Innalillah, mengenang Nawal El Saadawi yang meninggal dunia di usia ke 89 tahun

Tepatnya pada tanggal 21 Maret 2021, Nawal El Saadawi, seorang tokoh feminisme dari Mesir yang sangat terkenal dengan keberanian, tajam pikirannya dalam memperjuangkan kesetaraan gender telah meninggal dunia. Beliau sebagai seorang marxist, feminin, psikiater, dan novelis Muslim, meninggal di usia ke 89 tahun. Beliau meninggal karena masalah kesehatan terkait usia yang sudah lanjut.

Namun begitu, karyanya yang sangat populer tentang feminisme tetap hidup dan banyak digunakan untuk diskusi dalam forum-forum formal maupun non formal. Berbagai karya tulisnya telah menimbulkan kontroversi selama beberapa dekade dalam masyarakat Mesir yang konservatif.

Menteri Kebudayaan Mesir, Inas Abdel-Dayem, seperti yang dikutip dari AFP.com pada hari Selasa (23.03.2021), berduka atas meninggalnya Saadawi. Dia mengatakan tulisan sang novelis telah menciptakan gerakan intelektual yang hebat.

Lahir pada Oktober 1931 di sebuah desa bernama Delta Nil, Saadawi kemudian tumbuh dan belajar mengenai kedokteran di Universitas Kairo. Beliau bekerja sebagai psikiater dan dosen universitas serta menulis lusinan buku. Tidak hanya itu, beliau juga merupakan salah satu penulis paling populer di surat kabar Mesir.

Sebagai pembela hak-hak perempuan di Mesir dan dunia Arab pada umumnya, tulisannya berfokus terutama pada feminisme, kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan, serta ekstremisme agama. Beliau adalah salah satu individu yang berjuang paling keras dalam melawan gagasan tentang mutilasi alat kelamin perempuan di Mesir dan di seluruh dunia.

Ketika beliau menerbitkan bukunya yang berjudul “Women and Sex” pada tahun 1972, beliau menghadapi badai kritik dan kecaman dari berbagai kubu politik dan agama di Mesir. Tidak hanya itu, beliau juga kehilangan pekerjaannya di Kementerian Kesehatan.

Beliau pernah dipenjara selama dua bulan pada tahun 1981 sebagai bagian dari tindakan keras politik yang dilakukan oleh Presiden Anwar Sadat saat itu. Selama di penjara, Saadawi menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul “Memoirs from the Women’s Prison” menggunakan hanya gulungan tisu toilet dan pensil kosmetik dari dalam penjara.

Namun tidak menyerah, beliau terus menyuarakan keadilan bagi perempuan sebagai Kepala dari Asosiasi Solidaritas Wanita Arab, serta sebagai salah satu pendiri Asosiasi Arab untuk Hak Asasi Manusia.

Terlepas dari statusnya di antara kaum progresif di benua Arab, Saadawi memiliki sedikit ketenaran yang layak diterimanya dalam wacana Barat tentang Timur Tengah. Polemiknya terhadap posisi perempuan di Timur Tengah tercakup dalam analisis yang lebih luas tentang peran yang dimainkan oleh imperialisme Barat dan struktur kelas masyarakat Arab dalam memperkuat status kelas dua milik perempuan.

Tidak hanya itu, beliau juga sangat kritis terhadap penjajahan Israel atas tanah Palestina.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i