Poros Partai Islam, cita-cita atau angan-angan belaka?

Wacana mengenai Poros Partai Islam muncul setelah pertemuan petinggi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Wacana ini menimbulkan polemik, terutama di kalangan parpol Islam sendiri.

Sejumlah partai politik sudah mulai ancang-ancang menghadapi Pilpres (pemilihan presiden dan wakil presiden) 2024. Beberapa di antaranya melakukan kunjungan ke partai lain.

Pada hari Rabu (14.04.2021), jajaran DPP (Dewan Pimpinan Pusat) PPP bertandang ke kantor PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Seusai pertemuan, Koalisi Poros Partai Islam diwacanakan oleh mereka.

Wacana kerja sama antara beberapa partai Islam untuk memperoleh suara dalam parlemen ini menuai pro dan kontra di antara partai islam yang jumlahnya tidak sedikit.

Partai Amanat Nasional.

Juru bicara PAN (Partai Amanat Nasional), Viva Yoga Mauladi, menyatakan bahwa partainya tidak ikut dalam wacana tersebut. Namun di sisi lain, wacana itu disambut baik oleh Ketua Umum PBB (Partai Bulan Bintang), Yusril Ihza Mahendra, walaupun diakuinya bahwa tidaklah mudah untuk merealisasikan wacana tersebut. Tidak hanya itu, Wakil ketua Umum DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), Jazilul Fawaid atau Gus Jazil, berharap agar poros partai Islam tidak hanya berhenti sebagai wacana saja.

Lembaga Survei Indonesia.

β–Έ “Poros Islam yang terdiri dari parpol-parpol Islam secara teoritis mungkin terbentuk karena ada empat partai Islam yang memiliki kursi di parlemen. Empat parpol ini menguasai sekitar 30 persen kursi DPR, cukup untuk modal mencalonkan presiden,” ujar Direktur Eksekutif LSI (Lembaga Survei Indonesia), Djayadi Hanan, kepada SINDOnews{link}, hari Sabtu (24.04.2021).

Djayadi menjelaskan bahwa minimal tiga dari parpol-parpol tersebut harus bersatu agar memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden.

β–Έ “Tapi ini tidak mudah, karena PAN dan PKB tampaknya lebih suka bekerja sama dengan parpol nasionalis seperti PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan Golkar (Partai Golongan Karya),” jelas Djayadi.

Dia kemudian menambahkan bahwa Poros Islam juga mungkin terbentuk apabila ada capres (calon presiden) yang cukup kuat terpilihnya dan mampu mengangkat suara parpol-parpol Islam tersebut. Menurutnya, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Sandiaga Uno selama ini dikenal memiliki pendukung yang kuat di kalangan parpol Islam.

β–Έ “Jadi bisa saja parpol Islam bersatu kalau mereka mencalonkan salah satu dari nama bakal capres tersebut,” ungkapnya.

Namun begitu, ia juga menjelaskan bahwa formula yang paling mungkin menang selama ini adalah penggabungan antara parpol Islam dan nasionalis.

“Kalau hanya parpol Islam saja yang bersatu, mungkin sulit untuk menang. Harus digabungkan dengan parpol yang lebih nasionalis. Dengan demikian, meski pun terbentuk, poros Islam tetap memerlukan minimal satu partai nasionalis untuk menjadi kompetitif memenangkan pertarungan Pilpres 2024,” jelas Djayadi.

Indo Barometer.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, berpendapat bahwa ide Poros Islam merupakan sesuatu yang bersifat romantik.

β–Έ “Sudah dibayangkan oleh banyak tokoh partai Islam semenjak dulu, tetapi pada kenyataannya sulit diwujudkan karena partai-partai ini satu sisi memang memiliki, katakanlah kesamaan ya ideologinya atau konstituennya itu Islam. Nilai-nilainya Islam, tetapi sesungguhnya mereka di antara satu dengan yang lain sering kali juga berkompetisi, terutama yang memang akarnya sama,” jelas Qodari.

Ia menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang tradisional dan namun juga modern. Namun begitu, tampaknya banyak partai yang hanya mengusung salah satu dari kedua aspek tersebut. Ia menjelaskan bahwa partai-partai Islam yang tradisional begitu kental dengan tradisi lokal, seperti halnya NU (Nahdlatul Ulama) serta PKB dan PPP.

β–Έ “Yang kedua, Islam modernis yang orientasinya itu kepada pemurnian ajaran Islam yang menurut mereka memiliki bentuk asli, turunannya kan pada saat ini ada PKS, PAN, organisasinya Muhammadiyah. Lalu kemudian sekarang muncul Gelora dan Partai Ummat. Jadi sebetulnya antar PKS dan PAN sulit ketemu karena mereka notabenenya memperebutkan segmen yang sama,” tutur Qodari.

Ia kemudian menyandangkan bukti bahwa elite PAN sudah menyatakan tidak akan ikut bergabung dalam koalisi Poros Partai Islam tersebut, dan menyebutkan konsep poros tengah atau Poros Islam di tahun 1999 lalu sebagai sebuah nostalgia yang sulit diulangi, atau sesuatu yang tidak relevan lagi di kondisi sekarang.

Namun begitu, ia tidak kehilangan harapan, bahwa tidak tertutupnya kemungkinan partai-partai Islam bersatu dikarenakan oleh suatu momentum atau peristiwa yang nyata. Ia pun menyebut nama-nama populer seperti Anies, Ahok, hingga Rizieq Shihab.

β–Έ “Misalkan kalau menemukan tokoh yang mau diusung sama-sama. Jadi mungkin saja, menurut saya itu pun tidak akan mutlak atau semua partai Islam berbasis massa Islam berkumpul di sana, pasti nanti ada yang memilih calon yang lain, katakanlah calon dari nasionalis.”

Sudut Demokrasi Riset dan Analisis.

Namun di sisi lain, Direktur Eksekutif SUDRA (Sudut Demokrasi Riset dan Analisis), Fadhli Harahab, menilai bahwa Koalisi Poros Partai Islam hanyalah sebuah angan-angan.

β–Έ “Hanya angan-angan. Apalagi melihat fragmentasi masing-masing Parpol yang cenderung memiliki kepentingan yang lebih besar atas golongannya ketimbang kepentingan koalisi yang berdasarkan pada Poros Islam itu sendiri,” jelas Fadhli.

Sebab, menurutnya, terlalu banyak perbedaan di internal parpol Islam itu sendiri, mulai dari irisan geografis, pemahaman, hingga kondisi sosial dan budaya. Dirinya menilai bahwa perbedaan di internal itu bisa saja memicu perpecahan yang berakibat meruncingnya politik aliran di internal parpol Islam.

β–Έ “Saya kira sejarah telah membuktikan bagaimana sulitnya mempersatukan parpol Islam menjadi sebuah poros yang kuat dan menentukan. Alih-alih bersatu, wacana poros Islam hanya akan menjadi marketing politik kelompok Islam tertentu untuk kepentingan politik jangka pendek,” pungkasnya.

[ . . . ]

Β© the Islamweb.site
β€” editor: farras fil’azis

s u m b e rΒ  Β r e f e r e n s i

komentar dan diskusi πŸ‘‹πŸΌ

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s