Praktik kerja paksa masyarakat Muslim etnis Uighur di Cina

Xinjiang merupakan kawasan terbesar di Cina, menghasilkan sekitar seperlima dari kapas dunia. Di atas kertas, Xinjiang termasuk wilayah otonom. Tapi pada kenyataannya, kawasan tersebut menghadapi pengekangan yang kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Jutaan orang etnis Uighur, yaitu kelompok minoritas Muslim di Cina yang secara budaya dan etnis lebih dekat ke Asia Tengah, merupakan penduduk di Xinjiang. Etnis Han, yaitu kelompok mayoritas di Cina, dalam beberapa dekade terakhir menerapkan migrasi massal ke Xinjiang sehingga memicu ketegangan dengan orang-orang Uighur, dan di beberapa kasus berkembang menjadi konflik yang memakan korban jiwa.

Hal ini mengakibatkan operasi keamanan besar-besaran dan munculnya program pengawasan dari pemerintah pusat yang meluas. Menurut para kritikus dan ahli dalam keadilan dan kemasyarakatan, apa yang tengah dilakukan oleh Cina merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia bagi masyarakat Uighur.

Cina membantah klaim-klaim tersebut dengan mengatakan kamp-kamp tersebut merupakan fasilitas ‘re-edukasi (pendidikan ulang)’ yang bertujuan untuk mengangkat masyarakat Uighur dari kemiskinan, sedangkan sebagian klaim yang dituduhkan benar adanya demi memerangi separatisme dan terorisme.

Namun begitu, banyak orang Uighur ditahan di kamp-kamp, di mana banyaknya kecaman mengenai penyiksaan, kerja paksa, hingga pelecehan seksual.

Perusahaan retail ternama dunia, Nike dan H&M, kini terancam pemboikotan dari Cina. Ancaman tersebut diutarakan usai keduanya menuding bahwa kapas Xinjiang merupakan hasil praktik kerja paksa terhadap Muslim etnis Uighur. Kedua perusahaan sempat menyatakan keprihatinan atas isu tersebut, dan menolak membeli kapas Xinjiang sebagai bentuk penolakan terhadap praktik kerja paksa.

Tidak hanya pemerintahan Beijing, ancaman serupa pun diagungkan publik Negeri Tirai Bambu. Sejumlah selebriti terlah memutus kontrak dengan kedua perusahaan tersebut. Dan tidak hanya itu, banyak platform e-commerce juga tidak mau ketinggalan. Mereka beramai-ramai mencabut semua produk Nike dan H&M.

Media-media pemerintah Cina membuat kampanye yang membela kapas produksi dari Xinjiang dan mengkritik pernyataan dua brand kenamaan tersebut.

Dilaporkan oleh BBC, media otoritas Cina, CGTN, mengunggah video di Weibo untuk menunjukkan ‘keadaan asli’ dari proses pemetikan kapas di salah satu ladang di Xinjiang, yang juga merupakan mesin. Mereka ingin meyakinkan publik bahwa tak ada praktik kerja paksa seperti yang dituduhkan oleh otoritas global. Di dalam video tersebut, tampak pula pengakuan dari seorang petani Uighur yang mengatakan bahwa banyak orang berusaha keras agar bekerja di sana demi memperoleh upah tinggi.

Banyak bukti kuat dari hasil investigasi oleh awak media BBC yang agaknya sulit disangkal Tiongkok. Pada Desember 2020 lalu, mereka turun langsung ke lokasi untuk membuktikan kebenaran isu tersebut.

Mereka menemukan adanya bukti yang kuat bahwa Cina telah memaksa ratusan hingga ribuan suku minoritas, meliputi Muslim etnis Uighur, untuk menjalani kerja paksa di lapang kapas di area Xinjiang. Pandangan itu didasarkan pada sejumlah dokumen penelitian yang ditemukan oleh BBC yang menunjukkan adanya praktik kerja paksa di perkebunan kapas.

Tidak hanya itu, dugaan praktik kerja paksa yang serupa juga terjadi di sejumlah pabrik tekstil di wilayah yang sama.

Selain itu, salah satu awak mereka juga turun langsung ke distrik Xinjiang guna membuktikan klaim dan dokumen yang mereka temukan. Mereka menemukan banyak pabrik yang dibangun di wilayah Xinjiang. Beberapa dibangun di dalam tembok kamp atau di dekat bangunan-bangunan tersebut.

Dugaan makin menguat ketika peneliti independen mengklaim, banyak orang yang tampak mengenakan baju seragam berwarna senada, lantas berjalan dalam barisan di antara bangunan tersebut.

Cina telah berulang kali menepis kabar negatif terkait kamp-kamp yang dihuni oleh suku minoritas di Xinjiang. Mereka mengklaim bahwa area itu merupakan lokasi pendidikan ulang. Adapun sejumlah pabrik tekstil di Xinjiang tersebut, menurut klaim mereka, adalah bagian dari ‘program besar pengentasan kemiskinan’ yang diikuti secara sukarela alias tanpa paksaan.

Namun, beberapa hasil investigasi BBC mengungkap hal berbeda. Setiap tahun sekitar setengah juta buruh dari kaum minoritas diduga telah digiring dengan paksa untuk memanen tanaman kapas. Dokumen yang dianggap bukti baru itu adalah kompilasi surat-surat kebijakan pemerintah yang ditemukan di internet dan sumber berita media milik otoritas internal Negeri Panda tersebut.

Penemuan itu memaparkan pada tahun 2018, pemerintah kota Aksu dan Hotan telah mengirim 210 ribu pemetik kapas lewat skema transfer tenaga kerja untuk organisasi paramiliter negara, Xinjiang Construction and Production Corps. Bahkan tanpa bukti tersebut, keberadaan kamp-kamp re-edukasi di wilayah Xinjiang dengan sendirinya telah menguatkan adanya praktik kerja paksa.

[ . . . ]

© the Islamweb.site
— editor: farras fil’azis

s u m b e r   r e f e r e n s i