Alhamudlillah, badan intelijen Australia tidak akan menggunakan lagi istilah teroris dan ekstremis Islam

Badan intelijen Australia mulai sekarang tidak akan menggunakan istilah “teroris Islam” atau pun “ekstremis Islam” untuk menyebut pelaku serangan yang mengatasnamakan agama Islam. Sebagai gantinya, mereka akan menggunakan istilah penyerang bermotivasi religius. ASIO menyadari bahwa penggunaan istilah teroris dan ekstremis telah merusak citra agama Islam.

β–Έ “Dapat dimaklumi, beberapa kelompok Muslim-dan lain-lain-melihat istilah ini merusak dan menyesatkan Islam, dan menganggap sebutan itu menyugesti mereka dan mendorong stereotip serta memicu perpecahan. Dalam aspek bahasa, kita perlu berevolusi agar sesuai dengan lingkungan ancaman yang terus berkembang,” ujar Burgess, seperti yang dikutip oleh RT, hari Rabu (17.03.2021) kemarin.

ASIO merupakan bagian dari jaringan badan mata-mata internasional yang lebih sering disebut sebagai Five Eyes, yaitu jaringan yang mencakup Australia, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru. Aliansi intelijen ini berbagi informasi dan sumber intelijen dengan satu sama lain.

Burgess menjelaskan bahwa agensi-agensi mata-mata internasional lainnya telah mengubah nomenklatur mereka, sehingga tidak salahnya ASIO ikut berbondong memperbaiki kesalahan yang telah meresahkan masyarakat Muslim. Pergeseran istilah-istilah ASIO di kategori ancaman ini diumumkan oleh Burgess saat ia menyampaikan penilaian ancaman tahunan badan tersebut dari kantor pusatnya yang sangat aman, di Canberra, pada haru Rabu kemarin.

β–Έ “Dengan cara yang sama, kami tidak menyelidiki orang karena pandangan agama mereka-sekali lagi, kekerasanlah yang relevan dengan kapasitas kami (sebagai lembaga keamanan)-tetapi itu menjadi tidak jelas ketika kami menggunakan istilah ekstremisme terhadap Islam,” kata Direktur Jendral ASIO, Mike Burgess.

Di saat yang sama, mata-mata top Australia itu juga mengumumkan bahwa lembaga pemerintahannya tidak akan lagi menggunakan istilah bilik kiri atau pun bilik kanan dalam menggambarkan ancaman dari tepi-tepi spektrum politik, sehingga ASIO kini akan merujuk pada pihak tersebut sebagai kelompok ekstremis yang termotivasi secara ideologis.

Tahun lalu, Burgess ditugaskan oleh Senator Australia, Concetta Fierravanti-Wells, yang mengklaim bahwa ASIO telah mengecewakan kaum konservatif karena tengah menggunakan istilah-istilah seperti teroris dan ekstremis.

Maka dari itu, Burgess mengatakan bahwa ASIO harus mengubah bahasa yang digunakannya, karena banyak orang yang menyaksikan bukan lagi orang-orang yang ‘tradisional’ β€”kebanyakan pria dengan usia rata-rata 25 tahun. Maka dari itu, ASIO memandang apabila tidak diperbaiki hal ini akan memotivasi masyarakat oleh rasa takut, menyebabkan banyak keluhan, teori-teori konspirasi, hingga keruntuhan masyarakat pun dapat tidak terkendali.

Burgess memaparkan penyelidikan terhadap ekstremis ideologis telah terjadi di semua negara bagian dan wilayah Australia. Dia mengatakan ekstremisme ideologis tersebar lebih luas di seluruh negeri, termasuk di daerah regional dan pedesaan tidak seperti bentuk ekstremisme lainnya. Dikutip dari Sydney Morning Herald, Burgess menegaskan bahwa label-label seperti teroris dan ekstremis Islam tidak lagi sesuai dengan tujuan, dan tidak cukup dalam menggambarkan fenomena yang hanya terlihat.

β–Έ “Sering kali mereka yang terpapar itu muda, terpelajar, pandai bicara, bahkan kelas menengah, dan ini tidak mudah diidentifikasi,” kata Burgess, di tengah-tengah keterangannya dalam menjelaskan bahwa saat ini ekstremisme ideologis cenderung sering dimotivasi karena keluhan sosial dan ekonomi daripada nasionalisme.

Menurutnya, saat ini ekstremisme ideologis cenderung sering dimotivasi karena keluhan sosial dan ekonomi daripada nasionalisme.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i