Vaksin AstraZaneca mengandung babi, sikap Muhammadiyah selaras dengan MUI

LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) bagi MUI (Majelis Ulama Indonesia) menemukan bahwa vaksin COVID-19 AstraZaneca mengandung unsur babi sehingga Komisi Fatwa MUI menetapkan haram, hari Jumat (19.03.2021), Meskipun ditetapkan haram melalui Fatwa MUI nomor 14 tahun 2021, Komisi Fatwa MUI menyatakan bahwa vaksin asal Inggris tersebut tetap boleh digunakan atas dasar ushul fikih Ad-Dharuratu Tubihul Mahdhurat.

baca juga: Kata MUI: vaksin AstraZeneca tetap boleh digunakan karena darurat

Menanggapi haramnya vaksin AstraZaneca, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Mohammad Masudi, menyatakan bahwa PP Muhammadiyah belum mengambil sikap resmi terkait temuan LPPOM MUI tersebut. Namun begitu, dirinya mengaku bahwa sejauh ini Muhammadiyah selaras dengan sikap MUI, bahwa vaksin tersebut boleh digunakan karena asas darurat, sesuai kaidah ushul fikih dan masqashid syariah.

β–Έ “Prinsip kami sepanjang MUI dan Badang Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak ada persoalan, Muhammadiyah akan menyesuaikan,” ujarnya, hari Jumat (19.03.2021).

Sembari menunggu langkah selanjutnya, Masudi juga menyatakan bahwa Muhammadiyah mendorong BPOM agar segera mengeluarkan pernyataan resmi atas kajian LPPOM MUI. Tidak hanya itu, ia juga menyatakan bahwa pihak Muhammadiyah tidak memiliki alah untuk mengkaji vaksin itu, dan pihaknya akan hormati keputusan MUI dan BPOM.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i