Kemunculan aliran Hakekok akibat kurangnya syiar Islam ke pelosok

Aliran menyimpang Hakekok belakangan ini cukup santer dibahas publik, menyusul beredarnya video viral di mana sejumlah orang melakukan ritual yang tidak lazim di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pihak kepolisian sendiri telah menangkap setidaknya 16 orang yang terkait dengan kegiatan tidak lazim tersebut.

Ajaran Hakekok telah ada dan timbul tenggelam sejak lama. Diyakini, paham aliran tersebut kembali mencuat lantaran syiar Islam belum menyentuh penuh Indonesia, seperti pelosok-pelosok yang ada di berbagai wilayah pedalaman. Begitu juga menurut salah satu ormas Islam tertua di Indonesia, Mathla’ul Anwar, yang menduga kemunculan aliran Hakeok di wilayah Banten disebabkan syiar Islam yang belum begitu kuat menembus pedalaman.

▸ “Jadi ini adalah sisa-sisa dari kepercayaan-kepercayaan yang masih belum terberantas sepenuhnya. Mathla’ul Anwar, salah satu misi kelahirannya adalah memberantas 3 hal yang disebut TBC; T itu takhayul, B itu bid’ah, dan C itu churafat,” terus terang Ketua Bidang 1 PB Mathla’ul Anwar, Mohammad Zein, di sela-sela deklarasi pencalonannya maju sebagai ketua umum di Situ Gintung, Ciputat, Tanggerang Selatan, hari Jumat (19.03.2021).

Menurut Zein, wilayah Banten belum sepenuhnya terjangkau dengan teknologi informasi. Di sana masih banyak wilayah yang ia sebut sebagai blankspot, yang sepi dari syiar Islami baik secara langsung atau pun secara daring. Dan menyikapi hal tersebut, Mathla’ul Anwar telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama guna mengirim kader ke wilayah-wilayah pelosok, sehingga ajaran Islam yang hakiki dapat dipahami secara nyata.

▸ “Masih ada wilayah blankspot, yang belum terjangkau pendidikan. Sehingga kemudian, dakwah-dakwah yang dilakukan termasuk juga oleh Mathla’ul Anwar belum berhasil untuk memberantas hal-hal seperti itu,” ungkapnya. “Kami sudah melakukan langkah-langkah kerja sama dengan Kementerian Agama, seperti salah satu penyuluh yang datang ke lokasi itu adalah kader atau warga Mathla’ul Anwar. Kita berharap ke depan, aliran itu tidak muncul lagi, karena menyimpang dari ajaran Islam.”

Ketua Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar di Banten, Babay Sujawandi, juga menambahkan bahwa selain faktor kurangnya syiar Islam hingga ke pedalaman, faktor lainnya seperti faktor ekonomi juga menjadi salah satu pemicu. Pendapat itu sesuai hasil penelaahan yang telah datang ke wilayah munculnya ritual penganut aliran Hakekok tersebut.

▸ “Ada motivasi ekonomi. Jadi, di tengah krisis akibat pandemi ini kesulitan ekonomi, ada yang mengiming-imingi, kemudian tertarik untuk gabung,” ujar Babay setelah menjelaskan bahwa kasus yang hampir sama, yaitu aliran Ahmadiyah di Cikeusik yang mana penganutnya mendapatkan imbalan ekonomi. “Tapi sebetulnya, paham aslinya sudah tidak ada. Kemarin yang di Pandeglang dibumbui dengan iming-iming ekonomi di tengah masyarakat yang memang masih minus (ekonominya).”

baca juga: Geger ajaran Hekekok di Banten, kata MUI harus dibina

Setelah menggelar rapat koordinasi bersama Bupati Pandeglang, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pandeglang dan Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) menyampaikan bahwa kegiatan ritual tersebut merupakan kegiatan yang menyimpang. Dan terkait hal tersebut, MUI akan mengeluarkan fatwa dalam waktu dekat, dan masyarakat yang tergabung di dalam kegiatan ritual tersebut akan dilakukan pembinaan oleh MUI.

[ . . . ]

© the Islamweb.site
— editor: farras fil’azis

s u m b e r   r e f e r e n s i

One response to “Kemunculan aliran Hakekok akibat kurangnya syiar Islam ke pelosok

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s