Ma’ruf Amin ungkap 1 sebab banyak negara Muslim tertinggal

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebut salah satu akibat banyaknya negara berpenduduk Muslim mengalami ketertinggalan di berbagai bidang adalah pola pikir yang sempit. Hal tersebut dianut oleh masyarakat hingga para dai yang harusnya menjadi panutan para umat.

Pernyataan ini ia sampaikan saat Web Seminar Nasional 2021 yang digelar IKADI (Para Pengurus Ikatan Dai Indonesia) dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia) dengan tempa Peran Dai Dalam Diradikalisasi Paham Keagamaan di Indonesia.

Karena kondisi itulah, ia mengingatkan agar pada dai bisa tetap meneladani cara pikir Rasulullah (SAW) yang berpikiran terbuka dan moderat. Sebab jika hanya berpegang pada cara pikir sempit, justru bisa menghambat dan kontra produktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam.

▸ “Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk Muslim masih mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek, dan bidang lainnya,” kata Ma’ruf Amin saat menyampaikan sambutannya, hari Minggu (04.04.2021).

Ma’ruf Amin tidak menampik saat ini banyak tantangan yang mesti dihadapi para dai. Tantangan itu bersifat kompleks lantaran semakin banyaknya masalah yang juga muncul. Menurut beliau, persoalan dan tantangan itu menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan keamanan, bahkan persoalan yang menyangkut pemahaman agama itu sendiri.

Oleh karena itu, menurut beliau, sudah semestinya bahwa semua umat Islam, khususnya para dai, dapat meneladani Nabi Muhammad (SAW) yang selalu mengedepankan pola pemikiran terbuka. Menurutnya, cara berpikir merupakan kunci utama dari maju atau mundurnya sebuah peradaban. Dan tentunya, cara berpikir yang diajarkan oleh Rasulullah (SAW) adalah pemikiran terbuka, dinamis, moderat, tetap dalam koridor, dan tidak ekstrem.

Dia pun mengingatkan agar para dai bisa meneladani cara berpikir Rasul dan tidak ikut dalam arus berpikir sempit, seperti fenomena yang muncul belakangan ini. Salah satu contoh pola pikir sempit berkaitan dengan ketidakpercayaan soal munculnya COVID-19. Berpikiran sempit juga adalah mempercayai teori-teori konspirasi tanpa mencoba untuk memahami fenomena dengan akal sehat atau melalui ilmu pengetahuan.

▸ “Cara berpikir sempit juga merupakan salah satu penyebab munculnya sifat egosentris, tidak menghargai perbedaan pendapat, serta tidak mau berdialog,” kata beliau.

Tidak hanya itu, pola pikir sempit juga dapat melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama, atau bahkan menjadi radikal sehingga dapat menjurus pada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

▸ “Contoh paling aktual dari cara berpikir radikal terorisme yang menyimpang itu adalah peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada tanggal 28 Maret 2021,” kata beliau.

Tindakan itu tentunya sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebab Islam tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak di dalam dakwahnya. Bahkan, Islam memperjuangkan aspirasi melawan ketidakadilan.

▸ “Islam justru mengajarkan cara-cara santun, dan dilakukan dengan cara-cara nasihat yang baik, serta berdialog dengan cara-cara yang terbaik,” katanya.

[ . . . ]

© the Islamweb.site
— editor: farras fil’azis

s u m b e r   r e f e r e n s i

komentar dan diskusi 👋🏼

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s