Geger ajaran Hekekok di Banten, kata MUI harus dibina

Wakil Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Anwar Abbas menegaskan bahwa aliran Hakekok Balakasuta di Pangdeglang, Jawa Barat, adalah sesat. Hal itu berdasarkan tidak adanya ajaran Islam yang memberikan tuntutan untuk melakukan kegiatan mandi bersama. Meski pun dicap demikian, Anwar mengimbau agar mereka yang telah melakukan hal tersebut dapat dibina oleh kelompok keagamaan setempat agar kembali ke jalan yang lurus.

β–Έ “Jadi cara seperti itu tidak ada tuntunannya dalam agama Islam, artinya aliran sesat berarti,” kata Anwar saat dihubungi via telepon kepada Liputan6.com{link}, haru Sabtu (13.03.2021). “Kita harapkan mereka dibina, dan pelaku ritual juga sudah diamankan di kepolisian setempat, dan sudah didatangi oleh pimpinan MUI di sana, dan diajak berdialog.”

Anwar bercerita menurut informasi yang dihimpunnya, bahwa ritual aliran terkait bukanlah terjadi untuk kala pertama. Tercatat, pada tahun 2004 dan 2005, hal serupa pernah terjadi di tempat yang sama. Maka dari itu, apabila benar adanya pandangan seperti ini muncul kembali, maka harus diatasi secara serius.

Sebelumnya, masyarakat khususnya di Kecamatan Cigeulis, kota Pandeglang, digegerkan dengan kemunculan ajaran yang diduga sesat. Sejumlah pengikutnya tertangkap kamera warga tengah mandi bersama di tengah alam terbuka, yang kemudian menjadi viral di media sosial pada hari Kamis (11.03.2021) kemarin.

Atas hal ini, pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan sebanyak 16 orang, dan MUI pun turun tangan. Polisi menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan berdasarkan laporan masyarakat yang mengaku resah setelah melihat ritual aliran sesat ini dengan mandi bersama tanpa busana di penampungan air area kebun sawit.

Menurut laporan, diketahui bahwa mereka merupakan penganut ajaran Hakekok Balakasuta, sehingga dengan resmi Ketua MUI Provinsi Banten, A.M. Romly, menyatakan bahwa ajaran tersebut adalah sesat.

Menurut Romly, ritual mandi bersama tanpa busana itu menyimpang dari ajaran Islam. Romly mengungkapkan bahwa ajaran Hakekok sudah ada sejak dulu, dan sudah menyebar ke berbagai daerah termasuk Kabupaten Pandeglang. Hanya saja, ajaran ini tidak terlalu terdengar gaungnya sehingga tidak memiliki banyak pengikut. Ia menduga warga yang bergabung ke ajaran Hakekok disebabkan kurangnya pemahaman agama, serta faktor ekonomi.

Sementara itu, pimpinan ajaran Hakekok mengaku bahwa ritual itu merupakan bentuk penyucian diri. Hal ini bertujuan agar para pengikutnya bisa kaya raya. Namun hal ini tidak pernah terwujud.

Saat ini, pembinaan secara lengkap pada pengikut aliran ini akan kembali dilakukan oleh MUI dan instansi-instansi terkait lainnya. Bahkan rencananya, pemerintah Kabupaten Pandeglang akan bekerja sama dengan MUI Pandeglang untuk melakukan pembinaan pada seluruh masyarakat. Pembinaan khusus juga akan dilakukan pada belasan warga yang telah terlibat aliran sesat tersebut.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i

One response to “Geger ajaran Hekekok di Banten, kata MUI harus dibina

Komentar ditutup.