama. Pengajaran agama, di dalam ada akhlak kewajiban; itu bagian dan menjiwai sila pertama Pancasila (ketuhanan),” jelas Jaidi saat dihubungi oleh detikNews, hari Minggu (07.03.2021).

Jaidi kemudian menjelaskan bahwa terdapat frasa agama di dalam rumusan peta pendidikan yang sebelumnya. Jadi menurutnya, tidak ada frasa agama membuat draf peta jalan pendidikan kali ini melanggar UUD. Ia juga kemudian menyatakan bahwa MUI akan mengirimkan surat kepada Kemendikbud, dengan harap Kemendikbud untuk segera memperbaiki draf peta pendidikan 2020-2035 tersebut.

β–Έ “Tidak boleh melanggar pasal 31 UUD ’45. Itu (agama) menjadi bagian ruhnya peta pendidikan Indonesia. Kita kaget, tapi tidak bisa tuduh unsur kesengajaan; mungkin unsur khilaf yang diharapkan bisa diperbaiki lagi. MUI belum ada sikap resmi, baru sounding antar pimpinan; minta supaya dibuatkan sebuah koreksi dari MUI, dan dibuatkan surat kepada Kemendikbud demi menyelamatkan generasi pendidikan kita di kemudian hari,” ujarnya.

baca juga: frasa agama tidak disebut di peta jalan pendidikan nasional 2020-2035, begini reaksi asosiasi guru agama Islam | penjelasan kemdikbud atas hilangnya frasa agama dalam peta jalan pendidikan Indonesia 2035

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i